Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
71. Perkelahian Di Tengah Jalan.


__ADS_3

Mas Hilman terus saja berjalan dengan langkah yang lebar membuat aku berjalan dengan terseok-seok. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar terlihat menarik bahu Mas Hilman dan kemudian ....


Bugh!


Tangan besar yang tadi aku lihat, kini meninju Mas Hilman dengan keras hingga membuat tubuh Mas Hilman terjengkang ke trotoar yang berdebu. Aku menjerit lebih pada terkejut daripada takut. Sekilas aku melihat darah yang keluar dari sudut bibir Mas Hilman.


"Apa yang kamu lakukan! Tidak seharusnya kamu memperlakukan seorang wanita dengan kasar!" teriak seorang pria yang aku kenal.


Dokter Wira terlihat dengan wajah marah. Dadanya naik turun seperti orang yang sudah baru saja selesai lari maraton. Dia menatap Mas Hilman dengan tatapan yang tidak pernah aku lihat.


Mas Hilman bangkit sambil menyusut darah di bibirnya. Dia sama terlihat marah dengan perlakuan kasar yang dia dapatkan barusan.


"Jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku! Kamu hanya orang asing yang tidak ada hubungannya dengan kami!" teriak Mas Hilman dengan murka.


Beberapa orang terlihat berdatangan karena mendengar kegaduhan ini.


"Saya memang orang asing, tapi setidaknya saya tau cara memperlakukan wanita dengan baik. Pantas saja kalau Mbak Ayu ingin bercerai dengan kamu, karena kelakuan kamu yang keterlaluan seperti ini, Hilman!" teriak Dokter Wira dengan lantang menyebut nama Mas Hilman tanpa embel-embel 'Mas' seperti biasanya. Wajah ramah yang selalu tersuguh setiap hari kini tidak terlihat lagi ramah dan juga wibawanya. Dokter Wira kini terlihat seperti sosok yang asing bagiku.


Mas Hilman datang mendekat ke arahku dengan wajah yang kini sangat murka. Akan tetapi, Dokter Wira menghadang di depan tubuhku. Segera tangan besar itu menghalau tangan Mas Hilman yang hampir meraihku.


"Minggir!" teriak Mas Hilman.


Dokter Wira tidak melepaskan tangan Mas Hilman dan langsung melayangkan satu pukulan pada wajah Mas Hilman, hingga lagi-lagi suamiku terjengkang ke belakang.


"Sialan!"' teriak Mas Hilman sambil meninju tanah di bawahnya dengan keras. Lagi, dia bangkit dan menyentuh hidungnya yang pastinya sakit.


"Jangan ikut campur urusan kami atau kamu akan aku laporkan ke polisi! Minggir!!" Dia berteriak lagi seperti orang yang kesurupan.


"Silahkan saja! Aku akan melaporkan balik atas tindakan kasar yang kamu lakukan!" teriak Dokter Wira tak kalah kerasnya.


Dokter Wira masih ada di depanku. Aku jadi khawatir jika akan ada perkelahian di sini. Beberapa orang yang melihat hanya menonton karena kebanyakan adalah para ibu rumah tangga yang tidak bekerja.


Mas Hilman masih berusaha meraihku, dia menatap Dokter Wira dengan tatapan penuh amarah. Tidak terima dengan Dokter Wira yang menjadi tamengku, tangan Mas Hilman kini terangkat untuk dilayangkan ke arah Dokter Wira.


Dokter Wira tidak sempat menghindar hingga dia terkena pukulan keras dari Mas Hilman. Dokter Wira terhuyung hingga hampir jatuh, refleks aku menangkap tubuh besar itu.

__ADS_1


"Apa hubungan kamu dengan dia?! Kemarin kamu dengan pria lain! Sekarang kamu dengan dia. Dasar wanita murahan kamu!" teriak Mas Hilman dengan marah menunjuk dengan lantang ke arahku. Dia kembali mendekat dan menarik kerah baju Dokter Wira.


Aku berteriak meminta Mas Hilman untuk melepaskan Dokter Wira. Akan tetapi, pukulan demi pukulan terus saja dilayangkan oleh Mas Hilman dengan keras hingga Dokter Wira kewalahan.


"Mas, Hentikan!" teriakku meminta Mas Hilman yang ada di atas tubuh Dokter Wira menyingkir, tapi pria itu tidak mendengar.


Ku dorong tubuhnya dari atas tubuh Dokter Wira yang kini melantai di trotoar. Dia tidak bergeming, masih saja terus memukuli Dokter Wira dengan kalap, sedangkan Dokter Wira berusaha untuk menutupi wajahnya dari pukulan.


"Mas, hentikan!" Aku berteriak sekali lagi mendorong tubuh itu dengan kekuatanku, khawatir dengan keadaan Dokter Wira. Akan tapi, siku Mas Hilman terangkat ke atas hingga menabrak daguku dengan keras.


"Akh!!" Rasa sakit dan linu seketika terasa di dagu ini, juga dengan rasa amis darah yang mengalir di dalam mulut. Lidahku tergigit karena ulah Mas Hilman tadi.


Melihat aku yang terdorong dan hampir terjatuh dengan memegangi rahangku, Dokter Wira segera mendorong tubuh besar Mas Hilman dengan keras hingga kini dia terguling ke trotoar. Segera dokter Wira naik ke atas tubuh Mas Hilman dan melayangkan dua pukulan keras kepada Mas Hilman.


Suara rintihan kesakitan terdengar, tapi tidak membuat keduanya berhenti untuk berkelahi.


"Mbak nggak apa-apa?" tanya Sinta mendekat ke arahku dengan khawatir. Di belakangnya berlarian tiga orang yang aku kenal, Pak RT, bapak Sinta, dan Rehan -kakak Sinta- yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah ibunya.


