Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
240. Cinta Tulus Untuk Gara


__ADS_3

Aku dan Gara memperhatikan dengan seksama kajian yang ada di layar hpku, sulit jika aku menjelaskan sendiri kepada anak kecil ini, takut jika nanti dia tidak percaya maka dari itu sengaja aku memutar video tentang apa yang Gara bahas tadi.


Sungguh, mengasuh Gara selama ini bukan hanya Gara saja Gara yang belajar, tapi dengan tanpa sadar aku juga ikut belajar tentang apa yang terjadi dan juga bagaimana aku harus bersikap. Aku mengerti bagaimana menjadi seorang ibu, aku mengerti bagaimana mengenal lebih baik suamiku, dan aku juga mengerti tentang banyak ilmu dengan tanpa aku sadari dengannya.


Gara memperhatikan dengan seksama kajian dan dalil serta ayat yang disebutkan ustadz tersebut. Dia diam memperhatikan, begitu juga aku. Dengan seksama mendalami apa yang ada di sana sampai tanpa sadar aku menangis karenanya, karena situasi yang ada dan juga karena mengingat jika hidup itu hanya sementara. Bagaimana jika nanti aku ....

__ADS_1


"Abang gak mau nanti Mama sampai meninggal!" ucap Gara sambil menubruk tubuhku dan memeluk erat.


"Mama harus kuat, Mama harus selamat. Jangan sampai Mama tinggalin dedek sama Abang juga!" seru anak itu membuat aku terdiam. Nasib tidak akan ada yang tahu bagaimana ke depannya. Aku hanya mengusap kepala Gara dengan lembut. Harus kuat hati ini, harus kuat jiwa ini, jangan sampai aku lemah dan membuat semua yang sayang kepadaku menjadi sedih.


"Insyaallah, Abang. Doakan semoga semua menjadi hal yang baik, ya. Mama ingin Abang mulai dari sekarang banyak berdoa, untuk kebaikan kita semua. Bantu doa untuk Ibu Haifa, bantu juga doa untuk Mama dan dedek bayi, oke?" pintaku sambil mencium puncak kepalanya. Gara mengangguk dan memeluk semakin erat.

__ADS_1


Perih rasanya hati ini mendengar dia bicara seperti itu. "Kok Abang mikir gitu? Abang gak percaya kalau selama ini Mama sayang banget sama Abang?" tanyaku.


Dia menggelengkan kepalanya. "Percaya, cuma Abang dibilangin temen aja. Dia bilang biasanya kalau punya dedek bayi ibunya akan lebih sayang sama dedek bayi, apalagi Abang cuma anak tiri." Tangis anak itu semakin kencang, bahunya naik turun dengan cepat. Isakannya terdengar menyedihkan.


Sungguh sedih rasanya hati ini, meskipun iya aku memnag ibu tiri, tapi cinta dan sayangku pada Gara tulus aku berikan kepadanya.

__ADS_1


Ku raih kedua pipinya dengan telapak tangan, ku ciumi wajah yang telah basah oleh air mata itu di banyak tempat. "Gak akan. Meski Mama hanya ibu tiri, tapi Mama gak akan pilih kasih sama Abang maupun dedek nanti. Abang tetap anak pertama Mama. Jangan anggap Mama ini Mama tiri, meskipun iya Mama gak lahirkan Abang, tapi bisa kan Abang anggap Mama ini seperti ibu kandung sendiri? Jangan dengarkan kata orang lain. Yang rasain Abang sendiri. Bagaimana Mama selama ini sama Abang? Mama sangat sayang sekali sama Abang." Pintaku meyakinkannya.


Gara tersenyum dalam tangisnya, mengangguk dengan cepat dan kini memeluk leherku dengan erat. Tangisan dia yang rindu akan orang yang melahirkannya serta tangisku yang sedih dan juga bahagia karena dia akhirnya mengerti akan ketulusanku. Semoga saja selamanya dia tidak akan meragukan aku lagi.


__ADS_2