Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
216. Tingkah Ayu Yang Aneh


__ADS_3

Kami tidak jadi menonton film tersebut, pasalnya sebentar lagi malam akan tiba. Kami juga meninggalkan Gara dengan tanpa pamit kepadanya, takut jika anak itu mencari-cari keberadaan kami berdua. Bagaimana kalau dia menangis? Aku jadi kepikiran juga dengan anak itu.


Sepanjang dalam perjalanan aku tidak berbicara banyak, lebih kepada memendam rasa ingin marah dan juga sangat kesal karena tidak dapat menonton film tersebut.


Ya ampun kenapa rasanya aku seperti anak kecil saja? Aku benar-benar ingin menonton film tersebut!


Rasanya ingin menangis juga, padahal itu hanya sebuah film yang suatu saat akan bisa kita lihat juga di layar HP.


"Kenapa cemberut terus sih?" tanya Arga sambil mencolek pipiku. Aku menepiskan tangannya, merasa sebal dengan perlakuannya. Entahlah, padahal hari ini dia membawaku bersenang-senang berbelanja banyak, tapi karena aku tidak bisa menonton film aku jadi merasa sangat kesal kepadanya.


"Marah nih, ceritanya?" tanya dia lagi kepadaku.


Aku masih diam. Tidak melirik dia sama sekali.


"Nanti deh kapan-kapan kita pergi lagi ke bioskop, kita cari film yang tayangnya siang, oke?"


Aku melirik ke arahnya dia berbicara dengan bersungguh-sungguh, tersenyum dengan singkat lalu kembali berfokus kepada jalanan di depannya.


"Kamu janji lain kali?" tanyaku kepada dia meminta kepastian, ya harus seperti itu. Jangan sampai dia ingkar janji padaku.


"Iya tentu saja lain kali, sekarang juga kan ini sudah hampir malam, Gara pasti juga sedang mencari kita."


Aku menurut saja kepadanya. Meskipun rasanya sebal dan kesal tapi aku yakin jika dia tidak akan ingkar janji kepadaku.


Arga melajukan mobil ini dengan kecepatan sedang, jalanan semakin ramai karena banyak orang-orang yang pulang pada hampir Maghrib. Sepertinya mereka sudah lembur, atau ada beberapa beberapa perusahaan yang membuka pekerjaannya dari jam 6 pagi sampai jam 6 malam. Semakin lama suasana di jalanan itu semakin ramai saja dan membuat jalanan menjadi sesak serta sesekali macet. Aku sedikit tidak suka dengan kemacetan, sedari dulu membuat aku sesak dengan polusi yang ada.


Aku sudah lama tidak mengendarai mobil di tengah-tengah macet seperti itu sehingga rasanya perutku menjadi sedikit tidak enak, mual ketika aroma asap knalpot dan lain-lain menyeruak ke dalam hidungku.


Susah payah aku menahan gejolak di dalam diri ini agar tidak muntah di dalam sini. Rasanya tentu akan sangat tidak nyaman dan juga menjijikan melihatnya.


Tidak sampai satu jam lamanya kami telah sampai di depan rumah, Gara seperti biasa menyambut kami dengan berlari dari arah dalam rumah. Dia memeluk kakiku dengan erat.


"Mama dan Papa pergi ke mana saja?" tanya anak itu saat harga sudah sampai di sampingku.


"Kami sudah berbelanja," Arga menjawab pertanyaan putranya.


"Kenapa lama sekali? Aku juga tidak diajak," protes anak itu dengan mencebikkan bibirnya.


"Ini tadi mendadak, tidak direncanakan juga. Tolong panggilkan Mbak, suruh mereka angkat belanjaan ini semua ke dalam," ucap Arga meminta tolong kepada putranya itu.


Gara selalu dengan senang hati tersenyum dan kemudian berlari ke dalam rumah. Anak itu berteriak dengan sangat keras memanggil pengasuh serta asisten yang lain.


Tidak berapa lama dua asisten datang dan membantu membawakan beberapa belanjaan kami.


Aku pergi ke dalam kamar, untuk membersihkan diriku. Rasanya sedikit tidak nyaman setelah bepergian jauh hari ini. Sebenarnya tidak jauh juga, tapi ini adalah kegiatan yang cukup menguras tenaga. Jujur saja mungkin karena aku sudah lama tidak berolahraga maka berjalan sebentar saja dan mengangkat barang belanjaan menjadi aktivitas yang lumayan berat.


