Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
270. Gara Anakku juga!


__ADS_3

Aku senang mendengar ucapannya. Dia memuji ceritaku meski hanya dengan dua jempol saja. Padahal aku juga ingin komentar yang lain darinya.


"Aku heran bagaimana kamu bisa memikirkan alur yang seperti itu. Bab pertama saja sudah bagus apalagi nanti bab selanjutnya?" tanya Arga lagi.


Aku hanya tersenyum kecil, bahagia dengan pujiannya tersebut.


"Aku hanya menuliskan apa yang ada di dalam pikiranku," ucapku kepadanya.


"Kalau saja aku bisa, aku ingin seperti kamu. Sepertinya seru juga," ucapnya seraya menjepit dagunya dengan tangan.


"Kamu mau aku ajarkan?" tanyaku. Sepertinya jika profesi kami sama mungkin akan menyenangkan. Kami bisa saling bertukar pikiran satu sama lain. Mungkin juga disaat aku tidak punya ide dia bisa menyumbangkan idenya sedikit. Atau banyak?!


Dia menganggukkan kepalanya dan kemudian mengajakku untuk tidur bersama.


Tengah malam aku terbangun, mendengar suara tangisan putraku sangat keras sekali. Lelah aku rasakan karena sedari kemarin kurang tidur. Memiliki bayi yang baru saja lahir menjadikan repot pada tengah malam, mereka lebih sering bangun pada malam hari daripada siang. Terkadang dia bangun dari jam dia belas malam dan baru akan tidur saat menjelang pagi. Itu yang membuatku lelah. Tidak mungkin juga saat dia terbangun aku meninggalkannya tidur sendirian.


Dengan kepala yang terkantuk-kantuk, aku membuka popoknya yang basah, bukan hanya basah tapi juga kotor karena dia buang air besar.


Dengan menggunakan tisu basah aku membersihkan bagian belakangnya.


"Dia bangun lagi?" Tanya arga kini berada di belakangku.


"Iya dia bangun, buang air besar."


Arga tiba-tiba merebut tisu basah yang aku pegang. "Biar aku saja yang bersihkan dia, kamu buatkan saja susunya. Aku yang akan urus dia sampai nanti dia tidur," ucapnya membuatku merasa tidak enak hati.


"Tidak usah aku saja yang lakukan. Kamu sudah capek seharian bekerja," ucapku kepadanya. Aku sungguh kasihan melihat wajahnya yang lelah seperti itu. Tidak tega jika membuat dia harus menunggu anak kami semalaman.


"Sudah tidak apa-apa, aku lebih kasihan lagi sama kamu karena kamu terlihat capek." Dia mulai membersihkan bagian belakang yang terkena kotoran, dengan tanpa jijik membersihkannya dan menggantikan popoknya. Terlihat sudah sangat lihai sekali, aku bangga kepadanya padahal dia pernah bercerita jika dulu waktu Gara kecil dia tidak ikut serta mengurus Gara. Akibat sibuknya dengan pekerjaan, dia memberikan tanggung jawab kepada pengasuh. Sekarang dia bilang ingin ikut serta mengurus putra kami.


"Apa kamu tidak capek setelah seharian bekerja?" tanyaku kepada dia.


"Capek, tapi kalau lihat Azka capeknya jadi hilang," ucapnya lagi. Dia kini menggoda putranya, mengajaknya berbicara seakan anak itu mengerti dengan apa yang Arga bicarakan. Aku menarik kedua sudut bibirku, senang dengan interaksi yang diberikan kepada Azka. Meskipun anak itu belum mengerti, tapi aku yakin dia paham dengan arti cinta yang diberikan oleh ayahnya.


Arga membawa Azka ke atas tempat tidur. Dia menepuk-nepuk paha anak itu dengan lembut, Azka tidak lagi menangis, aku dekati mereka berdua sedang tidur miring menghadap kepada bayiku, bersiap untuk memberinya ASI.


"Enak sekali dia, dia boleh minum ASI, aku tidak," ucap laki-laki itu membuat aku mendelik kepadanya. Jangan sampai dia menginginkan bermain adu-aduan.


