Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
41. Pertengkaran Di Depan Umum


__ADS_3

"Ayu. Itu Mas Hilman kan?" tanya Diana kepadaku. Aku hanya diam tidak menjawab atau mengangguk untuk hanya sekedar menjawabnya.


"Sama siapa dia?" tanya Diana kepadaku.


"Kamu salah lihat kali, Di." Aku mencoba mengalihkan perhatian Diana. Tidak ingin dia tahu apa yang menjadi permasalahan di dalam rumah tanggaku, apalagi dia belum menikah, takut jika dia menjadi trauma.


"Enggak ah, aku gak salah lihat! Itu bener Hilman. Sama siapa dia? Kok mesra banget? Gak mungkin kan kalau itu saudaranya?" tanya Diana lagi kepadaku. Bahkan, Diana kini berdiri untuk melihat kedua orang itu dengan jelas.


"Bener, itu Hilman!" serunya hingga membuat beberapa orang menatap ke arah kami.


Aku menarik tangan Diana untuk kembali duduk. Pandangan beberapa orang yang lain sudah tidak enak bagiku.


"Ayu itu siapa yang sama Hilman?" tanya Diana lagi kepadaku. Aku bingung mau menjawab apa.


Dari sudut mata ini terlihat sekali kalau Mas Hilman dan Hana saling menyuapi satu sama lain. Terlihat sangat mesra dengan senyum bahagia yang mengembang di bibir keduanya.


Tanpa terasa air mata ini menetes tidak aku sadari. Perlakuan keduanya itu membuat hatiku ini terasa tercubit dengan keras. Mas Hilman yang katanya tidak mencintai dia, kini mereka berada di depanku ini terlihat sangat bahagia, seperti anak remaja yang baru merasakan indahnya jatuh cinta. Saling menyuapi dan juga saling membersihkan sudut mulut dengan menggunakan tisu. Mereka bahkan tidak malu dengan keadaan sekitaran mereka yang kebanyakan adalah anak muda.


"Yu, kamu gak apa-apa?" tanya Diana lagi kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku seraya mengusap air mata ini dengan menggunakan punggung tangan.


Memang sah-sah saja Mas Hilman melakukan itu dengan dia, tapi di saat aku tidak ada di rumah? Dan lagi pula ini juga bukan hari libur. Apakah Mas Hilman tidak pergi bekerja hanya untuk membawa wanita itu pergi jalan-jalan? Dia bilang tidak ada uang dan hanya memberi jatah yang sedikit dan memintaku untuk berhemat, tapi apa ini? Barang belanjaan yang ada di bawah mejanya, dan lagi dengan banyak makanan yang ada di atas meja ... tentu bukan uang yang sedikit yang Mas Hilman keluarkan untuk membawa wanita itu ke tempat ini.


"Ayu! Siapa dia, Yu?" tanya Diana lagi kepadaku dengan sedikit keras, kali ini dia menggoyangkan lenganku meminta jawaban. Wajahnya terlihat khawatir saat melihatku yang kini mungkin merah terlihat di wajah karena menahan amarah.


Aku tidak tahan lagi saat melihat untuk ke sekian kalinya Mas Hilman menyuapi dia makanan. Segera aku berdiri dengan tangan yang terkepal keras. Tak ku pedulikan dengan kuku yang menusuk kulit telapak tanganku.

__ADS_1


Diana terkejut melihat aku yang kemudian pergi dari sana. Tidak aku hiraukan panggilannya itu. Aku meninggalkan dia dan juga belanjaanku di bawah meja.


"Enak. Lagi, Mas. Suapin!" ucap Hana dengan manja, dia membuka mulutnya saat Mas Hilman tersenyum dan kemudian mengarahkan makanan itu ke dalam mulut istri keduanya.


"Lagi?" tanya Mas Hilman kepada Hana dengan nada penuh kelembutan. Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan tawa yang renyah dan raut wajah penuh kebahagiaan.


Tangan Mas Hilman sudah terarah ke mulut Hana, hampir saja sampai saat aku sudah ada di hadapan mereka.


"Ayu!" seru Mas Hilman saat aku sudah terlihat oleh kedua orang itu. Refleks tangan yang sudah siap menghantarkan makanan itu kini ia tarik dan ia simpan kembali ke atas piringnya. Mereka terperanjat melihat aku yang ada dihadapannya. terutama Hana yang hanya sebentar menatapku lalu menundukkan kepala dengan takut.


"Ka- kamu ada di sini?" tanya Mas Hilman dengan gelagapan. Mereka terlihat salah tingkah dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Wajah-wajah bahagia itu kini berubah, terlihat salah tingkah dan pucat pasi bagai tak ada darah yang mengalir disana.


"Aku ada disini, Mas. Kenapa? Kaget karena aku melihat kalian senang-senang?" tanyaku dengan tak ada rasa takut sama sekali terhadapnya. Mas Hilman kini semakin salah tingkah dengan pertanyaanku ini.


