
Arga terlihat sangat rapuh sekali, sepanjang perjalanan menuju rumah dia tidak berbicara sama sekali. Kami pun tidak berani berbicara, menghormati si dia yang kini sedang sangat berduka.
Mobil yang kami kendarai hampir sampai di rumah. Sedikit pelan pak sopir membawa kendaraan.
"Pak, nanti di mini market depan berhenti ya," ucap Arga tiba-tiba.
"Baik, Pak," jawab pak sopir seraya mengangguk.
Tak lama mobil berhenti di minimarket.
"Kamu tunggu di sini," ucapnya.
"Bapak mau beli apa? Biar saya belikan," tawar Mbak Sus.
"Biar saya saja yang beli," ucap Arga lalu tanpa menunggu cegahan dariku dia turun dari mobil. Mbak Sus yang sudah membuka mulutnya kembali terdiam.
"Pak Pir. Lihat Bapak deh di dalam. Khawatir saya," ucap Mbak Sus menyuruh pak sopir, begitulah Mbak Sus memanggil sopir dengan sebutan Pak Pir. Sudah terbiasa sedari dulu.
"Iya, saya ke dalam dulu." Pamit pak sopir, tapi sebelum sopir sampai ke pintu minimarket Arga sudah keluar dari sana sambil membawa bungkusan kresek di tangannya. Pak sopir kembali dan membatalkan masuk ke dalam sana, terlihat tadi kedua orang itu berbicara sebentar dan pak sopir menggelengkan kepala sebelum kembali ke mobil.
"Buat kamu dan Mbak Sus, ucap Arga menyerahkan bungkusan plastik putih itu kepadaku.
"Eh, apa ini?" Aku membuka bungkusan plastik tersebut dan melihatnya, ada beberapa roti dan juga air mineral di sana.
"Kamu belum makan, kan?" tanya Arga. Aku baru ingat, memang sedari tadi aku lupa dengan makan, tidak merasa lapar sama sekali.
"Terima kasih." Aku tersentuh dengan dia, dia yang sedang berkabung masih ingat dengan kami semua. Tidak ada dari kami yang makan siang tadi karena sibuk mengurusi semua ini.
"Mbak, makan dulu." Roti yang sama denganku, juga aku berikan pada Mbak Sus dan pak sopir, tidak ada dari mereka yang menolak seperti yang sudah-sudah.
"Terima kasih," ucap mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
"Kamu gak makan?" tanyaku sambil membuka bungkusan roti di tangan, sementara mobil kini melaju kembali ke jalanan.
Arga tidak bersuara, hanya menggeleng dan merebahkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Makan sama aku, yuk. Kamu belum makan juga, kan?" Ku sodorkan potongan roti yang ada di tangan, kasihan melihatnya seperti itu, wajah sembab masih tampak jelas terlihat di sana.
"Aku gak lapar," ucapnya.
"Aku gak mau makan kalau kamu gak makan."
"Jangan paksa aku, Yu."
"Kalau gitu jangan paksa aku juga buat makan!" Tiba-tiba saja aku kesal. Dia perhatian sekali padaku, masih ingat untuk membelikan makan, sedangkan aku ingin memperhatikan dia malah ditolak mentah-mentah!
"Ya sudah, aku makan tapi sedikit, ya," ucapnya. Aku mengangguk senang lalu menyuapkan potongan roti yang tadi aku sobek ke dalam mulutnya.
"Kamu juga makan, dong. Jangan sampai kamu sakit. Malam ini kamu istirahat saja di rumah ibu ya, temenin anak-anak," ucapnya.
"Aku banyak yang temenin, kasihan anak-anak kalau sama ibu aja. Mereka pasti nyariin kamu."
"Iya." Aku diam sambil memakan roti yang tersisa.
"Maaf, bukannya apa-apa, tapi kalau anak-anak di bawa ke rumah juga takut kaget karena banyak orang. Juga kamu yang butuh istirahat banyak. Kalau mau sampai lusa kamu di rumah ibu, kalau gak mau besok sore kamu balik, yang penting kamu istirahat aja di rumah, jangan sampai terganggu," ungkapnya lagi.