"Gak boleh, nanti kalau ikutan minum ASI Azka mau dikasih apa?" tanyaku dengan barang. "Lagian aku juga yakin bukan cuma ASI yang kamu minum, tapi juga madu!" ucapku lagi. Dia tersenyum meringis, aku paham apa arti dari senyumannya itu.


"Gak boleh macam-macam. Belum empat puluh hari," tujuh ku pada hidungnya. Dia mengerucutkan bibirnya.


"Lama banget sih, harus ya empat puluh hari?" tanyanya dengan sedikit merengek.


"Iya memang masa nifas itu adalah empat puluh hari, tidak boleh ada yang protes. Lagi pula itu adalah masa penyembuhan untuk ibu yang baru saja melahirkan. Apa kamu tega perutku masih saja bengkak dan masa pemulihan masa mau diadu?" tanyaku dengan nada sedikit marah.


"Tapi, empat puluh hari itu lama." Dia membenamkan wajahnya pada bantal. Aku tertawa kecil melihatnya merasa lucu.


"Memang seperti itu ketentuannya. Sabar, setelah selesai empat puluh hari kamu juga akan merasakannya lagi kok."


Dia mengangkat kepalanya menatapku dengan tatapan yang menyedihkan, seperti anak kucing yang meminta makanan.


"Rasanya aku ingin mati saja, empat puluh hari sangat lama," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Nggak akan lama kalau kamu nggak nungguin, gak usah ditunggu-tunggu nanti juga tahu-tahu sudah empat puluh hari aja. Lagian juga masih berdarah apa kamu akan nyaman? Aku aja rasanya takut," ucapku sambil bergidik ngeri.


Dia mendengkus kesal, seakan sedang protes. "Iya deh aku akan menunggu, empat puluh hari kalau nggak ditungguin kayaknya nggak akan lama juga," ucapnya lagi pasrah.


Azka sudah mulai tertidur kembali, dia menyusu dengan sangat kuat sehingga rasanya ujung dari dadaku ini terasa sakit. Sedikit ada lecet di sana. Ibu bilang itu wajar karena aku adalah ibu yang baru saja melahirkan dan memilih untuk memberikan ASI eksklusif, Ibu juga pernah mengalaminya dulu satu minggu kemudian lecetnya juga akan hilang dan akan sembuh dengan sendirinya.


"Aww!" Tidak sengaja aku meringis kesakitan, membuat Arga menjadi khawatir.


"Kamu kenapa?" Dia bertanya dengan cepat.


"Ujung dadaku sedikit lecet."


"Apa sakit sekali?" tanyanya lagi.


Aku menganggukkan kepala. Memang rasanya lumayan perih, apalagi jika terkena air susu yang keluar terus menerus tanpa bisa dihentikan, rasanya benda itu lengket menempel kepada wadahnya di dalam sana.


"Apa ada obatnya di dokter?" tanyanya lagi, nadanya semakin terdengar khawatir.


"Aku nggak tahu harusnya sih dokter punya obatnya. Tapi nggak papa lah Ibu bilang seminggu lagi juga bakalan sembuh," ucapku mencoba untuk menenangkan dia.


"Aku kasihan sama kamu, bagaimana kalau masukan saja ke dalam dot? Biar kamu tidak kesakitan lagi?" tanya dia lagi.


"Aku nggak mau! Masa anak aku dikasih minum dari dot? Aku ingin menyusuinya sendiri," ucapku dengan kesal.


"Ya aku kan cuma memberi saran saja supaya kamu tidak sakit. Aku kasihan sama kamu."


"Tapi aku lebih kasihan lagi sama anakku karena tidak mendapatkan perhatian dari ibunya!" ucapku masih kesal.


"Iya, ya sudah kalau kamu maunya seperti itu. Aku tidak berani melarang lagi. Kamu memang ibu yang terbaik untuk anak-anakku." Dia tersenyum dan mengusap pipiku dengan lembut, sehingga aku merasakan nyaman dari sentuhannya tersebut.


Arga bangun dan memindahkan Azka kembali ke dalam box-nya. Dia kemudian berbaring di sampingku.


"Minta peluk dong tidurnya." Mintanya terdengar manja.


