Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
318. Tatapan Ipar Dan Bapak Mertua


__ADS_3

"Ada ibu dan bapak di luar, aku malu kalau sampai besok cara jalanku aneh. Bisa tunggu sampai mereka pulang tidak?" Pinta Dewi kepadaku. Sepertinya aku harus menahan puasa beberapa hari lagi. Aku menganggukan kepala. Tidak baik kalau sampai memaksa dia. Bukankah lebih enak kalau kita mau sama mau? Lagi pula ini adalah pengalaman pertamanya.


"Tentu saja tidak apa-apa. Kita bisa nunggu ibu dan bapak pulang. Jadi nggak akan khawatir kalau kamu berteriak, Mbak." Aku tertawa, sedangkan dia menarik tangannya dan menutup wajahnya.


"Kenapa sih kamu bicara kayak gitu. Aku malu," ucapnya tidak menurunkan kedua tangan itu dari wajah.


"Eh, aku nggak salah lo bilang kayak gini, Mbak. Maaf soalnya aku kan sudah pengalaman jadi, kayaknya untuk urusan kita nanti aku nggak tahu bisa pelan atau enggak. Aku ini udah puasa lama, loh," ucapku lagi. Senang sekali rasanya mengganggu dia.


"Ih, kalau gitu aku nggak mau, ah. Takut." nada suaranya terdengar manja, membuatku ingin menerkamnya saja kali ini.


"Nggak mau, takut, tapi nanti kalau udah ngerasa malah nagih loh." Aku mendekatkan diri dan mencium keningnya, dia masih betah aja menghalangi wajahnya dengan telapak tangan.


"Mbak, turunin dong tangan kamu. Aku jadi nggak bisa lihat wajah kamu loh mbak." Perlahan dia menurunkan tangannya sangat pelan sekali sehingga rasanya Aku gemes ingin menurunkannya dengan cepat dan bisa melihat wajahnya dengan leluasa.


"Jangan panggil aku Mbak. Sekarang aku ini istrimu, Mas."


Aku terdiam, menatap dia dengan tidak percaya. Rasa haru menyeruak di dalam hati, padahal bukan kali ini saja aku dipanggil Mas, tapi kenapa rasanya berbeda? Dipanggil mas oleh istri sendiri memang sangat membuat bahagia sekali.


"Panggil aku Dewi saja. Meski usiaku lebih tua dari kamu, tapi sekarang ini aku adalah istrimu. Panggil nama aku seperti kemarin, Mas," pintanya.


Kutangkupkan kedua telapak tanganku pada pipinya, menarik wajahnya lebih dekat lagi. Dia tidak berontak, tidak juga mendorong ku. Mendapatkan kesempatan seperti ini, aku menempelkan bibirku pada bibir tipisnya.


Dewi menutup kedua matanya, dia hanya diam saat aku mengecup bibirnya dengan lembut, kurasakan tubuhnya yang kini membeku. Mulut itu tidak dia buka, seakan aku berpikir mungkin dia tidak pernah melakukannya.


Aku menjauhkan wajahku darinya. "Apa kamu tidak pernah berciuman sebelumnya?" tanyaku pada Dewi. Dia menundukkan pandangannya dan menggelengkan kepala.


Ada rasa bahagia tersendiri saat mengetahui hal ini. Aku menjadi pria pertama baginya. "Nggak apa-apa, lain kali juga pasti bisa," ucapku padanya yang kini masih menunduk malu.


"Ini sudah malam tidur yuk, Sayang." Dewi semakin menundukkan pandangannya, tapi dia mengangguk pelan.


Kami berbaring bersisian, masih mengenakan pakaian lengkap kami. Ini memang malam pertama, tapi bukan berarti juga jika malam pertama harus melakukannya bukan? Tunggu waktu yang tepat hingga sampai kondisi membaik dan kami bisa melakukannya dengan bebas.


***


Pagi menjelang, aku yang baru saja tidur tengah malam terkejut saat mendapati di luar sana sudah sangat terang. Aku melihat jam yang ada di HP, ini sudah siang dan seharusnya aku sudah berangkat ke pabrik.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim."


