
"Tidak tau, kemarin di dalam tas, tapi sekarang gak ada!" ucap Gara kesal.
"Kok bisa? Memangnya kemarin ...."
"Papa! Lebih baik bantuin Abang mewarnai, daripada cuma diam. Sebentar lagi waktunya!" ucapku pada Arga. Laki-laki itu tersenyum dan segera bertanya warna apa yang akan Gara pakai untuk gambar miliknya.
"Memangnya ini gak apa-apa dibantu?" tanya Gara padaku. "Kan, jadinya bukan tugas Abang, Ma?" sambungnya.
"Gak pa-pa, nanti bilang aja sama ibu guru, ini tugas bersama."
"Bu guru gak akan marah?" tanya anak itu lagi menatapku.
"Gak akan. Mama kan dulu juga begitu, dibantu nenek sesekali," ucapku sambil tertawa kecil. Gara tersenyum, menganggukkan kepalanya lalu kembali menggores krayon berwarna hitam.
Kali ini untuk mempersingkat waktu, bukan gambaran yang persis seperti kemarin, sedikit lebih sederhana kami membuatnya. Hanya kami berempat yang duduk di alas kain dengan makanan di tengah kami. Gambar tersebut dengan setting tempat di taman, dan danau yang biru, beberapa pohon ada di sekitar kami, juga bunga untuk pemanis.
Hampir setengah jam kami menyelesaikan gambar tersebut. Cukup baik lah, cukup bagus juga menurutku dengan hanya waktu setengah jam saja mengembalikan mood Gara dan menggambarnya.
"Selesai. Alhamdulillah!" seru anak itu menatap gambaran di tangannya. Arga juga tersenyum senang dan terlihat lega.
"Gak apa-apa 'kan beda sama yang kemarin?" tanyaku dengan menatapnya. Takut jika dia tidak puas dan kecewa.
Gara tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma. Ini nanti Abang bisa bilang sama dedek bayi kalau ini karya kita bertiga!" serunya. Alhamdulillah, Gara mempunyai pemikiran yang seperti itu. Sedikit takut kecewa tadi.
"Ya sudah, kalau begitu ayo turun. Siap-siap dulu, kita berangkat. Sarapan di mobil saja, ya?" tanyaku.
"Pa, bisa tolong bantu Gara bereskan buku? Mama mau siapkan sarapan," pintaku memohon.
__ADS_1
"Siap, Mama!" seru suamiku lalu membereskan buku-buku milik Gara. Bertanya kepada anak itu buku mana yang akan dia bawa ke sekolah hari ini.
Aku turun ke lantai bawah. Sedikit ngilu di area perut, mungkin karena tadi kaget dan sedikit berlari saat naik tangga. Dengan menahan sakit, aku menyiapkan makanan untuk dibawa Arga dan juga untuk menyuapi Gara di dalam mobil nanti. Lapar masih mendominasi perut ini, nasi milikku masih ada di dalam lemari kaca, kembali aku memakan sisanya sambil memasukkan nasi yang lain ke dalam wadah. Memaksakan diri untuk makan, meski sakit membuatku tidak berselera, karena ingat dengan janin yang butuh nutrisi.
"Bu, kok pucat? Ibu sakit, toh?" Mbak Sus berkata dari sampingku. Aku sedikit terkejut karena tiba-tiba dia datang dan bertanya.
"Eh, pucat ya? Mungkin ini karena barusan bantuin Gara menggambar juga, buku gambarnya hilang, Gara nangis," ucapku.
"Mbak, tolong bantu masukin sarapan buat Arga, ya." Aku menyodorkan wadah yang baru saja ku isi nasi bersama dengan wadah lain yang masih kosong. Mbak Sus mengangguk dan mulai memasukkan sayur ke wadah kosong tersebut. Aku memilih duduk di kursi, karena merasakan badan ini yang mulai lemas dan sedikit pusing. Linu yang ada di perut juga masih terasa.