"Cuma peluk doang ya nggak ada acara lain!" Ancamku dengan pelototan mata yang tajam. Lagi-lagi dia mengerucutkan bibirnya.


"Iya deh. Pasrah aku. Palingan besok bermain solo," retaknya terdengar menyedihkan. Aku tidak bisa menahan tahu aku mendengar dia mengucapkan itu. Membayangkan bagaimana dia melakukannya sendiri di dalam kamar mandi. Apa mungkin dengan seperti itu saja dia merasa enak?


"Eh, aku mau tanya sedikit," ucapku dekat ke arahnya.


"Tanya apa?"


"Kalau main sendiri apa enak?" Aku tidak bisa menahan tahu aku lagi kali ini. Tertawa sedikit keras tapi segera menutup mulutku sadar dengan adanya Azka di kamar ini.


Lagi-lagi dia mendengkur kesal. "Kenapa kamu tanyakan itu? Sudah pasti kalau main sendiri enak tidak enak, masih lebih enak kalau main ada lawannya," ucapnya terdengar sedikit kesal. Aku masih tertawa apalagi melihat wajahnya yang seperti itu sekarang.


"Ya sudah sekarang kamu tidur saja, jangan ingat-ingat itu lagi, nanti kalau kepingin beneran bisa bahaya!" ucapku, kali ini menghentikan tawaku kepadanya. Takut juga jika aku tidak berhenti tertawa dia akan nekat, meski sepertinya rasanya tidak mungkin juga sih!


Kami melanjutkan tidur berdua.


***


Pagi menjelang. Aku terbangun sendirian di dalam kamar. Saat aku melihat pemandangan di luar, sudah terang oleh cahaya matahari. Aku mencari arga tapi tidak ada di kamar, juga mencari Azka. Tidak ada juga di sini. Dengan langkah yang berat aku mencari mereka di luar. Ternyata ayah dan anak itu sedang berjemur di halaman belakang. Keduanya tidak mengenakan pakaian, bertelanjang dada di bawah sinar matahari pagi.

__ADS_1


"Kamu kok tidak bangunkan aku?" tanyaku pada dia seraya melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.


Arga membuka kacamata hitamnya. "Aku kasihan sama kamu makanya nggak bangunin kamu tadi. Kamu kelihatan capek sekali."


Aku duduk di kursi santai di samping Arga, sama seperti mereka berdua menikmati hangatnya matahari pagi. 


"Aku nggak sadar kalau bangun kesiangan. Maaf ya sudah merepotkan kamu. Kamu nggak berangkat ke kantor?" tanyaku lagi.


"Nanti agak siangan sedikit, kerjaan juga nggak terlalu banyak kok. Jadi berangkat sedikit siang juga nggak masalah," ungkapnya dengan santai. Kacamata yang tadi dia lepas dia kenakan kembali. Aku mengelus pipi Azka, dia tidak bergerak, kedua matanya terpejam, nafasnya teratur terdengar olehku. Dia terlihat sangat menikmati waktunya ini bersama dengan ayahnya.


"Apa Gara sudah pergi ke sekolah?" tanyaku lagi.


"Iya, tadi Sari yang mengantarnya, juga akan menunggunya sampai pulang sekolah nanti. Kamu jangan khawatir sama dia, sekarang cukup fokus saja kepada Azka," ujarnya. Jujur saja aku tidak bisa seperti itu. Azka maupun Gara adalah kedua putraku.


"Jadi, kamu menyuruhku untuk mengabaikan Gara begitu?" tanyaku kepadanya.


Dia kembali membuka kacamata hitamnya dan kini menyimpannya di kepala. "Bukan seperti itu, Gara udah punya pengasuhnya sendiri, aku nggak mau kamu capek mengurus dua anak sekaligus," ucapnya lagi. Memang tidak salah dengan apa yang dia ucapkan, tapi bagiku tidak masalah mengurus keduanya secara bersamaan.


"Aku tidak masalah dengan itu. Gara anak aku juga. Lagi pula mengurus dia juga tidak susah, sekarang dia sudah besar sudah mengerti apa yang bener dan juga salah," ucapku.


