Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
196. Bertemu Seorang Wanita


__ADS_3

"Apa kalian sudah selesai?" tanya seseorang dari ambang pintu. Aku menoleh dan terlihat Arga ada di sana. Dia sedang menyandarkan dirinya dan tersenyum ke arah kami.


"Aku belum pakai serrllagam, Papa!" ucap Gara dengan berseru.


Arga mendekat dan mengambil seragam yang ada di atas kasur. "Kenapa dengan Mama Ayu? Apa kamu nakal sehingga membuat Mama menangis?" tanya Arga menatap putranya.


"Aku tidak nakal!" Protes Gara, dengan memanyunkan bibirnya.


"Bukan, Papa. Mama hanya terlalu senang. Gara anak yang sholeh dan pintar," ucapku kepada Arga.


"Memangnya ada apa? Apa yang Papa tidak tahu? Kenapa Mama sampai nangis?" tanya Arga kemudian duduk di sampingku. Dia menggerakkan tangannya meminta Gara untuk mendekat ke arahnya. Satu persatu pakaian dia pakaikan pada tubuh putranya.


"Tidak tahu Garrlla juga bingung, tapi Garrlla nggak nakal kok" ucap anak itu dengan polosnya.


Arga telah selesai memakaikan pakaian kepada Gara. Semua sudah siap. Kami turun ke lantai bawah untuk sarapan.


Aku sangat senang sekali melihat Arga dan Gara makan dengan sangat lahap. Pun dengan anak itu yang kini makan sendiri tanpa harus disuapi.


"Nah begitu kan bagus, anak jagoan. Makan sendiri jangan disuapi," ucap Arga kepada putranya.


Gara tersenyum dan meringis. Dia tidak berbicara dan melanjutkan kembali sarapannya.


Selesai sarapan kami berangkat. Arga akan mengantarkan kami ke sekolah terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke kantornya. Gara tersenyum senang dan setengah berlari ke arah mobil meninggalkan kami berdua.


"Gara jangan lari nanti kamu jatuh, Sayang!" teriakku khawatir pada sosok anak kecil yang kini menjauh.


"Tidak akan, Mama!" balasnya berteriak.


Aku sedikit mempercepat langkah kakiku. Takut jika anak itu tersandung dan jatuh. Akan tetapi, Arga menahan tanganku.


"Sudah jangan khawatir, biarkan saja dia," ucap suamiku.


Gara kini sudah masuk ke dalam mobil dan membuka jendela serta berteriak dari sana. "Ayo cepat, kenapa lama sekali!" teriaknya dengan lantang.


"Sabar. Biasanya juga tidak pernah seperti itu," ucap Arga kepada putranya. Gara hanya tersenyum dengan lebar sehingga memperlihatkan giginya yang berderet rapi.


"Kan harrlli ini ada mama Ayu yang menemani," ucap anak itu dengan senang. harga tertawa kecil.


"Kamu lihat dia, Yu. Gara sangat senang sekali dengan adanya kamu," ucapnya masih dengan tertawa.


"Iya. Aku juga senang mengantar Gara ke sekolah."


Kami sudah sampai di mobil. Arga membukakan pintu depan untukku, kemudian dia berjalan memutar setengah mobil setelah menutup pintunya.


"Ayo kita berangkat!" ucap Arga sambil menyalakan mobil.


"Let's go!" teriak Gara dari belakang.


Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah.


"Mama nanti menunggu sampai aku pulang, kan?" tanya Gara yang kini berdiri di sampingku. Kulihat wajahnya yang berbinar senang.


"Iya, Mama akan menunggu."


"Hore!" teriak Gara lagi.


"Tapi Gara pulangnya lama loh. Apa kamu mau menunggu selama tiga jam di sana?" tanya Arga yang meliriku dari tempatnya.


"Tidak masalah. Selama Gara senang kenapa tidak?" Aku tersenyum, menarik wajah Gara untuk aku cium pipinya.


"Papa itu kenapa sih? Kok kayak sirrllik aja!" cibir anak itu.

__ADS_1


Aku menahan tawa, bisa-bisanya Gara mengatakan hal seperti itu pada ayahnya, membuat Arga melirik kesal kepada sang putra.