Aku terpaksa mengangguk walaupun tidak rela sama sekali. Rasanya sedih, tidak berdaya dengan diriku sendiri. Benar apa kata Arga, aku harus menemani anak-anak dan menjelaskan pada Gara jika mama sudah tidak ada.
Mobil telah sampai di rumah ibu, kedua anak-anak sangat senang sekali bertemu dengan kami. Tidak biasa jauh, kali ini meskipun baru beberapa jam berpisah rasanya mereka terlihat sedih. Ibu mengatakan belasungkawa pada Arga dan berkata jika besok akan pergi ke makam mama untuk ziarah.
Arga terlihat menahan tangisnya, memeluk dua putranya dengan sangat erat. Wajah itu sudah merah, tapi berusaha untuk menahan kesedihan dan tidak menampakkannya di depan anak-anak.
"Kenapa Abang gak ikut ke makam nenek?" tanya Gara, dia terlihat marah saat bertanya kepada ayahnya. Aku menatap ibu, terlihat ibu merasa bersalah.
__ADS_1
"Besok Abang pergi sama Nenek ya. Kan repot kalau tadi Abang pergi ke sana." Ibu membujuk.
"Tapi Abang mau lihat Nenek. Papa jahat gak ajak Abang!" teriak Gara, sedih sekali melihat anak itu menangis sambil memukul ayahnya. Kedekatan Gara dengan mama memang sangat dekat sekali, mungkin karena sewaktu Gara bayi juga mama masih sehat dan bisa ikut mengasuh Gara.
Arga terlihat semakin sedih, dia menggendong Gara ke dalam rumah dan mengabaikan Azka yang meminta gendong, hanya mengusap pipi putra kecilku lalu pergi dengan segera. Azka terlihat sedih diabaikan seperti itu, bibirnya sudah turun dan sedikit bergerak di sudutnya serta dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jagoan Mama sini, sama Mama dulu." Azka aku ambil dari gendongan Mbak Sari, dia masih sedih dan menatap punggung ayahnya yang kini menghilang ke dalam rumah. Hati-hati sekali aku menggendongnya agar tidak mengenai perut buncitku.
"Sebentar, ya. Nanti papa mau bicara dulu sama Abang, Kaka sama Mama dulu, oke?" Aku membujuk Azka. Dia masih saja menunjuk ke dalam rumah. Biarkan Arga menenangkan Gara terlebih dahulu, dia yang tahu bagaimana membujuk Gara.
Dari dalam kamar, terdengar Gara yang masih menangis dan mendebat ayahnya, ingin rasanya masuk ke dalam sana, tapi ibu melarangku untuk pergi ke sana.
"Kamu makan belum?" tanya ibu.
"Makan roti barusan."
"Ibu masakin sayur sop ceker ya?" tanya ibu, aku hanya mengangguk saja, meski rasanya tidak tahu apakah aku bisa makan nanti atau tidak.
Arga sudah keluar dari dalam kamar, dia berpamitan padaku dan juga ibu serta menitipkan aku dan anak-anak pada ibu. Mbak Sus ikut serta dengan Arga untuk membantu segala sesuatunya di rumah.
"Abang," panggilku. Gara sedang tengkurap di atas kasur, terdengar isak tangisnya dan bahu yang naik turun.
"Abang makan yuk. Nenek udah bikin sop ceker, tuh." Aku mendekat padanya dan duduk di tepi tempat tidur, mengusap kepalanya yang lembut. Dia tidak menjawab, tapi berbalik dengan tiba-tiba dan memeluk perutku. Tangis terdengar dengan sangat keras, padahal tadi saat dengan ayahnya tidak terdengar dia menangis sedih seperti ini.
...***...
Maaf baru update 😁✌️. Othor lagi merevisi beberapa bab judul di apk sebelah bulan ini 🤧.
mampir yok ke cerita salah satu temen othor nih, BURUNG SUAMIKU MERESAHKAN, astagfirullah, judulnya juga bikin meresahkan yak 🤣
__ADS_1