Selesai mandi aku seperti biasa merias diri di depan cermin, semenjak hidup bersama dengan Arga, aku jadi sering memperhatikan diriku sendiri. Itu karena dia yang meminta. Saat pertama kali rasanya terasa aneh juga. Sebelumnya aku hanya merawat diriku sendiri di rumah, tapi kali ini bergaul dengan adik dari papa membuat aku juga lebih memiliki pertemanan yang luas. Iya, meskipun terkadang aku merasa tidak cocok dengan mereka, karena seperti suaminya, para istri pun mencoba untuk berbisnis di luar rumah. Beberapa kali aku menemani bibi untuk acara arisan yang diadakan oleh ibu-ibu dari istri pengusaha ternama di kota ini.


Sebenarnya Arga tidak memaksaku juga untuk mengikuti kegiatan bibi, tapi aku merasa tidak enak hati jika menolak keinginannya. Dia sudah berbaik hati mengajakku dan memperkenalkanku ke dunia yang luas. Banyak hal yang aku pelajari dari mereka, juga dari pengalamanku sendiri. Banyak dari mereka yang ditinggalkan oleh para suami, mereka tahu jika suami mereka mempunyai wanita idaman lain di luar, maka dari itu mereka berdandan gila-gilaan dan menghabiskan banyak uang suami untuk kecantikan diri mereka sendiri.


Sampai saat ini aku masih belum mau melakukan hal yang seperti itu. Hidup sederhana bagiku adalah hal yang terpenting. Meski rasanya hal itu kini menjadi sedikit sulit karena Arga, yang terus-menerus menyuruhku untuk menghabiskan uangnya. semakin aku banyak berbelanja, semakin banyak dia memberikanku uang.


Aku membubuhkan krim malam kepada wajahku. Benda ini masih terhitung murah daripada milik para ibu-ibu sosialita yang membeli make up dengan harga selangit. Berbeda denganku yang mengasih menggunakan make up harga orang-orang biasa.


Wangi aroma sesuatu tercium dari luar kamar, aku merasa penasaran dengan wangi tersebut, rasanya manis dan sepertinya gurih membuat perut ini terasa lapar. Aku berpikir sejenak dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang biasa serta jilbab pendek. Kemudian dengan cepat keluar dari kamar untuk mencari aroma wangi tersebut. Sampai pada sebuah meja di ruang makan, kulihat ada sebuah kotak. Saat aku mendekat ke arah kotak itu benar saja aroma yang wangi tersebut keluar dari sana.


Aku tidak tahu kotak ini milik siapa, dan kenapa ada di sini, wangi aromanya membuat aku sangat berselera sekali.

__ADS_1


Melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun di ruangan ini. Keadaan rumah sangat sepi. Aku mencari-cari seseorang, ingin bertanya itu kotak milik siapa. Akan tetapi, kenapa tidak ada orang sama sekali di sini?


Dengan langkah yang perlahan aku mendekat kembali ke arah kotak itu, sedikit membukanya dan mengintip apa isinya. Tidak ada yang aneh, itu hanya kue. Dari aromanya aku mengira itu adalah kue ketan hitam dengan potongan pisang yang ada di atasnya.


Aku melirik kembali ke arah kanan dan kiri, ke sekeliling rumah yang ada hanya kesepian belaka.


Aku akan menunggu saja, tidak baik jika tiba-tiba mengambil makanan orang tanpa permisi.


Kaki ini aku langkahkan menjauh dari benda tersebut, karena aku sangat takut sekali jika tanganku tidak bisa aku kontrol dan malah membuat kacau semua yang ada di sini.


Sayangnya, niat dan juga keinginan itu adalah dua hal yang berbeda. Niatku ingin menunggu seseorang yang datang, tapi keinginanku mengalahkan segalanya, sehingga aku kembali berbalik dan mendekat ke arah kotak tersebut.


"Ini siapa yang punya? Aku minta sedikit ya!" seruku entah kepada siapa, aku tujukan kalimatku tadi kepada orang pemilik kotak ini. Aku mengambil pisau yang ada tidak jauh dari wastafel, memotong kue tersebut dengan ukuran yang kecil, mungkin hanya setipis satu cm. Ini bukan milikku aku juga hanya ingin meminta sedikit saja. Semoga saja orang yang punya tidak akan marah.


Kue yang wangi dengan aroma yang menggoda tersebut aku hantarkan ke dalam mulut. Sedikit demi sedikit karena aku tidak ingin melewatkan momen kenikmatan tersebut. Rasanya sayang jika makanan enak itu dengan cepat begitu saja masuk ke dalam tenggorokan.


Aku sudah menghabiskannya satu potong, rasanya jika memotongnya sedikit saja lagi tidak akan masalah bukan?


Kue tersebut aku potong lagi sebesar yang tadi, lalu dengan perlahan-lahan aku menikmatinya sambil menggoyangkan kaki ini di bawah kursi. Aku ingat, jika Gara memakan makanan yang sangat enak dia akan melakukan hal yang seperti ini juga, menggoyangkan kedua kakinya di bawah kursi.


