
Ayu
"A-apa?"
Aku menahan tawa, menahan senyum geli melihat raut wajahnya yang kebingungan seperti itu. Dia yang tadi aku lihat wajahnya memerah menahan emosi, kini berubah bak anak kecil yang kebingungan saat ditanya perhitungan lebih dari sepuluh.
Ku palingkan wajahku ke samping, tidak ingin kebablasan tertawa dan membuat suasana menjadi kacau.
"Apa kamu gak dengar? Kamu gak mau dapat restu dari Ibu? Tidak apa-apa kalau kamu gak mau, tapi jangan kecewa dan ngamuk kalau hal itu sampai terjadi. Aku dikhitbah oleh pria lain," ucapku. Kulirik dia yang masih berwajah kebingungan.
"Ja-jadi ... ini maksudnya ... kamu menunggu aku?" tanya Arga dengan tatapan tidak percaya.
"Bukan aku juga, tapi Ibu."
Tiba-tiba Arga bangkit dari duduknya dengan gerakan cepat, hingga memaksa aku mengikuti gerakannya dengan tatapan mata. Kursi berderit dengan cukup keras. Beberapa orang menoleh ke arah kami dari tempatnya.
Arga maju, mendekat ke arahku dengan masih tidak percaya. Bibirnya bergerak berusaha untuk tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.
"Se-serius ini?" Dia bertanya dengan nada suara yang bergetar.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Iya. Ibu sudah setuju, Ga."
Arga terdiam, menatapku. Kini terlihat ada air yang mengalir dari sudut matanya.
"A-aku gak bisa bicara apa-apa," ucapnya, salah tingkah seraya menutup mulutnya.
__ADS_1
Sungguh lucu, lalu apa yang barusan dia katakan?
Arga mengusap wajahnya yang basah, kemudian mengambil tanganku hingga aku harus berdiri mensejajari tubuhnya.
"Ini ... gak main-main, kan?" tanya Arga sekali lagi, kepalanya menggeleng dengan gerakan terpatah.
"Enggak."
"Bener?"
Aku mengangguk. "Bener!"
"Ah ...!" Dia terlihat sulit bicara. Wajahnya semringah. Tangannya yang memegangi tanganku terasa dingin seketika.
Sejenak kami diam, tatapan Arga masih diliputi rasa ketidakpercayaan terhadapku, hingga dia tersadar saat aku mengisyaratkan padanya dengan gerakkan kepala. Seketika pria itu melepas pegangannya.
Aku jadi tertawa geli dengan tingkahnya, ingat dengan film yang pernah aku tonton.
Banyak orang yang ada di sana menatap kami dengan bingung, sebagian terlihat senyum-senyum.
"Aku akan menikah!" bisik Arga pada pengunjung di sebelah meja kami dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia. Mereka yang diajak bicara tersenyum dan menganggukkan kepala, ada juga yang mengucapkan kata selamat untuk kami dan mendoakan hal yang baik.
Aku jadi malu. Tidak pernah menjadi sorotan dan perhatian orang lain sebelum ini. Orang lain masih memperhatikan kami, dan rasanya aku ingin bersembunyi saja.
Arga membalikkan tubuhnya kembali. Dia tersenyum dengan sangat lebar.
"Setelah ini kita pergi cari cincin, ya," ucapnya. Aku hanya melongo mendengar permintaan dia.
__ADS_1
"Ini sudah malam, Ga."
Arga menatap ke arah luar, di mana keadaan di luar langitnya sudah gelap pekat. Lampu jalanan dan sorot dari kendaraan kini yang mendominasi di luaran sana.
Dia menepuk keningnya dengan keras. "Oh, iya. Aku lupa. Kalau begitu besok?" tanya Arga.
"Oke."
Kami masih diam, berdiri, menjadi sorotan beberapa pengunjung yang lain, tapi tidak lantas membuat kami ingin duduk. Berdiri berdekatan dengan jarak yang dekat dengan dia membuat aku salah tingkah, tapi juga terasa sangat nyaman. Tidak peduli dengan tatapan orang lain dan juga ada di mana kami. Kami bagai dua anak TK yang sedang dekat karena baru saling kenalan, masih malu-malu.
Seorang pelayan tak lama datang, membuat kami kembali duduk, dan menikmati hidangan yang tersedia.
Aku dan Arga ... rasanya canggung juga duduk saling berhadapan dengan keadaan kami yang seperti sekarang ini. Kami ... hubungan kami belum jelas apa, dia tidak menyatakan cinta maupun mengklaim diriku miliknya. Jadi? Aku ini siapa dia sekarang?
Arga bukannya makan, sedari tadi pria itu hanya menatapku sambil tersenyum tidak karuan, senyum, datar sebentar, senyum lagi semakin lebar. Makanan yang ada di depannya belum dia sentuh sama sekali. Tatapan darinya membuat aku menjadi risih.
"Kamu gak makan?" tanyaku, ku masukkan makanan sedikit demi sedikit ke dalam mulut. Dia yang terus memperhatikan aku, tidak bisa membuat aku bebas melahap makananku. Tiba-tiba saja aku ingin menjadi anggun di depannya.
"Gak, aku dah kenyang lihat kamu, kok."
Blush ....
Panas rasanya wajah ini karena ucapan dan sikap dia. Malu rasanya.
"Hentikan deh. Jangan gombal!" ucapku. Ku hentikan makan, dan menunduk, menghindari tatapan dari dia yang terus saja tanpa henti dan tidak ada niatan untuk berhenti memperhatikanku.
Arga tertawa kecil. Tangannya sedari tadi terlipat di depan dada, terlihat jika dia semakin cool dengan melakukan hal itu. Dadaku semakin berdebar dengan kencang karena perlakuan dia.
__ADS_1
"Gak gombal, memang aku gak ingin makan, karena selera makanku sudah hilang. Aku lebih ingin memakan kamu segera."