
Apa yang terjadi dua hari yang lalu, semoga saja tidak akan terjadi lagi. Setelah kejadian itu Sinta meminta maaf padaku dan bercerita jika tiba-tiba saja Ibu dari Mas Hilman datang ke rumah saat Sinta sedang menyapu halaman samping rumah. Sudah berapa kali diberi tahu jika aku dan Ibu tidak ada, tapi Ibu dari suamiku itu tetap saja memaksa masuk dan menunggu kami pulang.
"Mbak mau kemana?" tanya Sinta saat melihat aku keluar dari kamar Ibu. Sinta bertanya pastilah karena aku sudah bersiap dengan pakaian rapi dan juga menyandang tas. Jilbab pashmina yang aku pakai aku lilitkan di leherku.
Aku memang memutuskan untuk memakai jilbab sedari kemarin. Ini hal yang sudah sangat lama aku inginkan, tapi Mas Hilman tidak menyukai aku yang terbungkus oleh kain-kain itu, terlihat risih dan juga panas katanya. Kasihan kepadaku, meski aku sudah menjelaskan padanya jika sekarang ini banyak bahan kain yang membuat si pengguna nyaman sepanjang hari.
"Mau ke kantor polisi," jawabku.
"Mbak jadi bikin laporan sekarang?" tanya Sinta lagi.
"Hu-um, jadi sekarang. Lebih cepat lebih baik, karena Mas Hilman juga tidak kelihatan itikad baiknya sama sekali," jawabku lagi. Aku sudah cukup bersabar dan menunggu Mas Hilman memberikan buku nikahku. Bahkan pesanku juga hanya dia baca tanpa dia balas sama sekali.
"Ibu mana?" Aku balik bertanya pada Sinta.
"Di belakang, tuh. Lagi kasih makan ayam," tunjuk Sinta dengan menggunakan dagunya.
Aku berjalan melewati Sinta untuk ke arah pintu dapur dimana Ibu sedang memberi makan ayam-ayamnya yang masih kecil, baru menetas beberapa hari yang lalu.
"Bu!" panggilku pada Ibu. Ibu menoleh dan segera menyingkir dari ayam-ayamnya itu dan kemudian mencuci tangannya.
"Iya?" Ibu kini mendekat seraya mengelap tangannya yang basah pada handuk yang tersampir di kawat jemuran.
"Ayu ke kantor polisi dulu ya, Bu." pamitku pada Ibu.
"Berangkat sekarang?" taya Ibu lagi.
"Iya, Bu. Takut ngantri disana. Ibu gak apa-apa, kan Ayu tinggal di rumah?" tanyaku dengan khawatir.
"Gak apa-apa. Kan ada Sinta," ucap Ibu dengan tersenyum.
"Kalau begitu Ayu pergi sekarang ya, Bu." Pamitku untuk yang kesekian kali. Aku mengulurkan tangan untuk mengambil tangan Ibu dan mengecup punggung tangannya. Jilbab yang aku pakai menjuntai ke bawah, segera aku menyampirkannya kembali ke pundakku setelah bangkit tegak berdiri.
__ADS_1
"Iya, kalau begitu kamu hati-hati ya, Yu. Jangan ngebut-ngebut. Ibu doakan kalau urusan kamu lancar disana," ucap Ibu dengan doa yang terucap dari bibirnya.
"Aamiin. Doakan saja ya, Bu. Semoga saja memang bisa diurus sekarang ini."
Aku dan Ibu masuk ke dalam rumah dan mendapati Sinta sedang membuat es kopi. TV menyala menayangkan serial 'kumenangis'.
"Sin, Mbak titip Ibu ya. Jangan biarkan ada orang asing masuk lagi ke dalam rumah, apalagi yang kemarin itu. Kalau mau juga bawa Ibu ke rumah Ibu kamu," ucapku pada Sinta.
"Iya, Mbak." Sinta mengangguk dan mengulurkan tangannya hendak mengambil gelas itu, tapi kalah cepat karena aku meraihnya terlebih dahulu. Terlihat raut wajahnya yg tak suka, bibirnya mengerucut maju hingga terlihat gemas. Ingin sekali aku menarik bibir itu dan mengikatnya dengan tali.
"Enak," ucapku dengan tersenyum menang. Rasa dingin manis sedikit pahit kini merajai indera perasaku.
"Ya enak lah, tinggal minum," ucapnya dengan kesal seraya mendelik ke arahku. Aku hanya tersenyum meringis ke arahnya. Sisa es kopi itu tinggal setengah gelasnya.
"Titip Ibu, Mbak mau pergi. Daaahh!" Aku pergi dari sana seraya melambaikan tanganku padanya. Sinta hanya mengangkat tangannya sedikit karena pandangannya kembali pada layar datar di depannya.
