
Bosan berada di kamar terus, kali ini aku memilih berjalan di luar. Arga tidak henti mengikuti langkahku, di belakang ada Mbak Sus yang dengan setia mengikuti langkah kaki kami dengan mendorong kursi roda di tangannya. Keringat dingin semakin lama semakin banyak di kening, aku biarkan saja mengalir.
Kaki yang lelah tidak aku rasakan, rasa sakit juga sudah tidak terlalu aku hiraukan, terus berjalan meski sesekali terdiam untuk merasakan kenikmatan tersebut.
"Yu, baring saja di kamar, ya?" tanya Arga yang kasihan melihatku. Aku menggelengkan kepala. Tidak ingin hanya tiduran Sajam Ibu dan dokter juga bilang jika banyak berjalan pelan akan membantu di saat melahirkan nanti.
Ibu terlihat terkantuk-kantuk di bangku panjang yang ada di luar ruanganku. Terlihat lelah dan sangat mengantuk, tapi menolak untuk berbaring di sofa kamar. Sesekali tersentak dan tersadar, bertanya apakah aku baik saja atau tidak. Aku jadi merasa bersalah karena mengabari ibu. Harusnya tidak dikasih kabar saja, dan beritahu nanti saat sudah lahir.
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam saat aku memutuskan untuk tidak bisa bertahan lagi. Rasa sakit itu sudah sangat membuat nikmat, hingga tanpa terasa kaki ku kini menjadi basah.
"Apa ini?" tanya Arga menatap lantai yang basah di bawahku, terkena pada sepatunya di lantai. Ibu dan Mbak Sus yang mendengar Arga mendekat.
"Itu sepertinya air ketuban, Mbak cepat panggil dokter!" teriak ibu. Mbak Sus dengan segera berlari ke ujung lorong, dan tak lama mereka kembali saat aku baru saja naik ke atas kursi roda. Sakit yang teramat sangat kini kembali aku rasakan. Baru saja akan menyerah, ternyata sudah keduluan oleh air ketuban. Akan tetapi, aku tidak merasakan hal yang aneh. Serasa tadi hanya ingin pipis dan tidak bisa aku tahan.
Kini dokter dan perawat membawaku ke ruang persalinan. Tidak ada hal yang aneh sehingga persalinan akan berjalan dengan normal. Tekanan darahku juga normal sehingga tidak dilakukan operasi sesar seperti yang pernah dokter katakan.
"Ibu akan tunggu di sini, ya. Kamu yang kuat di dalam, Nak." Ibu memegang tanganku erat.
Hampir sampai di ruangan bersalin, ibu melepaskanku. "Ibu gak ikut aku ke dalam?" tanyaku. Merasa kehilangan dengan sosok ibu yang kini melepaskan diri. Ibu menggelengkan kepala.
"Arga lebih berhak di dalam sana. Dia lebih bisa kuatkan kamu. Ibu mau solat malam dan doakan kamu, ya." Isak tangis ibu mulai terdengar. Ku lihat ibu menangis di sana dan tidak lagi mengikuti langkah kaki kami.
Sedih rasanya saat aku membutuhkan ibu, tapi ibu tidak ikut ke ruangan bersalin.
"Jangan khawatir, aku ada sama kamu," ucap suamiku sambil memegang tanganku dengan erat.
__ADS_1
Aku diangkat ke ranjang, kedua kaki ditempatkan pada tiang penyangga di kanan dan di kiri. Arga menungguku di dalam sini. Tangannya aku pegang dengan erat.
Rasa sakit terasa di bagian perut bawah, seakan sedang ada yang mendesak ingin keluar. Aku tidak tahan, akhirnya berteriak. Akan tetapi, lemas karena hilang tenaga setelah sekian menit aku berusaha untuk mendorong. Dokter memberi semangat, memberi instruksi apa yang harus aku lakukan. Menarik napas dan mendorongnya di dalam. Keringat membasah di wajah dan leher, rasa tak nyaman karena itu.
Susah payah aku mendorong, berteriak kembali saat rasa itu muncul lagi. Tangan Arga aku genggam dengan erat, mencari kekuatan dari sana.
"Kamu pasti bisa, Yu. Aku mohon, bertahanlah untuk anak kita," ucapnya. Terdengar nada tangis dari Arga saat mengucapkan itu. Aku menatapnya, air mata telah membasah di wajahnya.
"Sedikit lagi, Bu Ayu. Sedikit lebih kuat ya kali ini, ini kepalanya sudah terlihat diambang jalan keluar," ucap dokter itu dengan sabar.
