
"Aduh kasihan. Mbak, kasihan Gara, Mbak!" Risma menatapku.
Aku bingung sebenarnya, berharap bisa menghindari Arga malah sekarang terjebak dengan keadaan ini, dimana kini Gara sedang duduk di pangkuanku. Dia tersenyum senang dan makan dengan lahap. Wajahnya yang tadi sembab kini tidak terlihat lagi.
Kami makan di lantai paling atas gedung mall ini. Di sebuah tempat foodcourt yang sudah banyak pengunjung. Kami duduk di dekat jendela. Gara yang memilih tempat ini, katanya agar bisa makan sambil melihat mobil di luar. Nyatanya, kini dia makan dengan membelakangi jendela karena ingin duduk bersama denganku,
Gara dengan lahap makan ayam tepung krispi dengan bahagia, terlihat ceria tidak seperti tadi. Risma juga sama. Dia makan dengan lahap seperti Gara, sesekali dia minum dan kembali memakan makanannya, sedangkan Arga hanya diam dengan kedua tangan yang saling bertautan di depan wajah, sikunya tertopang pada tepian meja. Arga yang duduk di sebelah Risma menatapku, eh, jangan kepedean. Ada anaknya di pangkuanku. Jangan terlalu pede jika dia memang menatapku. Anaknya. Ya, dia hanya menatap anaknya!
Kamu juga makan dong, Yu," ucap Arga membuat aku menoleh kepadanya.
"Eh? Iya?"
"Kamu, makan!" ucap Arga lagi.
"Oh, iya. Nanti aku akan makan kalau Gara sudah selesai makan," ucapku.
"Gara. Sini sama Papa. Biar Tante Ayu makan dulu," ujar Arga dengan menggerakkan tangannya ke arah Gara. Akan tetapi Gara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia malah memeluk aku dengan erat.
"Dak mau!" seru Gara. Dia mengerucutkan bibirnya hingga pipinya menggembung.
"Gara ...."
"Sudah, Ga. Biarkan saja. Lagian aku juga belum terlalu lapar, nanti saja makannya di rumah sama Ibu," ucapku. Arga mengangguk dengan wajah merasa bersalah.
"Kamu makan saja, lagipula Gara juga sudah tenang," ucapku padanya. Arga kini mengambil makanan yang ada di depannya, masih utuh karena sedari tadi belum dia sentuh sama sekali, tapi hanya dia tarik saja, lalu dia jauhkan kembali hingga ke tengah meja.
Aku dan Risma menatapnya dengan bersamaan. "Kenapa?" tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja. Aku juga belum terlalu lapar," ucapnya. Aku kembali menyuapi Gara, mencoba untuk tidak peduli terhadapnya.
"Enak!" seru Gara sambil menggoyangkan kakinya k edepan dan ke belakang. Tubuhnya bergoyang seiring gerakan kaki.
__ADS_1
"Kalau begitu makan yang banyak." Aku membujuknya. Dia menganggukkan kepaa hingga rambutnya bergerak naik dan turun.
Suasana di luar sana semakin temaram, langit senja kini menyemburatkn warna lembayung yang indah. Cahaya matahari yang hampir tenggelam melukiskan warna yang indah di awan.
"Tante. Aaaaa!" Aku tersentak saat Gara memanggilku dan membuka mulutnya dengan lebar. Warna indah lembayung sore yang jarang sekali aku nikmati, kini malah berkesan bagiku karena aku berada di sini.
Ah, ya ampun. Apa yang aku pikirkan? Warna lembayung dimana-mana ya sama saja. Soal berkesan itu hanya perasaan kamu saja, Yu!
Aku kembali menyuapi Gara hingga makanan habis tak bersisa.
Kami berjalan ke luar dari mall itu, Arga menggendong Gara yang kini tengah mengantuk. Matanya sudah merah, tapi dia berusaha untuk tetap membuka matanya. Tangannya sedari tadi memegang tanganku hingga aku terpaksa berjalan bersisian dengan Arga. Gara tidak mau melepaskan aku, takut jika aku pulang katanya.
