Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
49. Pelecehan Istri Sendiri


__ADS_3

"Mbak kenapa, sih? Kamu gak mau ngertiin aku? Ini kan bukan mau aku! kalau kamu iri kamu bilang saja!" teriak Hana saat aku hampir menggapai pintu kamar.


Aku berhenti dan menatapnya dengan tajam.


"Aku gak iri. Aku cuma ingin kamu ngerti sekarang ini gimana keadaan kita, Hana! Jangan kamu buat Mas Hilman lebih pusing lagi. Ingat kita ini sudah tidak ada pemasukan!" Aku juga tak kalah berteriak kepadanya.


"Sudahlah. Kalian ini kenapa jadi ribut?!" seru Mas Hilman menatapku dan Hana bergantian


"Hana, aku akan carikan uang untuk ujian Fika. Ayu, aku minta tolong jangan bahas ini lagi, ya." pintanya padaku.


Dia selalu saja begitu. Membela wanita itu. Apa yang dia lakukan, apa yang dia mau, apa yang wanita itu katakan, selalu saja dia turuti.


"Mas, kamu itu gak ada kewajiban untuk menghidupi keluarganya. Mau sampai kapan kamu terus berikan mereka tanggung jawab?" tanyaku pada Mas Hilman. Mas Hilman hanya menunduk mendengarku.


"Mbak kamu jangan begitu dong. Mas Hilman kan juga kasih Ibu Mbak Ayu. Apa Mbak Ayu lupa kalau Ibu Mbak juga Mas Hilman kasih resiko?" tanya Hana dengan membentakku.


Aku semakin urung masuk ke dalam kamar. Kudekati dua orang itu yang kini masih berdiri di ruang dapur.


"Siapa bilang? Siapa yang bilang Mas Hilman masih kasih uang untuk Ibu aku?" bentakku padanya. Nyatanya memang beberapa saat setelah Mas Hilman menikahi Hana, Mas Hilman tidak pernah memberi uang pada Ibu dengan alasan uang yang dia dapat tidak cukup untuk terbagi ke sana ke sini. Beruntung uang hasil panen di kampung masih cukup untuk makan dan juga periksa Ibu.


"Mas Hilman sudah gak pernah kasih Ibu aku uang karena kamu. Karena kamu minta uang yang cukup banyak untuk keluarga kamu!" teriakku lagi.


"Yu, sudahlah ...."


"Sudah apa, Mas!!" bentakku pada Mas Hilman dengan sedikit menjerit. Apa dia tidak tahu kalau aku ini sedang membela dia?


Dia langsung terdiam setelah mendengar bentakanku.


"Ya wajar lah aku minta uang untuk keluarga aku. Aku sudah dipinang oleh Mas Hilman, sudah sepantasnya kalau Mas Hilman memberikan kontribusi untuk keluarga aku." Hana tidak mau kalah.


"Bukankah keluarga Mas Hilman yang inginkan kamu? Kenapa juga gak minta saja sama Ibu mertua? Jangan minta sama mas Hilman!"


"Mbak itu harusnya bersyukur dengan adanya aku yang mau didua dan hamil anak Mas Hilman. Bagaimana kalau bukan aku yang jadi istri kedua Mas Hilman? Sudah pasti kamu yang akan dicerai oleh Mas Hilman karena lebih memilih mendengar wanita itu. Wanita yang bisa memberikan dia keturunan." Geram aku mendengarnya. Lagi-lagi pembahasan tentang keturunan. Memang aku masih belum bisa memberi keturunan, lalu apa itu salah?

__ADS_1


"Coba Mbak pikir. Pikir sama Mbak, siapa yang mau sama wanita yang gak bisa kasih suaminya keturunan. Sadar diri dong, sudah beruntung Mbak gak ditinggalkan, coba pikir kalau Mas Hilman ninggalin Mbak Ayu. Sudah jadi janda, gak punya anak, pengangguran pula ... Akh!!" Dia berteriak dengan keras, dengan wajah yang kini terhempas ke samping. Kata-kata yang tadi dia akan ucapkan kini tidak lagi dia lanjutkan.


Aku menatapnya dengan tajam. Tanganku perih. Panas. Satu tamparan keras telah mendarat di pipinya yang mulus. Kini dia memegangi pipinya itu dan menatapku dengan tak kalah tajam dariku, dadanya naik turun, sorot matanya benci terhadapku.


Aku tak percaya ini, untuk pertama kalinya aku telah menampar seseorang.


Mas Hilman menatap tak percaya kepadaku. "Apa yang kamu lakukan, Ayu?!!" teriaknya seraya mendekat ke arah Hana dan menyingkirkan tangan Hana, melihat bekas merah yang aku buat di pipinya. Satu tangan Mas Hilman mengusap pipi itu.


"Apa yang kamu lakukan?!!" teriaknya dengan murka menatapku dengan nyalang.


"Aku tampar dia! Kenapa?!!" jeritku tak mau kalah. Kedua tangan aku kepalkan di kedua sisi tubuku. Mas Hilman terlihat tidak terima dengan apa yang aku lakukan terhadap Hana. Dia mendekat ke arahku dan menarik tanganku dengan kasar, membawaku ke dalam kamar.


Tubuh yang lapar ini, kini ia hempaskan ke atas kasur. Bantal yang tadinya tenang di tempatnya sedikit terlonjak saat aku mendarat di kasur itu.