Rasanya masih ingin satu potong lagi. Aku melirik ke kanan dan kiri kembali, mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah. Masih tidak ada siapa-siapa di sana. "Tumben sekali tidak ada orang," Aku bergumam, masih mendapat ke sekeliling tetapi tangan memotong kue tersebut. Dengan tenang dan tanpa rasa takut kembali menikmati makanan tersebut ke dalam mulutku.


Rasa perpaduan ketan hitam dan pisang meleleh di mulut. Aku suka kue ini karena sangat lembut, manisnya juga pas tidak berlebihan. Pisang yang ada di atasnya aku ambil satu persatu lalu aku masukkan ke dalam mulut.


Em ... rasanya sangat enak sekali. Di mana ada yang menjual kue seperti ini? Aku ingin.


"Ayu, apa yang kamu lakukan!" seru suara dari belakangku. Aku menoleh masih dengan mulut penuh kue. Suamiku berjalan dengan langkah yang cepat dan mendekat ke arahku. Dia memperhatikan kotak kue yang sudah aku buka.


"Kuenya enak, kamu mau?" tanyaku kepada suamiku.


Aku menggelengkan kepala masih sambil mengunyah kue yang ada di dalam mulut, penuh karena aku memasukkannya lagi dan lagi. Kue tersebut sangat enak sehingga aku sepertinya ketagihan.


"Ya ampun Ayu, kamu jangan makan makanan sembarangan ini punya orang!" ucapnya lagi dengan raut muka yang bingung.


"Memangnya ini punya siapa?" tanya aku masih santai, kembali aku memotong kue tersebut yang tanpa sadar hampir menghabiskan setengah lingkaran kue tersebut sendirian.


"Ini punya Mbak Nuri, untuk menjenguk tetangga yang sedang sakit," ucap Arga terlihat menggaruk belakang telinganya. Dia merasa sangat bersalah, sedangkan aku merasa biasa saja.


"Kamu itu kenapa sih, Yu? Nggak biasanya aneh seperti ini, tahu nggak?" ucap suamiku. Dia menarik kursi yang ada di sampingku dan duduk di sana.


"Aku nggak papa, aku aneh dari mana?" tanyaku dengan bingung. Tanggung sekali dengan kue yang ada di tanganku. Aku memasukkan makanan itu kembali ke dalam mulutku, rasanya memang sangat nikmat ketika di makan berlama-lama. Perlahan-lahan mengunyah nya dan merasakannya di atas lidah.


"Kamu tuh aneh nggak biasanya seperti ini. apa kamu sakit?" tanya Arga kembali sambil menempelkan punggung tangannya pada kening ku.


Aku melirik Arga dengan kesal. Satu hari ini sudah berapa kali dia bilang aku sakit. Padahal aku tidak merasa sakit sama sekali. Aku hanya membiarkannya saja, tidak menanggapinya dengan ucapan, biarkan saja laki-laki itu menerka. Orang sehat kok dibilang sakit!


"Tapi keningnya nggak panas," ucapnya dengan bingung.


"Ya aku memang nggak sakit ya nggak bakalan panas lah," ucapku dengan malas. Makanan yang ada di tangan sudah habis, sekali lagi aku memotong kue tersebut, kali ini ukurannya aku perbesar.


"Ayu hentikan. Ini milik orang lain," ucapnya seraya menahan tanganku yang akan memasukkan makanan ke dalam mulut.


Aku menatap Arga dengan kesal. Menarik tanganku dengan kasar lalu memasukkan makanan itu dan menikmatinya. Tidak ada satu orang pun yang bisa menghalangiku makan kue yang enak ini.


"Astaghfirullahaladzim. Ini kue punya orang lain kamu mau habiskan?"


Aku tidak menjawab hanya tersenyum menanggapi kata-katanya. Lagi dan lagi mulutku menerima makanan manis tersebut dengan sangat nikmatnya.

__ADS_1


"Nanti kalau kamu habis tinggal ganti ini saja ya. Soalnya aku mau. Nanti kamu yang gantikan saja sama Mbak Nuri," ucapku dengan tidak peduli. Arga sampai mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat kue yang ada di hadapanku semakin lama semakin sedikit.


Seseorang dari kejauhan datang dan mendekat ke arah kami. Dia terpaku di depan meja makan, menatap kotak yang kini ada di hadapanku, isinya sudah berkurang hampir setengah.


"Ini punya Mbak Nuri kan ya?" tanya Arga menunjuk pada kotak yang ada di hadapanku.


"Iya Pak, itu memang milik saya," ucap wanita itu menatap nanar kepada kue yang sedang ada di tanganku.