"Bukan begitu, Yu. Kami ... kami tidak bersenang-senang. Aku hanya mengantar Hana untuk membeli perlengkapan bayi," ucapnya dengan terbata. Bibirnya bergetar menandakan jika dia sedang berbohong.


Aku menggelengkan kepalaku melihat ekspresinya yang begitu ketakutan. Mungkin tidak menyangka jika aku akan berani berkata seperti itu.


Ku lirik beberapa tas belanjaan yang ada di lantai di bawah meja mereka, mengambilnya lalu membalikkan tas itu hingga apa yang ada di dalam sana tercecer ke lantai.


Tidak ada perlengkapan bayi yang ada disana, hanya beberapa potong baju hamil dan dalaman dengan kain transparan luar biasa. Bahkan, menurutku juga percuma, kain itu tidak menutupi apa-apa, bagian bawahnya terdapat segitiga dengan tali sebesar tali sepatu ke belakangnya. Berwarna merah dan juga hitam.


Ya kalian tahu lah benda apa itu. Menjijikkan sekali aku melihat benda itu.


Hana melotot melihat aku yang menyingkirkan kain-kain itu dengan menggunakan ujung sepatuku.

__ADS_1


"Mbak, apa yang kamu lakukan?!" protes Hana dengan nada marah saat aku menghempaskan benda itu dari sepatu.


Dia segera berjalan ke arah di mana benda yang dia beli tercecer di lantai, dan berjongkok untuk mengambil miliknya yang aku buang ke lantai tadi.


Mas Hilman menatapku dengan tidak percaya. Dia lalu menatap Hana. Dengan segera dia mengambil tangan Hana untuk bangkit dan menghentikan memunguti kain-kain minim itu.


"Sudah Hana, hentikan!" ucap Mas Hilman sambil menarik tangan Hana untuk bangkit dari lantai. Wajahnya memerah. Dia melirik ke arah kanan dan kiri, dimana banyak orang yang melihat ke arah kami. Kami sudah jadi tontonan banyak orang sekarang ini. Bahkan, beberapa di antaranya sedang memegangi ponsel mereka dan mengarahkan ke arah kami.


"Ayu, apa yang kamu lakukan?" tanya Mas Hilman dengan nada marah, tapi tetap menjaga nada suaranya agar tidak berbicara dengan keras.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin tahu, apa yang kamu bilang tadi itu benar adanya atau tidak? Dan kamu bohong, Mas! Tidak ada baju bayi yang kamu beli, tapi kamu membelikan bayi besarmu, itu benar!" sindirku sambil menunjuk ke arah Hana.


Hana melihat ke arahku dengan mata yang menyolot tajam, rahangnya terlihat mengerat dengan dada yang naik turun dengan cepat. Akan tetapi, dia lebih memilih untuk mendekat ke arah 'Suami Kami' dengan memegang jasnya erat-erat.


"Mas!" rengeknya pada Mas Hilman.


Terlihat tangan Mas Hilman terangkat untuk menyentuh pundaknya, terdengar bisik menenangkan untuk wanita itu.


"Ayu apa yang kamu lakukan? Ini tempat umum. Jangan permalukan diri kamu dengan sikap kamu yang kasar seperti ini!" desis Mas Hilman. Tidak pernah aku mendengar ucapannya yang seperti ini dengan nada yang seperti ini pula terhadapku, tapi kini sangat lumrah sekali dia lakukan setelah dia bertemu dengan Hana.


Aku tertawa kecil. "Aku permalukan diriku? Tidak, Mas!" kugelengkan kepala ini sambil menyilangkan kedua tanganku di depan perut.


"Kamu yang sedang mempermalukan diri kamu dengan dia, dan itu kamu dan madumu sendiri yang melakukannya. Aku hanya mengatakan kebenaran saja, kalau apa yang kamu lakukan di belakang aku bukan lah sikap yang adil dari seorang pria yang mempunyai istri dua!" bentakku padanya dengan suara keras.


Bisik-bisik suara di belakangku terdengar dengan cukup jelas membuat dua orang yang ada di depanku ini semakin merah wajahnya.

__ADS_1


"Ayu ...."


"Kamu harusnya sekarang ini kerja kan, Mas? Kenapa kamu ada disini sekarang? Apa karena aku ini sedang tidak ada di rumah, jadi kalian bisa keluar seenaknya begitu? Menghabiskan uang yang banyak hanya untuk membeli barang-barang yang membuat hasr*at kamu naik dan menggebu?" ucapku padanya, memotong kalimat yang bahkan dia belum ucapkan sama sekali. Aku tidak peduli dengan bahasaku ini yang mungkin tidak baik jika didengar oleh anak di bawah usia. Aku sudah muak sekali pada mereka!


__ADS_2