Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
97. Tak Mau Jadi Baby Gula


__ADS_3

Aku turun dari dalam mobil dan segera membangunkan Risma. Anak itu ternyata cukup sulit untuk dibangunkan hingga aku harus beberapa kali mengguncang bahunya.


"Nanti, ini masih subuh!" igaunya.


Arga tertawa kecil melihat Risma yang menepis tanganku.


"Ris, kita sudah sampai di rumah, turun gak? Malu ini mobil orang!" Aku sedikit berbicara dengan keras.


"Nanti, Pak!"


Aku menatap Arga, bingung bagaimana cara untuk membangunkan Risma yang enggan bangun. Kini Arga yang maju, aku mundur untuk memberikan tempat bagi pria itu membangunkan Risma.


Tidak perlu dua kali untuk membangunkan anak itu, Risma langsung terbangun saat Arga mengguncang bahunya.


Ya ampun, anak ini. Kenapa giliran Arga dia bangun dengan mudah?


"Sudah sampai, Mbak? Kenapa gak bangunkan Risma? Kan malu malah di bangunkan sama Mas Arga!" ucapnya malu. Aku mendelik malas terhadapnya, sedangkan Arga tertawa kecil.


"Sudah bangunkan sejak tadi, tapi kamunya yang gak mau bangun," ucapku kesal.


"Tadinya saya gak mau bangunkan kamu. Gak tega rasanya, tapi kalau gak bangunkan, nanti di sangka culik anak gadis orang lagi," ucap Arga.


"Eh, padahal gak apa-apa kalau yang nyulik modelan Mas Arga gini. Gak keberatan, kok!"


Ya ampun. Risma ini ....


Aku mencubit pinggangnya hingga Risma meringis kesakitan. Arga tertawa melihat ke arah kami.


"Terima kasih sudah antarkan kami pulang. Biarkan motor disana saja, nanti aku yang bawa ke dalam rumah. Terima kasih ya, Pak," ucapku pada Arga dan sopirnya.


"Sama-sama. Maafkan juga karena aku kalian jadi pulang malam. Aku langsung pulang, ya. Gak enak kalau di lihat orang lain," ucap Arga. Aku mengangguk sedangkan Risma melambaikan tangannya saat Arga dan sopirnya masuk ke dalam mobil.


"Lain kali ketemu lagi ya, Mas!" seru Risma saat mobil itu mulai melaju meninggalkan kami. Arga tersenyum ke arah kami. Aku balas dengan anggukkan kepala.


Ku pukul lengan Risma yang masih melambai di udara sedangkan mobil itu sudah jauh dari kami.


"Sudah, orangnya juga gak ada!" cercaku. "Kamu pulang, ini sudah malam."


"Iya. Mbak, Mas Arga ganteng, ya Mbak! "

__ADS_1


"Hem, terus? Kamu mau sama dia? Nanti Mbak bantuin deket dengan Arga," ucapku seraya mendekat ke arah motor.


"Ih, enggak Mbak. Risma gak mau sama Mas Arga, usianya terlalu jauh sama Risma! Nanti kalau kita jalan orang kira Mas Arga Papa Gula gimana? Atau malah Risma yang disangka Baby Gula?" tanyanya.


Aku menoleh kepadanya mendengar istilah yang baru aku dengar itu.


"Apa tuh Papa Gula? Baby Gula?" tanyaku kepo!


Risma menyenggol lenganku kasar. "Waah, Mbak Ayu kudet, deh. Gak pernah baca novel online kayaknya ini! Itu tuh istilah buat Sugar Daddy dan Sugar Baby, Mbak!" serunya. Aku hanya melongo mendengar penjelasannya. Memang sudah cukup lama aku di dunia kepenulisan, tapi aku tidak tahu dengan istilah Papa Gula atau Baby Gula, kalau sugar daddy dan sugar baby sih aku tahu sejak dulu.


"Oh ...."


"Cuma, oh, aja?" tanya Risma kesal. "Banyakin baca deh, Mbak. Seru loh novel online, apa lag itu tuh yang judulnya 'SUAMIKU MENIKAH TANPA IZINKU', greget aku bacanya! Rasanya pengen deh bejek-bejek tuh suaminya yang menikah lagi dan gak bisa adil sama istrinya!" ucap Risma dengan gemas.