Dewi juga ikut bangun saat mendengarku. Dia juga sama terkejutnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di luar sana, di balik tirai matahari sudah terlihat sangat terik.


"Aku kesiangan, Wi. Aku harus pergi ke pabrik," ucapku dengan cepat berdiri.


"Kamu sudah terlambat, Mas?"


"Iya, aku sudah telat nih, semoga aja jalanan gak macet." Aku memutuskan untuk tidak mandi, karena memang sudah terlambat 15 menit dari seharusnya aku berangkat bekerja. Sisir aku lihat ada di atas meja ku bawa ke depan lemari, cermin yang ada di sana memperlihatkan jika pakaianku saat ini sangat kusut sekali. Rasanya jika pun pulang tidak akan sempat. Ini saja sudah terlambat.


"Ah, gawat baju aku kusut!" Lebih kepada bergumam kesal. Dewi bangun dan mengambil setrika dari laci bawah meja.


"Mas cuci muka sana. Aku setrika dulu bajunya," pinta Dewi dan aku mengangguk mengiyakan. Baju kemeja putih aku buka dan menyerahkannya kepada Dewi kemudian mengambil handuk yang ada di sana dan pergi ke kamar mandi.


Bapak dan Mas Wahyu sedang berada di dapur saat aku melewati mereka sambil setengah membungkuk, masuk ke dalam kamar mandi, mencuci muka dan berkumur-kumur dengan cepat, serta melakukan rutinitasku setiap pagi. Kembali kaki ini aku langkahkan keluar dari kamar mandi. Pandangan dua orang itu terlihat aneh menatapku.


"Pak, Mas. Duluan," pamitku sambil membungkuk dan mengangguk. Mereka hanya membalas dengan anggukan kepala juga.


Dalam kamar Dewi sudah selesai menyetrika pakaianku.


"Kamu mau bekal nasi nggak biar aku siapkan?" tanya Dewi kepada ku.


"Tidak akan sempat, Wi. Aku sudah kesiangan banget. Pergi dulu ya, tolong bilangin sama ibu sama yang lainnya, maaf aku nggak pamit aku udah kesiangan," ucapku lalu mengecup bibirnya. Dia hanya diam terpaku menatapku lalu tangannya memegangi bibir tipisnya itu.


"Biasakan. Rutinitas setiap pagi," bisikku di dekat telinganya. "Aku berangkat ya, assalamualaikum," pamitku. Dan aku dengar jawaban salam dari dia dengan sangat pelan.


Keluar dari rumah itu, untungnya semalam motor juga di parkir di sini. Sedikit menyesal karena tidak bertemu dengan ibu dan juga Vita pagi ini, tapi mau bagaimana lagi Aku sudah sangat kesiangan sehingga kuputusan saja untuk langsung pergi ke pabrik.


Benar-benar hari yang tidak bisa diduga. Aku sendiri tidak menyangka dengan kehidupan yang seperti ini. Istri sudah punya, anak juga sudah punya, untuk kedepannya aku harus selalu semangat dalam menjalani hidup. Percaya saja kepada Allah yang maha kuasa, dzat yang memberikan rizki kepada hambanya yang mau berusaha. Semua pasti ada jalannya, dan kita tidak boleh hanya berdiam diri dan menunggu saja.


***


Sudah jelas-jelas aku terlambat sampai di pabrik, sepuluh menit setelah bel berbunyi. Seseorang datang dan menyuruhku untuk menghadap atasan. Biasanya memang seperti itu jika ada pengawas yang datang terlambat.


Aku pergi ke ruangan lain, di sana seseorang bertanya, kenapa sampai aku terlambat masuk. Sedikit bingung juga untuk menjawabnya, apakah mereka akan menerima alasan jika aku terlambat bangun karena kesiangan?

