
Aku terbangun, baru saja mimpi buruk menghiasi tidurku malam ini. Tidak jelas mimpi apa, yang pasti bukan lah hal yang menyenangkan. Kepala ku juga terasa sakit membuat mata ini mau tidak mau terbuka karena rasa yang sangat tidak nyaman sekali.
Rasa hangat menyelimuti tubuhku, ku lihat selimut tebal berwarna putih menutupi hingga sampai ke leher. Aku tidak ingat jika semalam tidur menggunakan selimut ini. Bukankah ini selimut yang aku pakaikan pada Arga? Dan ... apa ini? Basah. Di keningku terdapat kain basah!
Sapu tangan berwarna biru muda, milik Arga, sedikit basah terdapat di kening. Ku lirik sofa di mana tempat Arga tidur semalam. Kosong. Tidak ada dia di sana. Lantas kemana?
"Kamu sudah bangun? Ini masih jam tiga pagi. Tidur lagi saja," ucap seorang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan membawa sebuah wadah di tangannya. Dia mendekat dan menyimpan wadah itu di meja rias yang ada di samping ranjang. Sapu tangan yang aku pegang dia ambil alih, dia celupkan di dalam wadah yang berisi air, memerasnya dengan lembut sehingga tetesan air yang ada di sana menyusut.
"Kamu demam semalaman. Mengigau," ucapnya dengan senyuman di bibir.
Aku terdiam, benar apa kata dia, aku memang merasakan badan ini tidak enak, padahal semalam aku masih baik-baik saja. Leher yang aku pegang terasa sedikit lebih panas dari biasanya.
"Sudah, tidur lagi. Aku kompres, ya." Arga menyimpan sapu tangan setengah basah yang hangat di keningku. Kepala terasa pusing, juga pandanganku sedikit buram. Tidak biasanya aku seperti ini.
Kututup mata ini, tidur dengan memiringkan kepala ke arah kiri, karena khawatir dengan luka yang ada di belakang kepala. Rasa pusing masih mendominasi kepala ini.
"Kepala kamu masih sakit? Minum obat dulu, ya?" tanya Arga padaku. Aku membuka mata. Dia sedang membuka satu bungkus obat.
"Kamu mengigau terus dari semalam. Waktu aku lihat, kamu demam. Aku sudah panggil dokter, tapi gak tega bangunkan kamu. Jadi aku cuma bisa kompres aja. Mbak Yeni bilang kepala kamu sakit, hem?" tanyanya lembut.
"Iya. Terima kasih," ucapku. Arga tersenyum, dia membenarkan sapu tangan yang ada di keningku.
"Karena kamu sudah bangun, minum obatnya. Dokter kasih obat ini untuk penghilang rasa nyeri. Besok kita cek ke rumah sakit, ya!" Pandangan Arga terlihat khawatir, meski di ruangan ini hanya lampu temaram yang menyinari. Dia membantuku bangun, mengambil sapu tangan yang tadi dan menyimpannya kembali ke dalam wadah. Beberapa obat yang ada di tangannya kini berpindah ke tanganku. Air minum dia pegang, menunggu aku memasukkan obat tersebut ke dalam mulut. Beruntung aku tidak sulit untuk makan obat, dengan satu kali tegukan tiga butir obat tersebut sudah berhasil melewati tenggorokanku.
"Tidur lagi. Aku akan jaga kamu," ucapnya.
Rasa kesal yang aku rasakan tadi kini rasanya menghilang karena perhatiannya. Ah, tidak! Rasanya tetap saja tidak bisa terima dia melakukan hal itu padaku! Hatiku protes.
Aku menutup mataku, obat yang Arga berikan barusan membuat efek mengantuk dan semakin berat lah kelopak mata ini. Akan tetapi, aku tidak ingin tidur. Takut jika orang ini macam-macam terhadapku. Ya, walaupun kami sudah menjadi sepasang suami istri, tapi rasanya aku masih belum mau dekat dengan dia terlebih dahulu!
__ADS_1
...*...
Pagi menjelang, saat aku terbangun dari tidurku dengan keadaan yang jauh lebih nyaman. Kepalaku tidak lagi terasa pusing, atau mataku yang buram, kini lebih ringan saat aku terbangun. Keningku terdapat sapu tangan yang hampir mengering. Ternyata setelah aku tidur Arga mengompresku lagi.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, sinar matahari sudah menyorot dengan cukup kuat. Jam di dinding sudah menunjukkan angka delapan pagi.