Arga menatap ke arahku. Diam genggam tanganku dan menguasainya dengan ibu jari. "Kamu itu ibu yang baik. Tapi kamu tetap harus jaga kesehatan kamu, ingat juga untuk cukup beristirahat," ucapkan kepadaku. Aku menganggukan kepala. Sangat paham dengan apa yang dia katakan barusan. Lagi pula semenjak memiliki Azka, waktuku juga kebanyakan aku pakai untuk tidur siang. Bersama Azka dan juga Gara.


Kami menikmati waktu pagi beberapa saat lamanya di sini. Menikmati hangatnya matahari yang menerpa ke kulit. Hingga saat matahari tersebut terasa panas barulah kami kembali masuk ke dalam rumah. 


Azka masih tidur dengan lelap sehingga Arga kini menidurkannya kembali di kamar.


"Ya ampun, aku jadi sangat berkeringat," ucap laki-laki itu. Aku lihat kulitnya agak sedikit belang, lebih hitam pada bagian yang tadi tidak tertutup oleh tubuh Azka.


"Aku mandi dulu ya." Pamitnya kepadaku lalu masuk ke dalam kamar mandi. Aku kembali merebahkan diri di samping Azka, menatap wajahnya yang tidak ada kemiripan denganku sama sekali. Rasanya sebel juga karena di dia lebih mirip dengan ayahnya. Mata, hidung, bibir, semua milik Arga.


***


Menjalani kehidupan menjadi seorang ibu membuatku paham akan arti hidup ini. Berat memang, terutama karena harus membagi waktu untuk mengurus mereka berdua, tapi aku menjalaninya dengan ikhlas. Karena aku tahu dari sanalah aku akan mendapatkan ridho dan juga kebahagiaan.


Gara sangat sayang sekali kepada Azka. Setiap kali pulang sekolah dia selalu membersihkan dirinya dan masuk ke dalam kamarku, membantu mengurus adiknya ini, mengajaknya bermain meski kami tahu Azka tidak mengerti dengan apa yang kakaknya lakukan.


"Mama kapan Azka bisa berjalan?" tanya Gara saat dia mengambilkan celana kering adiknya dari dalam lemari pakaian.


"Masih lama lah. Memangnya kenapa?" tanyaku kepadanya sambil memasang celana tersebut kepada Azka.


"Kayaknya kalau Dede Azka sudah bisa jalan bakalan seru," ucapnya sambil memperhatikan apa yang aku lakukan pada adiknya.


"Memang kau sudah bisa jalan mau ngapain aja kalian?" tanyaku lagi.


"Main bola, main petak umpet, main tali," jawabnya.


"Loh kok main tali?" tanyaku bingung. "Main tali kan buat anak perempuan."


"Ya nggak apa-apa, memangnya laki-laki nggak boleh main lompat tali?" tanyanya lagi.


"Boleh sih, nggak ada masalah juga," ucapku.


"Kenapa kalian tidak main perang-perang saja? Tembak-tembakan misalnya? Kan itu permainan laki-laki?" tanyaku pada Gara.

__ADS_1


"Gak mau ah, main perang atau tembak kayak gitu kan kasar. Nggak boleh mainan yang kasar seperti itu, nanti kalau mainnya perang-perangan ada pistol-pistolan dedek Azka bisa terluka," ucapnya sambil memainkan tangan adiknya. Aku tersenyum dengan ucapannya tersebut. Masih kecil saja dia sudah perhatian seperti itu, semoga saja ke depannya nanti dia akan lebih sayang lagi kepada adiknya.


Aku mengulurkan tangan kepada Gara, meminta dia untuk mendekat padaku. Ku peluk tubuhnya dan ku cium keningnya. Aku sayang padanya seperti anakku sendiri. Tidak boleh ada yang meragukan kasih sayang aku terhadap anak ini. Meskipun dia anak yang tidak lahir dari rahimku, tapi dia telah menjadikan aku seorang ibu sedari dulu, sudah di sebelum aku memiliki anakku sendiri. Gara, anak yang terlahir dari seorang wanita baik, meski dulu ayahnya tidak perhatian kepada mereka. Maka kali ini, aku yang akan memberikan perhatian yang lebih kepadanya.


__ADS_2