Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
202. Serangan Kedua Dan Ketiga


__ADS_3

Deru nafas kami berdua terdengar dengan sangat jelas memenuhi ruangan ini. Detak jam pun kalah suaranya dengan helaan nafas kami.


Aku membuka mata, melihat Arga yang masih tersenyum di atas tubuhku. Dia mendekat lalu mencium keningku dengan lembut beberapa kali.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya dengan bisikan yang mesra.


Aku tersenyum mengalungkan kedua tanganku pada belakang lehernya. "Terima kasih juga untuk pengalaman yang beda ini," ucapku padanya. Arga tidak lantas turun dari atasku, dia malah bergerak-gerak kecil sambil memelukku. Kepalanya dia sandarkan pada pundak. Aku memeluknya dengan erat, merasakan hangat tubuhnya di malam yang dingin ini. Bahkan, kami lupa tidak memakai selimut.


Kami terdiam beberapa saat lamanya tidak saling berbicara, dia seperti tidak ingin mencabut miliknya dari dalamku. Bergerak kecil ke kanan dan ke kiri seperti angin lembut yang menggoyang dedaunan.


"Kita melakukannya kedua lagi di sini, Yu," ucap Arga dengan pelan.


"Iya kamu benar. Kita bercinta lagi di tempat yang sama," ucapku malu. Ingat dengan apa yang kami lakukan tadi, apalagi denganku yang rasanya sedikit over. Ah, rasanya aku ingin bersembunyi dari dia. Apa yang akan dia katakan nanti?


"Haha, besok malam tentu kita tidak akan melakukannya di sini lagi. Tapi di rumah, di sana kamu bisa bebas berteriak. Kamarku kedap suara," bisiknya lembut di telingaku.


Aku malu. Apakah dia tadi teringat dengan teriakanku yang tidak sengaja?


"Arga, apa kamu tidak mau turun dari atasku?" tanyaku padanya.


"Memangnya kenapa?"


"Sepertinya kasurnya basah," ucapku saat kurasakan tak nyaman di bawah tubuhku. Sedikit lengket.


"Sepertinya punya kamu terlalu banyak. Sebelum pulang besok aku harus mencuci sprei ini," ucapku.


Arga tertawa kecil, tapi dia tidak beranjak juga dari sana. "Kita lakukan sekali lagi, yuk!"


Aku terperanjat mendengar ajakannya. Milikku masih sakit begitu juga dengan pinggang dan pahaku.


"Ya ampun, Ga. Aku capek pinggangku sakit."


"Aku pijat," ucapnya dengan tersenyum.


"Enggak ah, ini sakit. Besok lagi, ya." Mohon ku.

__ADS_1


Wajahnya terlihat cemberut, kurasakan sesuatu yang ada di bawah sana kembali sesak. Apakah dia sedang on lagi?


"Aku janji akan melakukannya dengan pelan, sepertinya ini tidak akan lama. Tanggung juga sudah ada di dalam, kan," ucapnya dengan tersenyum. Tanpa menunggu persetujuan dariku dia mengambil satu kaki dengan tangannya, sehingga satu kakiku kini berada pada bahunya. Dia mulai memompa. Naik dan turun dengan teratur, pelan.


"Ih kamu nakal!" seru ku sambil memukul dadanya. "Aku kan belum izinkan," ucapku dengan cemberut.


"Apa aku harus meminta izin kalau ingin bercinta? Lagian ini juga kan tanggung, kita nggak pakai baju, ini juga sudah tegang. Nikmati saja, Sayang," ucapnya dengan tidak peduli dan terus menggerakkan pinggangnya.


Pinggangku memang sakit, tubuhku juga lelah, rasanya sebal tidak bisa beristirahat, tapi aku juga tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Apa yang harus dilakukan padaku sekarang ini adalah kenikmatan yang tidak bisa aku tolak.


Area yang basah di bawah sana bekas percintaan kami tadi, tidak menghalangi kami melakukan percintaan yang kedua kali.


"Pelan-pelan pinggangku masih sakit," ucapku menahan dadanya. Serangan ini baru dua kali aku dapatkan semenjak perceraianku dengan suamiku terdahulu, tentu saja aku harus menjaga tubuhku agar tetap fit. Mengingat besok aku harus keluar dari kamar ini dengan keadaan yang baik. Malu juga jika Ibu mengetahui aku yang sakit pinggang karena serangan luar biasa suamiku ini.


Rasa sesak di bawah sana membuatku melayang lagi dan lagi, mana yang dia bilang akan sebentar? Menurutku ini lama tapi aku menyukainya.


Tidak cukup dengan aku yang ada di bawahnya, Arga melepas miliknya dan membalikkan tubuhku sehingga kini dia berada di atas punggung. Dengan gerakan cepat memasukkan kembali miliknya yang masih panjang dan keras. Dia benar-benar membuatku lemas dan keluar berkali-kali. Tangannya tidak bisa berhenti bermain di area dua gundukan yang dia mainkan. Bibirnya mencecap di leherku sedikit terasa sakit.


Kami melakukannya dan berhenti saat kami benar-benar lelah, sampai Arga pun tidak kuat hingga dirinya selesai. Kami bermain setengah jalan, meskipun rasanya sedikit kecewa tapi aku tidak bisa memaksakannya. Dia sudah melakukan banyak hal untukku. Kami berdua lelah dan tertidur dengan tanpa helai pakaian sama sekali, hanya tertutup selimut hangat yang menutupi tubuh kami yang saling berpelukan.