Arga duduk di kursi sofa sedang memegang hp-nya, kepalanya tertopang kepalan tangan, bertumpu pada lengan kursi, matanya terpejam. Sesekali dia terantuk, tersadar, membuka matanya sedikit, menyalakan hp, lalu kembali terpejam matanya. Terlihat dia sangat lelah dan mengantuk.
Aku hanya memperhatikan dia dari tempatku, ingin tertawa ketika dia hampir terjengkang akibat tidak bisa menahan kantuknya.
Hais! Apa sih aku ini. Jangan terbawa perasaan. Aku kan sedang marah!
Aku menurunkan kedua kakiku, tepat di saat Arga kembali terantuk dan tersadar.
"Kamu sudah bangun? Sebentar. Aku siapkan air mandi," ucapnya, lalu bangkit dan menyimpan hpnya di atas meja. Setengah berlari dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah, air hangat sudah siap," ujar laki-laki itu setelah keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa-apa, aku khawatir sama kamu. Mungkin kalau sudah mandi kamu bisa enakan. Kamu mandi, aku mau pesankan makanan untuk kita."
"Tidak usah. Kita sarapan bareng yang lain aja. Gak enak kalau makan di kamar," ucapku. Ingat jika keluarga yang lain juga menginap di sini.
"Yang lain udah duluan tadi, mereka ninggalin kita karena mungkin menyangka kita capek kali," ujar Arga terlihat malu, dia mengusap belakang lehernya. Aku paham maksud ucapannya.
Aku bangun, Arga bergerak cepat dan membopongku seperti seorang cucu sedang membantu neneknya berjalan.
"Aku bantu."
Ku tepis tangannya lembut, membuat dia melongo dan ingin protes. "Aku bisa sendiri," ucapku.
__ADS_1
"Aku udah gak apa-apa, udah gak pusing. Jangan khawatir." Ku tinggalkan Arga yang masih terdiam di tempatnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Lilin aromaterapi menyala, menghantarkan wangi yang lembut tercium di hidung. Busa dari dalam bathtub juga sangat menggoda ingin segera aku mainkan.
Tidak lupa pintu kamar mandi aku kunci, tidak ingin ada hal lain terjadi di sini.
...*...
Selesai mandi dan sarapan, Arga benar membawaku ke rumah sakit meski aku bilang padanya bahwa aku sudah merasa baikan. Bahkan dokter pun mengatakan jika aku baik-baik saja. Tapi dasar Arga, yang tidak percaya dengan ucapanku sebelum berangkat ke sini, dia tidak mau mendengarkanku.
"Aku kan sudah bilang, aku gak apa-apa, kenapa juga kamu bawa aku ke dokter?" sedikit kesal dengan paksaannya. Kami sudah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang kembali ke hotel.
"Aku takut kalau kamu ada apa-apa. Aku khawatir," ucapnya tidak terima. Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain, bukan apa-apa juga, tapi pergi ke dokter membuat aku mendapatkan beberapa obat tambahan, mana lebih besar pula!
"Aku gak suka obat, Ga!" keluhku. Obat yang ada di dalam tasku ku tatap dengan ngeri, meski tidak sulit menelan obat, tapi beberapa hari ini melihat obat rasanya ngeri juga.
"Demi kesembuhan kamu. Luka yang ada di kepala kan juga belum kering."
Ku hela napas. Rasanya berbicara dengan Arga kini percuma juga.
Kami sudah sampai di hotel. Orang-orang tidak terlihat sama sekali saat aku dan Arga makan siang di restoran milik hotel tersebut. Heran, seharusnya kami makan bersama.
Aku mengeluarkan hp, mencoba untuk menelepon Ibu, tapi tidak ada jawaban dari Ibu, hanya suara dering telepon yang panjang.
"Telepon siapa?" tanya Arga.
"Ibu," jawabku singkat, kembali menelepon Ibu, tapi masih tetap tidak ada jawaban sama sekali.
"Ibu dan yang lainnya sudah pulang waktu kita ke rumah sakit tadi. Papa dan Bibi mengajak mereka piknik bersama ke pantai," ucap Arga.
Pantai? Menyebalkan sekali. Aku sudah lama ingin ke pantai, tapi tidak ada yang mengajakku. Membayangkan pantai, jadi ingin marah saja. Kenapa Papa tidak mengajak kami juga?
__ADS_1
"Mas Arga, makan siang di sini?" Aku dan Arga menoleh bersamaan. Gadis itu, yang kemarin ada di pestaku, yang membuat aku dan Arga berdebat, kini datang mendekat. Dia tersenyum sangat manis pada suamiku, tapi tentu saja matanya melirik jahat padaku. Apa lagi yang di mau gadis ini?