Aku menarik napas lagi, mencoba mengumpulkan seluruh tenagaku dan terpusat pada perut.
"Arggh!!" Keras aku berteriak, merasakan rasa sakit pada tempat jalan lahir, seakan yang keluar dari sana merobek kulitku.
"Tarik napas, yuk. Sedikit lagi, Bu Ayu. Tarik napas, dorong!"
Aku mengikuti instruksinya. Tidak bisa menyerah karena bayi hampir keluar dari sana. Semakin bersemangat agar bisa bertemu dengan buah hatiku.
"Sedikit lagi, Yu. Kamu pasti bisa, Sayang!" Arga tak henti memberi semangat. Kini aku memeluknya, menggenggam belakang pakaiannya dan mendorong dengan sekuat tenaga.
"Alhamdulillah!" seru yang lain dokter dan asistennya. Bersamaan dengan itu aku merasakan sesuatu keluar dengan sangat lancarnya dan tidak bisa aku tahan lagi. Rasa lega di dalam hati dan juga di perutku. Tidak ada lagi sakit seperti tadi.
"Alhamdulillah, Pak Arga. Bayi nya sudah lahir. Laki-laki," ucap dokter lalu bayi merah dengan banyak lendir putih tersebut di baringkan tengkurap di atas perutku.
Aku menatapnya tidak percaya, melihat wajah yang sangat menawan, masih berkerut kulitnya. Tangis haru tidak bisa aku tahan lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Pa. Anakku," ucapku tercekat di tenggorokan. Akhirnya, selama ini menunggu kini aku bisa melihat buah hatiku sendiri. Aku memilikinya sendiri. Tanpa rasa jijik, ku cium kepalanya, dia hanya bergerak pelan, mencari-cari sesuatu dengan mulut yang terbuka.
Arga terdiam saat aku lihat, dia hanya menatap dengan terpaku pada sosok mungil yang aku usap punggungnya. Aku sedikit takut melihatnya seperti itu, dia tidak bergerak menatap bayi kami. Wajahnya tak ada ekspresi. Apakah dia tidak suka bayi kami laki-laki? Apa dia ingin bayi perempuan?
"Pa, anak kita." Tangannya aku guncangkan, dia tidak berbicara, tapi air mata kini mengalir di pipinya. Aku masih menunggu dengan dada yang berdebar.
"Alhamdulillah, akhirnya," ucap Arga setelah tersadar, dia mendekat dan mencium tangan mungil anak kami. Terlihat mungil sekali karena masih belum bulannya lahir. Arga menangis dan tak henti menciumnya juga mencium keningku dengan lamat sambil mengucapkan kata terima kasih. Aku lega ternyata pemikiran ku salah terhadapnya.
"Bayinya kami bersihkan dulu, ya, Bu. Permisi," ucap asisten kini mengambil bayi yang ada di atas perut ku. Serasa kehilangan dia karena dibawa pergi. Tak lama aku dengar tangisannya yang kencang.
"Bu Ayu, mengejan sekali lagi, boleh?" pinta dokter. Aku mengangguk dan menarik napas sekali lagi, sesuatu keluar lagi dari dalam perutku, menjadi serasa plong. Ku lihat buntalan daging berwarna merah, mungkin itu adalah ari-ari, tidak terlalu jelas juga karena hanya sekilas melihatnya.
"Tolong di adzan kan ya. Bayi akan kami bawa ke ruang inkubator setelah ini," ucap dokter membuat aku bingung.
"Bayi saya kenapa, Dokter?" tanyaku. Ada rasa takut mendengar dokter mengatakan bahwa putra kami akan masuk ke dalam inkubator.
"Tidak apa-apa, tapi bayi Bu Ayu lahir sebelum waktunya. Kami akan membawanya ke ruang inkubator dan melakukan peninjauan berkala. Memastikan jika bayi dalam keadaan sehat," ucap dokter itu lagi. Meskipun aku merasa takut, tapi jika hal itu untuk kebaikannya tidak apa-apa.
"Tenang saja, jika tidak ada masalah, besok sore kami bisa bawa bayi beserta inkubator ke ruangan Bu Ayu." Dokter tersenyum dengan ramah. "Silakan Pak Arga."
Suara lantunan Adzan dan ikomat terdengar dari Arga di dekat telinga putra kami. Setelah selesai Arga menyerahkan kembali bayi kami pada perawat dan membawanya keluar.
Arga mendekat ke arahku, kembali mencium wajah ini dengan senyuman senang bahagia.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu telah memberikan suatu hal yang berharga," ucaonya.
__ADS_1