"Seru banget deh, Mbak. Masa ada ya, laki yang katanya cinta sama istri pertma, eh ... istri kedua dia embat juga sampai bunting. Dan lagi tuh ya, ibu mertua dia ... Hihhh!!! Pengen tuh di aaargghh!" Risma menggerakkan ke sepuluh jarinya bergerak seperti sedang meremmas sesuatu dengan gemasnya.


"Amit-amit, deh punya ibu mertua yang seperti itu!" ujar Risma kesal. Aku hanya tertawa mendengar dia mengatakan itu. Jika dia tahu penulisnya aku bagaimana, ya?


"Sudah lah, kamu pulang ini sudah malam," ucapku pada Risma.


"Jangan kebanyakan baca novel online apalagi cerita rumah tangga seperti itu. Kamu kan belum nikah," peringatku. Risma hanya tersenyum malu.


"Risma pulang dulu ya, Mbak. Terima kasih sudah antarkan Risma!" serunya, aku mengangguk sebagai jawaban sebelum Risma beranjak.


"Eh iya, Mbak. Kok Risma lupa." Risma kembali setelah mendapatkan dua langkah.


"Apa?" tanyaku.


"Itu, tadi kan Risma yag mau traktir, ini kan malah Mas Arga yang traktir," ucap gadis itu tak enak. Dia mengeluarkan uang dari tasnya dan menyodorkannya padaku.


"Buat ganti bensin," ucapnya malu.


"Eh, gak usah." Ku dorong tagannya, menolak pemberian Risma.


"Loh, kok gak usah?"


"Gak usah, kan Mbak sekalian jalan-jalan juga," ucapku padanya.


"Ih, Mbak kok gitu. Kan Risma jadi gak enak."

__ADS_1


"Sudah gak apa-apa. Buat jajan kamu aja. Mbak bensin masih ada kok. Lagian Mbak juga bisa sambil cuci mata," ucapku lagi sambil tersenyum.


"Risma, soal kita ketemu sama Arga, jangan billang sama siapa-siapa, ya." pintaku padanya.


"Loh, kenapa?" tanya Risma bingung.


Aku menggelengkan kepala. "Gak enak aja sama yang lain kalau lihat atau dengar kita diantar pulang sama laki-laki malam-malam," ucapku.


"Ohh," kepalanya mengangguk. "Iya, siap!" ujar Risma.


Risma merasa tak enak hati karena aku menolaknya. Akhirnya anak itu pulang dan aku memasukkan motorku ke dalam garasi.


"Kamu baru pulang?" tanya Ibu saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.


"Iya, Bu. Ibu belum tidur?" Aku balik bertanya.


"Nunggu kamu, kok pulang lama banget, Ibu khawatir ada apa-apa dengan kalian," ujar Ibu.


"Gak ada apa-apa kok, Bu. Biasa kalau lagi di tempat belanja betah, gak mau pulang," ujarku seraya tertawa. Ibu hanya menggelengkan kepala. Semoga Ibu tidak bertanya lebih lanjut.


"Ibu sudah makan?" tanyaku.


"Sudah. Ibu sudah makan, kamu tidur sana. Ini sudah malam," ucap Ibu.


"Iya," jawabku.


Kami pergi ke kamar masing-masing.


Aku merebahkan diri di atas kasur setelah membersihkan diriku. Rasanya lelah, tapi senang juga perasaan hati ini. Mungkin karena beberapa bulan ini aku hanya monoton tinggal di rumah dan tak ada aktifitas ke luar. Rasa hati senang dan ringan.


Jam di dinding terdengar berdetak di antara malam yang sunyi, Suaranya terdengar jelas tanpa ada suara lain yang mengiringi. Sesekali tedengar suara cicak yang entah ada di mana.


Aku masih belum bisa tidur. Pertemuan tak sengaja tadi dengan Gara ternyata mempertemukan aku lagi dengan Arga. tak menyangka juga jika Arga adalah ayah dari anak itu. Jujur saja aku merasa tidak nyaman.


Kata-kata Arga tadi membuatku tak bisa berpikir dengan baik.


Dan aku harap kamu juga tidak berubah. Tetap lah menjadi Ayu yang kuat seperti yang aku kenal dulu.


Apa dia sedang memberiku support? Atau ...

__ADS_1


Ah, tidak. Jangan geer!


__ADS_2