Aku menggelengkan kepala, masih memegangi rahang yang sakit. Ketiga orang itu memisahkan dua pria yang kini masih bergelung di trotoar bersama dengan debu debu jalanan yang kotor.


"Mas Hilman, tolong hentikan!" teriak Pak RT dengan mengangkat tangannya di depan dada. Meminta Mas Hilman untuk menghentikan aksinya.


"Tolong Pak RT tidak ikut campur dengan masalah kami. Dia sudah berani-beraninya mengganggu urusan saya dengan Ayu!" teriak Mas Hilman dengan marah dan kesal.


"Mas Hilman tolong hentikan ini sekarang juga. Apa yang menjadi masalah Mas Hilman saat ini bisa dibicarakan dengan baik-baik. Saya mendapatkan laporan dari Sinta Mas Hilman melakukan tindakan pemaksaan kepada Mbak Ayu. Kalau Mas Hilman tidak menghentikan, Saya akan melaporkan tindakan Mas Hilman kepada polisi!" ucap pak RT dengan nada yang tegas.


"Saya hanya ingin membawa istri saya untuk pulang, tapi dia malah menyerang saya!" Mas Hilman berteriak lagi. Dia menunjuk ke arah Dokter Wira dengan emosi. Pak Handoyo dan Rehan masih menahan tubuh Mas Hilman dengan erat


"Bukan Pak RT. Mas Hilman memaksa dan menyeret Mbak Ayu dengan kasar!" teriak Sinta dari dekatku dengan nada yang kesal dan juga marah.


"Diam kamu anak kecil! Tahu apa kamu dengan urusan kami! Jangan ikut campur ...!"


Rehan yang mendengar adiknya dibentak seketika naik pitamnya, dia mengambil kerah baju Mas Hilman dan mengangkat tangannya, melayangkannya dengan keras sehingga tubuh besar itu laki-laki terhuyung dan terjatuh di trotoar. Pegangan Pak Handoyo kepada mas Hilman terlepas akibat pukulan keras yang diberikan anak sulungnya.


"Jangan pernah bentak adikku! Dasar laki-laki yang tidak tahu menghormati wanita! Aku sudah sering mendengar soal kamu. Mulai hari ini dan seterusnya jangan pernah kamu datang kemari lagi! Pergi kamu dari sini!" Rehan berkata dengan keras seraya mengangkat tangannya mengusir Mas Hilman.

__ADS_1


Mas Hilman kini bangkit berdiri, dia meludah membuang cairan berwarna merah dari mulutnya.


"Apa hak kalian mengusirku dari sini? Aku hanya ingin membawa istri ku pulang!"


"Lepaskan Ayu. Kamu hanya bisa menyakitinya!" Kini Dokter Wira berbicara.


Mas Hilman tertawa terkekeh, menatap Dokter Wira dengan tatapan yang mengejek. "Kenapa? Apa kamu mau dengan dia? Aku melepaskan dia dan kamu mengambil bekasku? Apa mungkin kamu dan istriku sudah melakukan malam panas bersama?"


Aku tersentak mendengar ucapan Mas Hilman yang seperti itu. Satu kali lagi mendengar ucapan dengan artian aku sudah tidur bersama laki-laki lain. Rasa kasihan yang tadi sempat aku rasakan ketika melihat dia dipukul kini sudah tidak ada lagi.


Gegas aku mendekat ke arahnya, Sinta memanggil namaku dari belakang, tapi aku tidak menggubris panggilannya. Terdengar nada suaranya yang khawatir dan takut.


"Apa maksud kamu, Mas?" tanyaku setelah berada di hadapannya. Wajah yang putih itu kini lebam di sekitar kedua tulang pipinya, sudut bibirnya juga terlihat berdarah.


"Kalau aku mau pulang sama kamu, kamu nggak kan bicara seperti itu lagi kan? Enggak akan menghina aku lagi kan? Kamu nggak akan bikin kekacauan ini lagi kan?" tanyaku kepadanya.


Raut wajah yang terlihat marah itu kini berubah menjadi senyum tak percaya. Tatapan yang marah kini berubah lembut. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kenapa tidak sedari tadi kamu bicara seperti itu. Kalau kamu mau pulang aku nggak akan kasar sama kamu Yu," ucapnya dengan senang.


Aku tersenyum seraya membelai wajahnya yang lebam. Dia juga ikut tersenyum senang, satu tangannya menyentuh tanganku yang ada di wajahnya.


Tangan yang lain ku angkat dan kusimpan di pundaknya. Aku mendekatkan diri pada tubuh Mas Hilman. Mas Hilman semakin melebar senyum di wajahnya. Rehan dah Pak Handoyo saling menatap bergantian terlihat tidak percaya dengan apa yang aku lakukan.


"Aku senang kamu ...."


Bugh!!!


"Akhh!!!" teriak suara Mas Hilman terpekik kesakitan saat baru saja aku menendang miliknya dengan keras menggunakan lutut. Seketika tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan menyentuh benda pusaka di bawah perut.


Sinta dan beberapa ibu-ibu yang melihat terdengar berteriak dengan apa yang aku lakukan barusan.


Aku mundur satu langkah dan mendorong bahu Mas Hilman yang kini tinggi sejajar dengan dadaku.


"Ayu ... sakit!" rintihnya. Dia melirik ke arahku dengan mata dan wajah yang kini memerah. Tak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. Dia menggapaikan tangannya ke arahku. Aku kembali mundur dua langkah.

__ADS_1


"Itu karena kamu bicara sembarangan Mas! Pergi dari sini sebelum aku melakukan hal yang lebih dari ini!" ancamku.


__ADS_2