"Gara, Tante lang dulu, ya?" pamitku pada anak itu. Dia menggelengkan kepalanya. Aku menatap pada Arga dan juga Risma.
"Gara, Tante Ayu harus pulang, ini sudah malam, Nak." Arga mencoba memberi pengertian pada sang putra, tapi lagi-lagi anak itu menggelengkan kepalanya.
"Dak mau. Garrlla mau sama Tante Ayu!" seru anak itu marah.
"Gara ...."
Tangis Gara semakin menjadi-jadi saat sang ayah mencoba untuk melepaskan tangan mungil anaknya.
"Aduh, Mas. Jangan dipaksakan. Kasihan Gara!" Risma menahan tangan Arga yang memaksa melepaskan tangan Gara dariku.
"Kasihan Gara, jangan dipaksakan. Dia bisa gak bisa tidur nyenyak nanti," ucap Risma khawatir.
"Garlla dak mau Tante pulang!' teriak tangs Gara. Suasana di basemen yang tenang kini menggema denngan sara tangis anak ini.
Wajah Gara memerah karena menangis dengan kuat. Arga anya bisa mengelus dan menepuk punggung sang putra. Dia terlihat bingung.
"Aduh, maafkan ya, Yu. Tidak biasanya Gara seperti ini. Dia biasanya baik," ucap Arga bingung. Gara masih menangis tikda mau melepaskan tanganku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, nanti juga dia akan baikan," ucapku.
"Gara. Gara anak yang baik, kan?" tanyaku padanya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Dak, Garlla bukan anak baik," jawabnya. Aku menoleh bingung pada Arga dan juga Risma. "Garlla gak akan jadi anak baik kalau gak tidurl sama Tante!" sambungnya lagi.
"Eh?" Tak sadar aku melebarkan mataku, mendengar ucapan anak berusia lima tahun ini. Ih, kok bisa dia bilang begitu? Lucu sekali dia bilang tidak akan jadi anak yang baik.
"Garlla mau bobok sama Tante!" serunya, kini tangis yang tadi sedikit reda kembali menggema.
Kami sempat di buat pusing karena ulah anak ini, entah dia sedang manja atau memang sedang rewel, tapi Gara tidak mau berhenti menangis.
"Yu, bisa minta tolong?" tanya Arga padaku.
"Minta tolong apa?" Aku balik bertanya.
"Itu ... Aku ada satu permintaan. Sampai Gara tidur. Bisa kamu dan Risma ikut ke dalam mobil kami?" tanya Arga padaku. Aku menatap bingung pada Risma. Risma menganggukkan kepalanya.
"Iya aja, Mbak. Kasihan Gara kalau menangis terus." Meskipun memang benar kasihan, tapi aku masih bingung dengan keadaanku sekarang ini.
"Gak akan apa-apa, Mbak. La wong keluar juga bareng sama aku," ucap Risma. Eh, dia tau apa yang aku pikirkan?
Akhinrya kami berjalan menuju mobil Arga berada, ternyata tak jauh dari tempat motorku berada.
"Maaf, ya. Nanti aku akan antar kalian lagi kesini dan mengantar pulang ke rumah," ucap Arga tak enak hati. Aku dan Risma serta Arga ada di kursi penumpang. Gara kini sedang rebahan di pangkuanku. Dia kini tidak lagi menangis, malah sedang asyik dengan ponsel milik ayahnya.
"Gak apa-apa, Mas. Santai aja, lagian juga kita juga seneng Gara sudah gak nangis lagi." Risma tersenyum seraya mengusap kaki Gara yang ada di pangkuannya.
Arga tersenyum ke arah Risma.
"Gara! Tante Ayu pulang, ya?" Kini pria itu bicara dengan anaknya. Mencoba membujuk dia sekali lagi.
__ADS_1
"Dak!" seru Gara, tapi pandangannya tidak dia alihkan dari benda pipih di tangannya.
"Ya sudah lah, Ga. Sampai Gara tidak rewel lagi, daripada dia nanti nangis," ucapku. Arga kini tersenyum ke arahku dan mengucapkan kata terima kasih, lalu tubuhnya dia putar untuk melajukan kendaraannya keluar dari basement.