Menjelang pagi aku terbangun oleh alarm yang setiap hari aku pasang. Rasanya sangat lelah sekali sampai mata ini tidak bisa terbuka. Rasanya sangat berat sekali.


"Mandi, ini sudah subuh," jawabku.


"Mau aku panaskan air?" tanyaku padanya.


Dia menggelengkan kepalanya sambil mencoba untuk bangun. Selimut dia singkapkan sampai terlihat ulat bulunya yang kini mengecil. Akan tetapi, tetap saja itu bukan ulat bulu. Rasanya itu bisa dikatakan belut. Oh ya ampun, jika dia bangun malah mirip seperti anaconda.


Astaghfirullah, apa yang sedang aku pikirkan. Melihat belut tersebut lama-lama ukurannya berubah, mulai membesar. Membuat pikiranku jadi kemana-mana. Aku tahu jika saat subuh seperti ini tentu saja benda itu akan berukuran sangat besar. Mengerikan, seram, tapi nikmat.


"Aku mau mandi juga, ah." Arga bangkit dari atas kasur. Dia mengambil pakaiannya dan memakainya dengan asal kemudian keluar dari kamar.


Aku juga sama memakai pakaianku, mengambil handuk lalu pergi keluar. Sedikit berhati-hati saat keluar dari kamar, menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Takut dan malu sebenarnya, bagaimana jika ibu melihat kami? Meskipun pasti tidak akan apa-apa karena kami sudah sah. Akan tetapi, malu juga lah.


Aku pergi ke kamar mandi saat sudah memastikan jika tidak ada Ibu di sana. Dapur juga masih padam lampunya. Itu menandakan jika ibu belum keluar dari kamar. Beruntung sekali.

__ADS_1


Dengan langkah yang cepat aku pergi ke kamar mandi. Terdengar dari dalam sana suara harga yang sedang membersihkan diri. Aku menunggu, sesekali melirik ke arah ruang tamu yang juga masih gelap.


"Ayo apakah kamu ada di sana?" tanya Arga dari dalam kamar mandi.


Aku yang sedang duduk di atas kursi mendekat ke arah pintu. "Iya aku di sini kenapa?" tanyaku kepadanya.


"Aku lupa tidak bawa handuk," ucapnya dari dalam.


Aku mengetuk pintu, dia membukanya sedikit dan mengulurkan tangannya. Handuk yang aku bawa kuberikan kepadanya. Akan tetapi, bukan hanya handuk itu yang dia bawa, tapi aku juga diseretnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa yang kamu lakukan Arga?" tanya ku terkejut saat melihat dia polos tanpa helai pakaian sama sekali. Tubuhnya basah oleh air, tapi justru terlihat lebih seksi daripada sebelumnya. Air yang membasah di rambutnya, membuat dia terlihat seperti Oppa Korea. Tubuh itu menggigil kedinginan. Bibirnya sudah berwarna biru.


"Dingin ya? Tadi aku mau panaskan air kamu nggak mau," ucapku dengan kasihan. Handuk yang ada di tangan aku bungkuskan ke tubuhnya. Dengan gerakan pelan mengusap tubuhnya agar tidak ada lagi air di sana.


"Ini sangat dingin sekali, Yu. Rasanya seperti mandi di tengah sungai yang beku," ucapnya dengan suara yang gemetar. Dia memeluk tubuhku kurasakan tubuhnya yang sedikit gemetar pula.


"Ya sudah kamu cepetan ke kamar dan ganti baju, eh tapi pakaian kamu basah ya? Kamu cari pakaianku yang besar saja sana," titahku padanya.


Arga menggelengkan kepalanya, dia memelukku dengan erat. Suhu dingin pada tubuhnya sangat terasa pada kulitku.


Kurasakan tangannya yang menyibak daster yang aku pakai. Aku terkejut saat melesakkan tangannya kain segitiga milikku. Jari-jari tangannya bermain di sana membuat aku sedikit melenguh karena tingkahnya. Apalagi saat dia menggoda pinggiran bibir bawahku. Sesekali melesakkan tangannya ke dalam lubang.


"Arga apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan ada yang protes. Dia tidak menjawab, tapi mendorong ku ke dinding. Dengan gerakan yang cepat melepas kain penutup di bawahku.


"Hei apa yang kamu lakukan?"


"Diamlah, aku menagih hutang semalam," ucapnya.


Sebelum aku bisa kembali berbicara, sesuatu kini melesak dan memenuhi inti tubuhku. Aku ingin protes, tapi kalah dengan kenikmatan yang dia berikan. Seakan tidak puas dengan apa yang kamu lakukan semalam, di sini pun kami melakukannya lagi. Aku berpegangan erat pada tepian bak kamar mandi. Menahan tubuh ini agar tidak terjatuh karena ulahnya.


Kami mencoba untuk tidak bersuara, takut jika seseorang mendengar di luar sana. Sebagai gantinya, Arga membuka keran air yang mengisi bak mandi hingga penuh, menyamarkan suara dari tubuh kami berdua yang sedang beradu.


Setelah selesai kami mandi bersama, Arga sangat kedinginan karena dia harus mandi dua kali. Salahnya karena dia menyerangku lagi.


Aku membuka pintu kamar mandi setelah berpakaian, melihat ke kanan kiri dan ke sekeliling. Masih aman, syukurlah.

__ADS_1


Dengan rambut yang masih basah aku keluar dari kamar mandi. Arga mengikutiku dari belakang.


"Kalian sudah bangun?" tanya suara seseorang membuat kami terdiam membeku di tempat.


__ADS_2