
"Ayu. Maafkan aku, Yu. Aku minta maaf!" serunya sambil menangis dengan memelukku. Aku berusaha melepaskan diri dari dia, tapi pelukannya sangat erat sehingga tidak bisa aku lepaskan.
"Aku minta maaf, karena aku sudah berbuat hal yang kasar sama kamu, Yu. Aku minta maaf. Semalam aku gak sadar dengan apa yang aku lakukan," ucap Mas Hilman dengan terisak. Sungguh kenapa Mas Hilman tidak merasa malu dengan adanya Ibu yang melihat kami?
Ibu berdiri dari duduknya. "Ibu mau istirahat sebentar, kalian bicara saja dulu," ujar Ibu lalu pergi dari hadapan kami.
Selepas kepergian Ibu, aku mendorong kasar tubuh Mas Hilman dan mundur dua langkah darinya. Kejadian semalam sungguh masih bisa kuingat dengan jelas. Betapa dia tidak mempedulikan perasaanku.
"Buat apa kamu kesini, Mas?" tanyaku padanya dengan menatapnya tajam.
"Aku ingin minta maaf atas perlakuanku semalam sama kamu, aku benar-benar minta maaf, Yu." Tatapan mata itu kini lebih lembut dari tatapannya semalam. Akan tetapi, aku tidak akan luluh hanya karena tatapan lembut itu padaku.
Aku menggelengkan kepalaku. "Maaf yang bagaimana, Mas? Kamu sudah jelas menyakitiku lahir dan batin," jawabku dengan nada yang pelan. Bagaimanapun juga di rumah ini masih ada dua orang yang lain, tidak mungkin aku harus berteriak untuk marah kepadanya.
"Maka dari itu aku minta maaf, Yu. Aku benar-benar di luar kendali semalam. Aku gak sadar kalau aku sudah menyakiti kamu," ucapnya dengan menghiba.
Mas Hilman kembali maju, tapi aku juga kembali memundurkan langkah kakiku.
"Apa kamu benar gak mau maafkan aku?"
Lagi, aku menggelengkan kepala.
Bahunya terlihat turun mendengarku bicara seperti itu. Dia terlihat sangat lesu dan juga kecewa.
__ADS_1
"Apa tindakanku semalam sudah keterlaluan buat kamu?" tanya Mas Hilman lagi.
Ingin aku tertawa rasanya mendengar dia berbicara seperti itu padaku. Apa dia pikir tindakan dia yang kasar semalam itu hanya dia main-main saja? Terlalu!
"Kenapa kamu sampai tanya lagi? Kamu sampai menyusul aku kesini bukankah kamu sudah berpikir dengan tidakan kamu itu?" tanyaku padanya. Mas Hilman kini hanya menundukkan kepalanya, tidak berani lagi menatapku.
"Aku sedang emosi, Yu. Maaf, aku semalam bukan menjadi diriku."
"Kamu memang sudah lama kehilangan diri kamu sendiri, Mas! Apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah lama menjadi orang yang asing buat aku?" tanyaku dengan tatapan yang tajam ke arahnya.
"Iya, maka dari itu aku minta maaf. Aku sangat minta maaf sama kamu. Aku sayang sama kamu, Yu. Apakah kamu mau maafkan aku? Kita bisa jalani hidup seperti dulu." ujar Mas Hilman lagi kini dia juga sama menatap ke kedalaman mataku dengan penuh berharap.
Aku kini terdiam dengan sejenak. Memantapkan diri dengan apa yang akan aku katakan sekarang ini terhadapnya. Sorot mata penuh haru dan juga penuh rindu. Jika saja mata itu bisa berbicara apakah dia akan bilang suatu kejujuran? Ataukah kebohongan?
"Jadi kamu maafkan aku?" tanya Mas Hilman dengan nada suara yang terdengar senang. Aku menganggukkan kepalaku.
"Aku maafkan kamu, Mas. Tapi maaf. Hubungan kita gak akan bisa seperti dulu lagi," ucapku terhadapnya.