"Mbak Nuri maaf sekali ya. Tadi aku lihat dan aku panggil-panggil nggak ada orang yang datang. Kok rasanya aku ingin sekali ya makan ini," ucap ku lalu memasukkan sepotong besar kue tersebut ke dalam mulut.


Wanita itu tersenyum dengan terpaksa, menarik kedua sudut bibirnya ke samping.


"Ya tidak apa-apa silakan nikmati saja, nanti saya akan membuat yang lain saja lagi," ucap wanita itu dengan senyum kaku di bibirnya.


Arga terlihat tidak enak hati kepada wanita itu, sedangkan aku yang biasanya banyak berperasaan kini malah menjadi tidak peduli. yang terpenting lidahku merasakan nikmat makanan ini.


"Maaf ya, Mbak Nuri. Saya minta maaf atas kelakuan dari Ibu Ayu. Ini untuk mengganti kerugian pembuatan kue tersebut," ucap Arga seraya dia merogoh dompetnya dan mengeluarkan uang tiga lembaran seratus ribu kepada Nuri.


"Eh Pak ini kebanyakan, biaya membuatnya juga nggak sampai seratus ribu," ucap wanita itu menolak uang yang Arga berikan.


"Sudah tidak apa-apa ini ambil saja. Kalaupun lebih pakai saja untuk jajan yang lain," ucap suamiku memaksa.


Mbak Nuri menganggukkan kepalanya dan kemudian menerima uang tersebut. Dia tidak lagi menolak.


"Jadi ini Mbak Nuri yang bikin sendiri?" tanyaku kepadanya. Aku baru tahu jika dia pintar membuat kue. Karena selama aku berada di sini wanita ini hampir tidak pernah memasak sama sekali. Ya, mungkin juga karena ada asisten khusus memasak.


"Iya sebenarnya ini hobi lama sih, sudah lama nggak buat. Kemarin cuma iseng bikin lagi, buat Ibu Nur, tetangga kita yang sedang sakit keras," ucap wanita itu. Aku mencoba mengingat siapa di sini yang nama Bu Nur?


"Bu Nur yang mana?" tanya aku kepadanya.


"Itu loh Bu, yang rumahnya paling ujung dari sini, yang warna catnya itu ijo," ucap wanita itu lagi sambil menunjuk ke arah di kejauhan sana.


Aku mencoba mengingat, tapi aku yang aku tangkap di dalam ingatanku adalah wanita yang suka bergosip saat ada penjual sayur yang lewat.


"Yang itu bukan?" tanyaku kepada Mbak Nuri.


"Bukan kalau itu rumah yang sebelahnya. Yang saya maksud itu loh yang kalau setiap pagi jualan pecel," jawabnya sekali lagi.


Aku menganggukkan kepalaku dengan mengerti. Jika rumah itu aku jelas tahu, tapi orangnya aku tidak mengenal dia sama sekali. "Oh memangnya beliau sakit apa?" tanyaku sedikit penasaran, sambil kembali memasukkan makanan itu ke dalam mulut, rasanya semakin enak dan enak.


"Kemarin jatuh di kamar mandi sih, Bu. Kepalanya terbentur dia juga punya riwayat darah tinggi, jadi tubuhnya mati rasa sebelah, stroke," ucap Nuri sekali lagi.


Aku mengangguk paham. Pernah beberapa kali memakan pecel yang dia buat dan rasanya memang enak sekali.


"Kalau begitu saya permisi ya Bu, Pak, saya mau pamit untuk melihat keadaan oma." Mbak Nuri pamit kemudian pergi ke belakang. Sebelum dia menghilang dari pandanganku aku memanggilnya kembali.


"Besok bisa buatkan saya kue yang seperti ini? Saya minta tolong," ucapku kepada wanita itu. Dia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum mengatakan jika dia bisa. Bahan-bahan yang dia beli juga masih ada cukup untuk membuatkanku. Aku tersenyum karena besok masih bisa memakan makanan lezat tersebut.


"Ayu kamu ini aneh!" ucap suamiku kembali.


Aku tidak peduli, mengambil potongan terakhir kue yang ada di dalam kotak dan menghantarnya ke mulutku. Rasanya sangat enak sekali, sehingga aku bisa mengabaikan tatapan aneh dari suamiku.


Arga terdiam menatapku yang masih makan. dia terlihat menelan salivanya dengan susah payah. Tatapannya tidak dialihkan dari sepotong terakhir kue yang ada di tanganku. Dia semakin mendekatkan dirinya kepadaku, Tangannya yang satu terulur untuk menggapai makanan yang ada di tangan. Aku segera menjauhkannya dari jangkauan Arga.


"Boleh aku minta sedikit?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum meringis.


"Tidak boleh, makanan sudah habis!" ucapku sambil memasukkan semua ke dalam mulut, membuat Arga berdecak dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2