"Bukannya iri, tapi kan kasihan Mama Ayu kalau menunggu kamu selama tiga jam di sana. Pasti akan sangat bosan, Gara!" ungkap sang ayah. Gara terlihat berpikir, bola matanya menuju ke atas.


"Iya juga, sih. Mama Ayu pulang aja nggak pa-pa deh!" ucapan anak itu lagi.


"Tapi nanti pulangnya jemput, ya!" serunya dengan tersenyum manis.


"Jadi nggak mau ditungguin?" tanyaku padanya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Nggak usah. Kasihan Mama, Mama istirrllahat saja di rrllumah pasang alarrllm, nanti jemput Garrlla!" seru anak itu.


Aku mengangguk menanggapi ucapannya. Baik sekali anak ini. Dulu aku mengira dia anak yang manja. Ternyata tidak sama sekali.


Kami sudah sampai di sekolah. Tidak lupa kami mencium tangan Arga bergantian.


"Kamu tidak mau aku antar pulang?" tanya Arga padaku sebelum aku membuka pintu.


"Tidak usah, bukannya kamu mau bekerja?"


"Iya sih, tapi aku bisa kok antarkan kamu pulang," ucapnya lagi.


"Aku bisa pulang pakai taksi saja. Lagian kalau kamu antar aku pulang jalannya kan tambah jauh. Lebih baik kamu pergi ke pabrik, cepat selesaikan pekerjaan kamu biar nanti siang kita bisa pergi ke dokter," ucapku padanya.


Arga tersenyum, dia mengusap kepalaku yang tertutup jilbab.


"Oke kalau begitu. Aku akan ke pabrik."


Aku hendak membuka pintu, tapi terhenti karena Arga yang berbicara kembali.


"Tunggu, Ayu. Ini buat kamu pakai," ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah dan sebuah kartu.


Aku masih terpaku, tidak lantas mengambil uang dan kartu yang dia berikan. Rasanya sedikit aneh karena sudah sekian lamanya aku tidak diberi uang oleh seseorang.


"Kenapa melamun? Ini ambil" ucap laki-laki itu mengambil tanganku dan menyimpan kedua benda tersebut.


"Di dalam sana cukup untuk kamu jika ingin berbelanja sementara menunggu Gara pulang," ucapnya lagi.


Aku mengganggukan kepala. "Iya, terima kasih."


"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, itu sudah kewajibanku." Dia tersenyum dan mendekat untuk mencium keningku.


Rasanya beberapa hari ini aku sedikit cengeng. Apa saja yang laki-laki ini perbuat membuat aku menjadi terharu. Ingin menangis karena bahagia.


"Mama pulang nanti kita jalan-jalan, ya!" Gara menyadarkan aku. Aku kira dia sudah keluar dari mobil tadi.


"Eh, iya. Mau kemana?" tanyaku.


"Ke mall!" serunya.


"Apakah boleh, Papa?" tanyaku pada Arga.


Arga mengangguk. "Tentu boleh, terserah kalian mau kemana, yang penting berhati-hati ya. Jangan lupa kabari Papa kalau mau pergi ke tempat lain," ucap Arga.


"Asiiik!" teriak Gara lalu mendekat ke arah kami dan mencium pipi Arga dan juga pipiku bergantian.


Aku tersenyum senang. Melihat kebahagiaan putraku membuat hati ini juga menjadi sangat senang sekali. Ya putraku. Sedari lama aku merasa sudah sangat dekat dengan gara sehingga sudah tidak tanggung lagi untuk mengakuinya sebagai putraku.


Aku dan Gara turun dari mobil, melambaikan tangan pada Arga yang sudah menyalakan mobilnya kembali.


"Nanti kalau sudah sampai di rumah kabari aku, ya!" teriak Arga padaku.

__ADS_1


"Iya!" aku balas berteriak.


"Dah Papa!" Gara pun sama.


Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, kemudian menjadi cepat saat sudah agak jauh dari kami.


"Yuk, Mama!" ajak Gara menarik tanganku masuk ke dalam area sekolahnya.


Kami berjalan masuk melewati gerbang, satpam menatap bingung denganku yang mungkin baru pertama dia lihat.


