Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
59. Jangan Dekat Dengan Dia (Arga)


__ADS_3

"Ibu!" seruku dengan takut. Pak RT dan bapak Sinta mendekat dengan wajah khawatir. Aku dan Sinta membawa Ibu duduk di atas sofa.


"Mbak Yu gak apa-apa?" tanya Pak RT. Ibu memang disini lebih dikenal dengan sebutan Mba Yu, yang bisa diartikan kakak perempuan.


Ibu mengangkat satu tangannya.


"Gak apa-apa, Pak RT. Saya baik-baik saja," ucap Ibu pada Pak RT.


"Sinta ambilkan minum air hangat!" seru bapak Sinta pada putrinya.


"Iya, Pak!" Sinta tak kalah berseru, dia kini melarikan kakinya ke dapur dan tak lama membawa segelas air untuk Ibu.


"Ibu, kita ke dokter?" tanyaku pada Ibu. Takut jika jantung Ibu tidak kuat dengan apa yang terjadi kali ini.


Ibu hanya menggelengkan kepala, setelah itu menerima air yang Sinta sodorkan.


"Gak perlu, Yu. Ibu cuma sedikit kaget saja," ucap Ibu dengan raut senyum di wajah. Aku menghela napas lega. Ternyata Ibu cukup kuat dengan apa yang terjadi barusan.


"Benar tidak apa-apa, Mbak? Tidak perlu ke dokter?" tanya Pak Handoyo khawatir. Ibu kembali menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Tidak perlu, Mas Yo. terima kasih. Pak RT, terima kasih karena sudah mau datang kesini. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Pak RT dan Mas Yo gak datang," ujar Ibu pada kedua pria itu.


Pak RT dan Pak Handoyo menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Mbak. Kami senang bisa membantu. Lain kali kalau ada apa-apa, kalian hubungi saya saja. Saya akan berusaha membantu warga yang kesusahan," ujar Pak Rt.


"Iya Pak RT, terima kasih banyak," ucapku terhadap Pak RT.


"Pak Dhe Yo, terima kasih." Kali ini aku mengucapkan kata terima kasih kepada Pak Handoyo.

__ADS_1


"Sama-sama, Yu. Untung saja tadi Sinta pulang ke rumah dan minta Bapak panggil Pak RT. Kamu tidak dikasarin sama Hilman, kan?" tanya Pak Yo.


Aku menggelengkan kepalaku. Mengingat kata 'dikasarin' yang tadi diucapkan oleh Pak De Yo membuat aku jadi ingat apa yang tadi aku lakukan terhadap Mas Hilman. Semoga saja hidungnya tidak patah. Tapi masa iya, akan patah oleh hanya pukulan seorang wanita. Ah, sudahlah. Kenapa juga aku harus berpikiran seperti itu. Biarkan saja. Sebuah luka berdarah akan sembuh seiring bergantinya waktu, tapi ucapan dia tentangku tadi tidak bisa disembuhkan dengan mudah meski waktu telah berganti.


Kedua lelaki dewasa itu kini berpamitan pulang karena waktu juga sudah beranjak malam. Tak lupa dengan pesan pada kami untuk memanggil mereka kembali jika sewaktu-waktu Mas Hilman datang kembali ke rumah ini. Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk kebaikan yang mereka tawarkan itu.


"Jangan lupa kunci pintunya, dan lihat dulu siapa yang datang," ujar Pak Handoyo. "Sinta, lain kali lihat dulu jika ada tamu. Kalau tamu itu Hilman, jangan bukakan pintu. Mengerti?" Kali ini Pak Yo bicara dengan putrinya seraya menunjuk di depan hidung Sinta.


"Iya, Pak." Sinta mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah. Kalau beitu kami pamit dulu. Ayu, Mbak Yu. Hati-hati di rumah, ya." Pak RT kembali berpamitan. Aku mengangguk juga dengan ibu yang kembali mengucapkan rasa terima kasihnya terhadap kedua pria itu.


Aku dan Sinta membawa Ibu ke kamar setelah kepergian Pak Yo dan Pak RT. Kini Ibu berbaring di atas kasurnya. Tak lupa Sinta menyiapkan obat yang biasa Ibu konsumsi bilamana mungkin rasa sakitnya bisa saja kambuh.


"Untung saja tadi Bapak sama Pak RT cepat datang. Mbak Ayu gak apa-apa, kan tadi?" tanya Sinta kepadaku.


"Tidak apa-apa, Sin. Alhamdulillah. Terima kasih tadi kamu sigap memanggil bapak dan juga Pak RT," ucapku kepadanya.


"Terima kasih, ya." Aku mengelus punggung Sinta. Kalau tidak ada dia, entah bagaimana nasibku sekarang ini. Bisa saja Mas Hilman menggila tadi.