Tak lama, kedua laki-laki yang sangat aku sayangi turun dari lantai atas dengan wajah tersenyum. Mbak Sus telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah siap berangkat?" tanyaku kepada mereka berdua.Keduanya kini menganggukkan kepala.
"Aku ambil tas kerja dulu," ucap Arga lalu pergi ke kamar dan tak lama kembali ke dekat kami bersama tas kerjanya.
"Mama, cepat! Aku bisa terlambat!" teriak Gara yang sudah ada di pintu.
"Iya!" Aku balas berteriak dan melangkahkan kaki sedikit cepat. Rasa di perut seakan ada silet yang menyayat.
"Kamu sakit, kah?" tanya Arga saat aku sudah masuk ke dalam mobil dan menyerahkan sarapannya. Arga menyimpan rantang itu di atas dashboard lalu kembali menatapku yang duduk di samping Gara.
"Eh, enggak. Aku gak apa-apa, kok."
"Kok pucat?" tanyanya khawatir.
"Eh, ini karena sarapan sedikit kayaknya tadi," jawabku lagi. Tidak tahu juga kenapa wajahku pucat, aku pikir ini memang karena aku kelaparan, yang selalu membuat lambungku sakit dan kram.
__ADS_1
"Lain kali, jangan tunggu kami sarapan. Kalau kamu lapar, makan duluan saja." Arga mengusap pipiku lembut. Aku hanya menganggukkan kepala.
Mobil berjalan dengan perlahan sebelum bergabung dengan kendaraan lainnya di jalanan. Selama dalam perjalanan ke sekolah, aku menyuapi Gara dengan hati-hati, takut jika akan membuat seragamnya kotor. Gara makan dengan lahap, terlihat sekali lapar sampai baru beberapa kunyahan anak ini sudah menelannya.
"Sudah, Ma." Gara mengambil air dari tasnya dan minum sedikit, tak lupa aku menyusut mulutnya dengan tisu. "Alhamdulillah," ucapnya sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang. Terlihat perut itu sedikit buncit dan pipinya yang semakin gembil daripada sebelum aku menjadi ibunya. Makan Gara sekarang lumayan banyak, juga tidak pernah memilih lagi, sayur yang aku buat atau yang Mbak Sus masak selalu dia makan dengan baik.
Mobil telah sampai di sekolah, lemas rasanya tubuh ini sehingga aku tidak sanggup untuk turun dari mobil.
"Pa, antarkan Gara ke dalam, ya." Pintaku. Arga turun dari mobil dan membuka pintu untuk Gara turun, sopir yang kalah cepat untuk membukakan pintu, kini berdiri di samping kiri mobil. Arga memang tidak bergantung dengan sopir, sehingga dia tidak seperti bos pada umumnya yang menunggu pintu dibukakan oleh bawahannya.
Kedua laki-laki itu kini berjalan ke dalam area sekolah.
Tidak sampai sepuluh menit, Arga kembali ke dalam mobil. Kini dia duduk di sebelahku.
"Kamu kok makin pucat? Masih lapar? Pak, tolong ambilkan bekal saya!" pinta Arga di kalimat terakhir pada sopirnya. Pak sopir mengambilkan bekal milik Arga dan menyerahkannya.
"Makan, ya. Aku suapi," ucapnya. Aku hanya menggelengkan kepala. Tidak lapar lagi, yang ada kepala ini semakin pusing saja. Aku bersandar pada sandaran kursi, merasakan diri ini yang semakin lemas saja.
"Kita ke rumah sakit, ya?" tanya Arga. Terlihat di wajahnya khawatir.
"Gak usah. Pak, nanti kalau ada bubur ayam di jalan berhenti, ya. Mau," ucapku pada pak sopir.
"Siap, Bu."
Mobil kembali berjalan meninggalkan sekolah Gara. Aku masih bisa melihat jalanan dengan baik. Macet di depan sana terlihat dengan jelas, begitu juga dengan suara klakson yang terdengar ramai, hingga akhirnya ....
Tidak terdengar apa pun lagi.
__ADS_1