Udara cukup panas menjelang siang ini. Aku kini melaju di tengah jalanan yang berdebu. Kemarin aku juga sudah bertanya kepada Pak RT, sekiranya syarat apa saja yang perlu aku bawa ke kantor polisi.
Tiga buah panggilan tertera dilayar itu. Aku tidak tahu siapa yang memanggil, tapi nomor ini tidak ada dalam kontakku. Beberapa pesan juga terdapat di sana menunggu untuk aku buka. Salah satunya dari nomor yang barusan menghubungi ku.
Kita ketemu di cafe matahari di jalan XX siang ini jam dua belas. Tulis yang tertera di sana. Aku mengernyitkan keningku, bingung dengan nomor siapa ini. Tidak ada foto profil yang membuat aku bisa mengenali siapa orang ini.
Baru saja aku mengetik untuk bertanya, pesan baru sampai dari nomor yang sama. Aku membuka pesan itu.
Hana.
Aku terpaku ketika melihat satu nama itu. Bingung karena tidak biasanya dia menghubungiku, apalagi dengan menggunakan nomor baru.
Aku merasa bingung haruskah aku menemui Hana? Atau aku melanjutkan perjalananku ke kantor polisi? Apa yang dia mau? Apakah dia akan marah-marah sama seperti Ibu Mertua kemarin? Atau ....
Ah, semoga saja dia membawa kabar baik.
__ADS_1
Jam yang tertera di hpku ini masih jam sebelas. Gegas aku mencari nama dan alamat cafe yang dia maksud. Dari jarak yang ditunjukkan oleh GPS waktu menuju ke cafe itu hampir empat puluh menit. Kupelajari dan ku ingat jalan menuju kesana.
Empat puluh menit kemudian, aku sampai di cafe yang dimaksud. Cafe ini lumayan besar. Cukup ramai karena beberapa orang sudah berada di dalam sana. Aku tebak mereka orang-orang yang ada di cafe ini didominasi oleh anak kuliahan karena tempat ini tidak terlalu jauh dari universitas yang cukup ternama.
Kembali aku keluarkan hpku dan menghubunginya. Dia hanya membalas dengan pesan singkat.
Masuk saja dulu. Aku masih di jalan.
Aku menghela napas dengan pelan, aku kira dia sudah berada disini.
Aku masuk ke dalam cafe dan mencari tempat yang kosong. Sulit sekali mencari tempat duduk sekarang ini karena semua tempat hampir penuh.
Kuedarkan pandangan ini menuju sebuah meja kosong yang ada di sudut ruangan. Agak menyendiri karena tempat itu tidak cukup strategis. Segera aku menuju kesana dan duduk.
Seorang pelayan datang mendekat ke arahku dan bertanya sekiranya aku ingin memesan. Aku melihat menu yang ada disana dan menyebutkan salah satu minuman dingin.
Sepuluh menit aku menunggu Hana, tapi wanita itu belum juga datang, minuman yang ada di depanku sudah hampir setengah kuminum.
Kucari dengan pandanganku ke arah pintu masuk, tapi wanita itu tidak kelihatan juga batang hidungnya, yang ada malah kudapati beberapa tatapan dari pengunjung cafe ini yang membuat aku risih.
Aku mengeluarkan hp dari dalam tas dan mengetikkan sesuatu di layar benda pipih itu. Sudah kurang baik apa aku menunggu dia disini lumayna lama sedangkan dia belum juga sampai. Pesan kukirim dengan isi aku akan pulang kalau dia tak jadi datang.
"Maaf lama menunggu." Terdengar suara yang sangat aku kenal bersamaan dengan suara kursi yang tertarik bergesekan dengan lantai.
"Sudah datang? Baru saja aku kirim pesan sama kamu," ujarku tanpa menyambut kedatangannya. Wanita itu terlihat cuek tanpa rasa bersalah, duduk di kursi.
Aku perhatikan dia lumayan cantik hari ini, pakai perona pipi dan juga lipstik, tapi aku lebih suka jika dia polos tanpa make up, terlihat seperti remaja tanggung.
Dia terlihat melongok tasnya dan memasukkan tangan ke sana. "Oh, hu-um. Tidak sabaran!" cercanya dengan sambil tertawa mengejek.
Aku menghembuskan napas kesal. Coba dia jadi aku menunggu disini sekian menit, sendirian dengan tatapan yang mengganggu dari beberapa orang yang lain.
__ADS_1
"Ada apa kamu mau kita ketemu disini?" tanyaku dengan secara langsung tanpa menawarinya minum atau makan.