
"Kami gak sengaja ketemu di mall, Bu. Tadi memang Ayu pergi dengan yang lain, tapi tadi itu kami gak sengaja ketemu karena Arga nolongin Ayu dari Mas Hilman," jawabku dengan jujur. Aku masih menunduk takut.
Ibu menghela napas dengan kasar. "Ibu harap kamu gak dekat dengan Arga, Yu. Kamu tau kan, dulu bagaimana dia bikin kamu masuk kantor polisi? Dia itu laki-laki gak bener, Yu. Malu Ibu sama yang lain waktu kamu masuk kantor polisi!" seru Ibu dengan nada sedih.
Aku mendekat pada Ibu dan duduk di sampingnya. Memegang tangan Ibu yang kurus.
"Bu, tapi itu kan masa lalu. Lagi pula, bukan Arga yang bawa Ayu ke tempat yang dulu. Itu teman Arga yang undang Ayu, Bu. Arga gak pernah bawa Ayu kepada hal yang tidak baik," ucapku membela diri.
"Tetap saja tidak akan mudah untuk berubah, Yu. Apalagi Arga pemakai aktif!" ujar Ibu dengan nada marah.
"Bu. Sekarang Arga sudah berubah. Dia gak kayak gitu lagi."
"Siapa yang tau, Yu. Gak mudah lepas dari jeratan obat-obatan."
"Tapi itu sudah sangat lama, Bu. Arga bilang, dia sudah rehab dan dia bersih sekarang," ucapku pada Ibu. Ibu menarik tangannya dan berdiri.
"Ibu gak percaya," jawab Ibu. "Bisa saja kalau dia baik di depan kamu untuk bisa dapatkan simpati kamu." Ibu berjalan ke arah kamarnya berada.
__ADS_1
"Bu! Ibu! Bu dengerin Ayu dulu. Jangan Ibu berpikiran hal yang seperti itu. Manusia bisa berubah, Bu!"
Pintu kamar Ibu tutup dengan cepat.
Melihat sikap Ibu barusan membuat hati ini menjadi sakit. Sesakit ini rasanya ditolak oleh Ibu sendiri. Tanpa terasa air mataku mengalir seketika.
Aku masuk ke dalam kamar dan berbaring tengkurap memeluk bantal guling teman tidurku setiap malam. Hati ini rasanya benar sakit. Hampir sama dengan ingatan ku di masa lalu saat Ibu bicara agar aku menjauhi Arga saat di kantor polisi dulu.
Apa ini artinya perjalanan cintaku tidak akan mulus lagi?
Jika aku mengangkat panggilan itu dan Arga sadar dengan nada suaraku yang tengah menangis bukankah akan membuat dia sedih dan merasa bersalah juga?
...***...
Pagi menjelang, aku sudah siap dengan pakaian kerjaku. Makanan sudah Ibu hidangkan di atas meja makan.
"Ibu gak mau kamu dekat dengan Arga lagi, Yu. Tolong menurut dengan Ibu. Jangan buat Ibu jadi khawatir dengan keadaan kamu," ucap Ibu yang kini sedang mencuci alat masak.
__ADS_1
"Bu, tidak bisakah Ibu percaya sama Ayu? Dia memang sudah berubah, Bu." Aku tetap tidak mau menyerah.
"Lebih baik kamu menikah saja dengan Ustadz Zain atau Dokter Wira, Ibu akan lebih tenang kalau kamu menikah dengan salah satu dari mereka daripada kamu menikah dengan mantan pemakai yang suatu saat bisa kembali lagi ke dunianya," ujar Ibu lagi.
Aku rasanya bingung. Harus dengan cara apa lagi aku bicara dengan Ibu?
"Kalau Ayu bisa buktikan Arga tidak akan seperti itu lagi, apa Ibu akan izinkan Ayu untuk berhubungan dengan Arga?"
Gerakan tangan Ibu terhenti saat aku mengatakan hal itu.
"Ini yang Ibu tidak suka, sejak kapan kamu membantah ucapan Ibu, Yu? Baru bertemu dengan Arga saja kamu sudah bisa membantah Ibu. Ibu cuma minta kamu gak dekat dengan Arga, apa Ibu salah?" ucap Ibu lagi.
"Tapi Ibu hanya takut Arga kembali lagi ke dunianya, kan? Ayu yakin dia sudah menjadi manusia yang baik, Bu."
"Ibu gak suka," ucap Ibu lalu pergi meninggalkan aku dan masuk ke dalam kamarnya.
Aku duduk dengan lesu di atas kursi. Harus bagaimana aku bicara lagi?
__ADS_1