"Maaf ya, Mbak. Salah Sinta karena tadi gak lihat dulu siapa yang datang, Sinta langsung buka pintu tadi," ujarnya dengan rasa bersalah. Dia menundukkan kepala, selalu seperti itu jika dia merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Bukan salah kamu juga," ucapku menenangkan.


"Iya, Sin. Bukan salah kamu. Jangan salahkan diri sendiri. Ini juga jadikan sebagai pelajaran kalau lain kali kita harus lebih hati-hati," ujar Ibu kini menambahkan.


"Enggeh, Budhe." Sinta mengangguk pasrah. Dia kini duduk di sebelah Ibu.


"Kok bisa sih Mas Hilman datang kesini dan menuduh Mbak dengan laki-laki lain?" tanya Sinta padaku. Dia dan Ibu menatapku dengan rasa ingin tahu.

__ADS_1


Aku jadi salah tingkah. Tadinya aku tidak mau menceritakan tentang pertemuanku dengan Arga. Ibu sedikit tidak suka dengan laki-laki itu.


"Iya, Yu. Kenapa bisa Hilman tuduh kamu selingkuh dengan laki-laki lain. Apa kamu memang punya hubungan sama orang lain?" tanya Ibu.


"Enggak, Bu! Ayu gak sama siapa pun!" Aku berseru menyanggah tuduhan Ibu barusan.


"Alhamdulillah. Ibu juga gak percaya kalau kamu sama yang lain. Tapi kenapa Hilman tuduh kamu begitu?" tanya Ibu lagi. Ibu dan Sinta menatapku dengan tajam, mengharapkan jawaban atas pertanyaan mereka tadi.


Aku menghela napas panjang. Haruskah aku bercerita? Ibu tidak akan marah mungkin, ini bukan kesengajaan bertemu dengan dia.


"Tadi aku bertemu dengan Arga, Bu." Akhirnya aku jujur saja, daripada disangka yang tidak-tidak.


"Arga?" tanya Ibu. Aku mengangguk sambil menundukkan kepala. Tidak tahu bagaimana tanggapan Ibu karena aku bertemu dengan dia.


"Gak sengaja, Bu. Ayu bertemu Arga di kantor tadi ...." Selanjutnya, seperti biasa aku akan bercerita kepada Ibu. Sepertinya percuma juga aku menyembunyikan apa pun, perasaan seorang Ibu sangat peka, meski aku tidak mengatakannya.


Raut wajah Ibu berubah setelah aku selesai bercerita. Entah apakah Ibu akan marah atau tidak, tapi aku akan terima jika memang Ibu akan marah terhadapku.


"Ah, ya sudah lah. Kalau hanya tidak sengaja bertemu, yang penting kamu gak dekat lagi dengan dia. Ibu gak mau," ujar Ibu kepadaku.


"Iya, Bu." Aku hanya patuh mendengar Ibu. Apa pun yang Ibu katakan kini akan aku turuti. Ibu orangtua satu-satunya yang aku miliki sekarang ini.


Sinta menatapku tidak mengerti. Memang selama ini tidak pernah ada pembahasan tentang pria yang bernama Arga. Wajar jika gadis ini kebingungan.


"Eh iya, Mbak. Kok bisa ya Mas Hilman curiga dan menuduh Mbak jalan dengan laki-laki lain sampai dia bicara seperti itu tadi?"


"Aku sampe gemes loh Mbak sama Mas Hilman tadi. Mbok yo kalau salah satu sudah gak nyaman ya lepasin aja. Kok dia mau miliki dua-duanya. Kayak itu tuh, serial drama yang lagi viral sekarang ini," ujar Sinta dengan nada gemas dengan bibir yang ia majukan ke depan. Wajahnya terlihat lucu. Sinta memang terkadang bisa mencairkan suasana yang beku.


Aku mengernyit heran dengan judul serial yang dia maksud.

__ADS_1


"Itu loh, Mbak. Ish, Mbak nih! Layangan Pedhot!" ucapnya dengan nada berseru, seraya menjawil lenganku. Baru setelah itu aku ingat dengan serial tersebut, aku belum melihat serial yang berasal dari kisah nyata itu sama sekali. Kesibukanku dalam dunia ketik mengetik dan mengurusi surat-surat persyaratan membuat aku belum bisa menikmati waktuku dengan baik.


"Iya, Sin. Ya, Mbak lupa!" Aku balik berseru dengan wajah malas terhadapnya. Dia memang selalu ingat dengan serial drakor atau serial tv yang dia tonton. Setiap jalan cerita. Terkadang dia bisa lancar menghapal dialog, tapi untuk materi kuliahnya kenapa lebih sering lupa dan lebih sering bertanya kepadaku?


__ADS_2