Kini Mas Hilman tertegun dengan tidak percaya.
"Jadi, kamu tetap pada pemikiran kamu untuk pisah sama aku?" tanya Mas Hilman. Kini dia mengguncang bahuku dengan cukup keras. Sedikit sakit di sana akibat cengkeramannya yang lumayan kuat.
"Kamu mau pisah sama aku?!" teriaknya dengan kencang di depan wajahku. Aku memalingkan wajahku ke arah lain, menghindari dia yang kini terlihat murka.
__ADS_1
"Ayu, jangan diam saja! Kamu gak beneran mau pisah sama aku, kan?" tanya Mas Hilman. Wajahnya kini mulai memerah dengan raang yang sudah mengeras. Dengan kasar aku menghempaskan tangan besar itu dari bahuku.
"Maaf, Mas . Itu sudah keputusan aku. Aku gak mau sama kamu lagi," ucapku kepadanya. Tidak ada lagi rasa yang harus aku takutkan kali ini. Ibu sudah tahu semuanya dan Ibu juga sudah memberikan aku kebebasan untuk memilih. Bolehkan jika aku kini mengejar kebahagiaanku sendiri? Meski nanti, entah apakah aku akan mendapatkan jodoh kembali atau tidak karena kekuranganku ini, tapi aku tidak peduli. Setidaknya aku sudah pernah merasakan dicintai oleh seseorang.
"Kamu belum memikirkannya dengan baik, Yu."
"Baik. Aku akan kasih kamu waktu beberapa hari lagi untuk berpikir. Kamu hanya sedang emosi!" ucap Mas Hilman kini. Dia kemudian melangkah meninggalkan aku, tanpa sempat aku bicara lagi. Tak lama terdengar suara deru mobilnya dan kemudian dari tempat aku berdiri, bisa aku lihat jika mobil itu kini meninggalkan rumah.
Aku terduduk di sofa dengan lutut yang lemas. Mas Hilman tidak mau juga mendengarkan aku. Aku bukan main-main mengatakan hal itu, tapi kenapa dia selalu saja berkata jika aku butuh waktu? Sudah cukup bagiku waktu hampir empat bulan ini memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan hubungan kami.
Tidak. Aku tidak akan mundur dari apa yang aku mau!
"Ayu!" seru Ibu. Aku menolehkan kepala mendengar Ibu memanggilku. Segera Ibu mendekat dan mengambilku dalam pelukannya.
"Apa Ayu salah meminta pisah dari dia, Bu? Kenapa dia tidak pernah mau mendengarkan Ayu? Mas Hilman selalu saja menganggap jika Ayu butuh waktu untuk berpikir." Aku mengadu pada Ibu. Kali ini tidak ada lagi air mata yang keluar dari mataku hanya saja nada suaraku sedikit tercekat karena rasa sesak yang masih membelenggu.
"Kamu yakin mau berpisah dengan dia?" tanya Ibu. Aku mengangguk.
"Sudah tidak cinta lagi sama Hilman?" Ibu sekali lagi bertanya. Aku kini terdiam, tidak mengangguk ataupun mengiyakan. Memang jika dipikir, sungguh sulit melupakan seseorang yang sangat kita sayang, apalagi selama tujuh tahun pernikahan dan waktu yang telah kami jalani sebelum masa menikah. Bukan waktu yang sedikit.
Tidak cinta? Bukan. Tepatnya aku mencoba untuk menghapus rasa cinta yang ada di dalam hatiku untuk dia. Kini Mas Hilman milik Hana dan juga anaknya. Jika aku terus berada bersama mereka, selain aku yang akan terus sakit hati karena korban perasaan, bukankah aku juga akan mengganggu hubungan baik antara keduanya?
"Aku akan berusaha untuk menerima perpisahan ini, Bu. Aku tidak mau membuat Mas Hilman meninggalkan wanita yang sudah memberikan dia putra, hanya untuk aku yang belum tentu bisa memberikannya keturunan."
__ADS_1