"Pak Satpam, ini Mama Garrlla!" ucap anak ini. Pria dengan seragam putih itu kemudian mengubah raut wajahnya dengan senyuman, mengangguk padaku dalam-dalam dan mengucapkan selamat pagi. Aku balas tersenyum dan melewatinya, mengikuti langkah kaki kecil Gara ke dalam sana. Beberapa orang menatap kedatangan kami, saling berbisik, sedikit terdengar mereka bertanya satu sama lain, siapa yang bersama dengan Gara. Aku tersenyum seraya menganggukkan kepalaku. Juga permisi karena melewati mereka.


"Ini kelas Garrlla!" seru anak itu saat kami sudah sampai pada satu bangunan kelas. Terlihat sangat menyenangkan sekali di dalam sana, berwarna-warni dengan kertas yang menggantung di langit-langit dan juga dinding. Kursi dan meja kecil serta papan tulis rendah ada di depan kelas. Karpet di lantai terlihat empuk dan aman untuk anak-anak.


Dulu aku pernah ke sini saat pertama kali bertemu dengan Gara di taman, tapi tidak sampai masuk ke dalam kelas sehingga aku tidak tahu sama sekali keadaan di dalam sana.


"Jam berapa Gara mulai belajar?" tanyaku padanya.


"Jam delapan."


"Oke, Mama akan menunggu sampai Gara belajar, baru Mama akan pulang," ucapku padanya. Gara mengangguk sehingga poninya bergoyang.


"Eh, Gara sama siapa ini?" Suara seorang wanita terdengar di dekatku. Aku menoleh padanya, wanita ini sangat cantik sekali dan elegan. Seorang anak kecil ada di dekatnya.


"Ini Mama Garrlla, Tante!" seru Gara dengan sangat senang memperkenalkan aku.


"Oh. Jadi ini Mama Gara? Wah cantik ya." pujinya, aku tersanjung karena tidak banyak yang memujiku.


"Terima kasih, saya mamanya Gara," ucapku menyodorkan tanganku.


"Saya Dini, mamanya Selvi," ucapnya, membalas jabat tanganku.


"Maaf ya, kemarin waktu acara pernikahan kalian saya tidak bisa datang. Saya sedang berada di luar kota," ucap wanita cantik itu.


"Ah tidak apa-apa. Lagi pula acaranya hanya sederhana," ucapku merendah.


"Sederhana apanya? Resepsi kalian sangat bagus sekali, saya melihatnya dari Story seorang teman. Indah dan meriah. Selamat ya," ucapnya sekali lagi.


"Oh iya, apakah Anda di sini sendirian?" tanya wanita itu lagi.


"Iya tadi suami saya yang mengantar, tapi setelah ini saya pulang sendiri."


"Untuk pertemuan pertama kita, bagaimana jika kita ngopi-ngopi dulu. Supaya kita bisa dekat. Sambil menunggu anak-anak pulang." Ajaknya dengan ramah sambil tersenyum.


Aku perhatikan wanita ini terlihat baik. Mungkin tidak ada salahnya juga jika menerima tawaran dia untuk mampir terlebih dahulu.


"Boleh saja. Tapi, saya harus memberi kabar terlebih dahulu kepada suami saya."


"Oh oke. Saya tidak akan memaksa jika Pak Arga tidak mengizinkan," ucapnya dengan raut wajah yang tidak enak.


"Gara, Selvi, masuk ke dalam kelas, Nak. tunggu ibu guru datang," perintah Dini kepada dua anak itu.


Gara dan Selvi menurut. Mereka berdua berpegangan tangan masuk ke dalam kelas. Aku melihat keduanya, sangat manis sekali. Tidak menyangka jika gara bisa bersikap manis seperti itu kepada anak perempuan.


"Mereka lucu ya. Kadang aku berpikir untuk menjodohkan mereka di masa depan," celetuk Dini sambil menatap keduanya yang kini duduk di bangkunya. Aku menatap wajah Dini yang cantik, dia tersenyum memperhatikan tingkah laku kedua anak kami.


"Itu hanya ideku saja. Syukur-syukur kalau mereka memang berjodoh," ucapnya sampai tertawa kecil menatap kepadaku.


Aku tersenyum. "Iya jika memang mereka jodoh pasti akan bersama di kemudian hari," ucapku.


"Hubungi suamimu dulu, apakah dia mengijinkan atau tidak? Aku akan protes kalau tidak mengijinkan," ucapnya membuat aku bingung dan jadi menerka punya hubungan apa mereka berdua ini?

__ADS_1


__ADS_2