__ADS_1


"Kenapa sampai masuk siang begini? Pak Hilman itu seorang pengawas loh, kalau pengawasnya saja datang seenaknya gimana sama bawahannya. Kalau mereka ikut-ikutan terlambat masuk juga, mau bagaimana sama pabrik kita ini? Semua pekerjaan pasti terbengkalai. Memangnya pak Hilman mau bertanggung jawab atas kerugian yang pabrik ini dapatkan kalau karyawannya seperti itu?"


"Ingat semboyan kita, jangan sia-siakan waktu. Jika satu orang menyiakan waktu satu menit saja, terus sepuluh orang yang lain mengikuti, bukannya kita sudah kehilangan waktu sepuluh menit? Terus kalau Pak Hilman terlambat sepuluh menit, berapa banyak waktu yang sudah disia-siakan? Kalau yang lain juga ikut-ikutan Pak Hilman seperti ini?" tanya wanita kurus itu kepadaku dengan sedikit emosi. Padahal sifat aslinya tidak ada galak-galaknya sama sekali. Hanya dengan urusan pekerjaan saja dia seperti ini.


Aku yang duduk di hadapannya hanya menundukkan kepala. Sadar dengan kesalahanku kali ini. Memang namanya pengawas harus menjadi panutan bagi para bawahannya.


"Sebelumnya saya minta maaf Bu, saya terlambat bangun."


"Ha? Terlambat bangun? Kok bisa? Bukannya biasanya Pak Hilman yang suka datang paling pagi. Tumben banget kayak pengantin baru aja bangun kesiangan," ucapnya dengan kesal.


Aku menggaruk belakang kepalaku sambil berguman pelan. "Memang saya pengantin baru."


"Hah? Apa? Jadi Pak Hilman ini sudah menikah lagi?" Dia bertanya setengah berseru sehingga membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh ke arah kami.


"Asli itu pak Hilman sudah nikah lagi?" tanya wanita itu lagi dengan menatapku penuh tanya. Aku tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Wah, selamat kalau begitu! Kenapa Pak Hilman tidak mengambil cuti saja kalau memang mau menikah?" tanya wanita itu lagi sambil mengulurkan tangannya untuk memberiku selamat, tapi yang aku sesalkan dia berbicara dengan sangat keras sehingga kini orang-orang yang ada di ruangan ini datang dan mendekat ke arah kami.


"Selamat atas pernikahannya Pak Hilman, kenapa sebelumnya tidak kasih undangan?" tanya seseorang yang lain. 


"Selamat ya, semoga sakinah mawadah warohmah. Kenapa Pak Hilman tidak ambil cuti? Kasihan dong sekarang istrinya ditinggal di rumah," ucap salah satu wanita yang ada di sana.


"Nikahnya juga dadakan kok, kemarin datang ngobrol sama bapaknya, malamnya disuruh langsung ijab, jadi gak ada rencana dari lama," ucapku malu.


"Ha? Kok bisa? Gimana ceritanya itu?" tanya yang lain dengan heran.


"Hei, ini jam kerja. Kalau mau minta cerita nanti, jam istirahat!" ucap wanita yang tadi memarahiku.


"Iya, Bu Din. Siap. Nanti Pak Hilman ya, di kantin cerita, heeum. Saya traktir, pokoknya cerita!" Wanita muda usia di bawahku itu keukeuh. Aku hanya mengangkat jempolku tanda setuju.


Hari ini seharusnya aku mendapatkan surat peringatan, tapi karena kabar berita tentang pernikahanku barusan, membuat wanita yang tadi memarahiku urung memberikan surat peringatan tersebut.


"Kado dari saya nanti menyusul ya. Ingat besok-besok jangan sampai kesiangan lagi. Hari ini Pak Hilman saya maafin, kalau sampai besok terlambat lagi jangan harap bisa mendapatkan maaf dari saya!" ucap wanita itu sambil memberikan telunjuknya ke arah wajahku.


Aku menganggukan kepala dan tersenyum malu seraya mengucapkan kata terima kasih kepada mereka semua yang telah memberikan ucapannya dan doanya kepada kami.

__ADS_1


__ADS_2