"Keterlaluan kamu, Ayu! Kenapa kamu sampai main kasar sama Hana!" teriak Mas Hilman. Tangan besar itu kini menunjuk ke arahku.


Aku bangkit dan menyingkirkan tangan besar itu dari wajahku.


"Kamu gak denger apa yang tadi dia bilang sama aku? Siapa disini yang tidak mau diceraikan! Aku mau itu sedari dulu, Mas! Kamu yang gak mau pisah sama aku!!" jeritku dengan keras kepadanya.


"Iya! Aku memang gak mau pisah sama kamu! Kenapa kamu selalu saja minta pisah dari aku? Aku sudah katakan sama kamu kalau aku gak mau pisah dari kamu, dan aku kaan ceraikan Hana setelah anak itu lahir! Kenapa kamu gak terima usulan aku, Ayu!!"


Aku tak percaya ini. Masih saja Mas Hilman memikirkan hal itu. Aku kira beberapa hari yang lalu setelah aku memberikan pengertian kepadanya dia bisa terima.


"Kenapa kamu jadi orang yang jahat, Mas? Kenapa kamu jadi orang yang brengs*k? Aku gak kenal sama kamu. Pergi kamu dari kamar ini!" teriakku mengusirnya seraya mendorong tubuhnya.


Mas Hilman tiba-tiba saja menggerakkan tangannya, mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dia pakai.


"Mau apa kamu, Mas?" tanyaku dengan takut, wajah itu sudah tidak menggambarkan wajah Mas Hilman lagi. Kini tersenyum menyeringai bak di dalam film yang pernah aku tonton.


"Aku orang jahat kan? Aku orang brengs*k?" Dia mendekat, kemeja yang telah dia lepaskan kini dia lempar hingga mendarat ke lantai.


Langkah kakinya makin mendekat ke arahku. Jujur aku takut melihatnya. Meskipun kami memang suami istri, tapi bukan inginku seperti ini!

__ADS_1


"Mas keluar kamu dari kamar ini!" teriakku seraya menunjuk ke arah pintu, tapi dia menggelengkan kepalanya.


"Ini kamarku juga, kamu gak bisa usir aku, Ayu!"


"Enggak! Keluar kamu dari sini!" Aku berteriak lagi, dia tetap tidak mendengarkan.


Kuambil ancang-ancang untuk lari. Keadaan Mas Hilman tidak memungkinkan untuk mendengarku.


"Jangan kamu lari dari aku, Ayu! Aku akan menghamili kamu supaya kamu gak selalu minta pisah dari aku!" teriaknya dengan murka.


Aku sudah hampir sampai di pintu kamar, tapi Mas Hilman menarik tanganku dan menarikku dengan kasar. Dia dengan cepat mengunci pintu kamar ini dan melempar anak kunci ke sembarang arah. Aku hanya menatap tajam dia dengan rasa tidak percaya.


Suara gedoran dari luar pintu terdengar keras, memanggil nama Mas Hilman. Mengeluh jika dia merasa sakit di perutnya. Akan tetapi, sepertinya memang telinga Mas Hilman sudah tertutup oleh sesuatu, tidak mendengar rintihan orang yang ada di luar itu.


"Akh! Mas, lepaskan aku!" Aku berontak saat tangan besar itu menariku ke arahnya dan memaksa menciumku. Janggutnya yang belum tercukur membuat pipi dan kulit leherku terasa perih.


"Mas hentikan!" Jeritku, berusaha mendorong dia. Akan tetapi, dia tidak menghiraukanku.


Tubuhku dia lempar kembali ke atas ranjang dan menindihku, memberikan efek sakit dan berat di atas tubuh. Sesak dada ini, bukan hanya karena dia yang berada di atasku, melainkan perlakuannya yang kasar.


"Mas, jangan!" teriakku. Tangan besar nan kuat itu mulai masuk ke dalam baju, memberikan pijatan kasar yang menyakitkan. Dua tanganku tidak bisa menyingkirkan satu tangannya yang kokoh. Tidak peduli dengan keluhan dan jeritan ku.


"Mas tidak! Aku mohon, aku akan benci kamu kalau sampai kamu lakukan itu! Mas!" jeritku lagi.


"Akh!" Satu gigitan dia berikan di bahu. Terasa perih, "Mas hentikan! Aku ak ... Hmmptt ...." Mataku membola saat tiba-tiba saja Mas Hilman menciumku dengan kasar. Dia memainkan lidahnya, menghisap, memutar, dan mengigit kecil bibirku. Tidak membiarkan aku sekedar untuk bernafas. Bahkan, dia tidak menghiraukan air mata yang aku keluarkan karena perlakuan kasarnya ini.


Aku ingin pergi dari sini, tapi tidak bisa, kedua tanganku ia tahan di atas kepala dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lain ...


"Akh!!" jeritku, lalu tertahan dengan sumpalan mulutnya kembali. Rasa sakit dan perih terasa di inti tubuh karena dia memaksakan miliknya masuk dan keluar dengan tempo cepat. Wajah itu terlihat sangat menikmati, tak peduli dengan aku yang kini masih berteriak dan menangis karena perbuatannya.


Aku memang istrinya, tapi aku tidak ridho diperlakukan kasar olehnya!


Aku bersumpah, Mas. Setelah ini, aku akan membuat kamu menyesal!

__ADS_1


__ADS_2