Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
163. SAH!!!!!!


__ADS_3

"Bismillahirrohmanirrohim. Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Safira binti Darmawan dengan maskawin seperangkat alat solat dan uang tunai senilai satu juta tiga ratus ribu rupiah, tunai!" Terdengar suara Arga yang lantang mengucapkan kalimat sakral di speaker dengan tanpa hambatan dalam satu tarikan napasnya. Aku sendiri masih menahan napasku, rasa sesak mulai terasa saat belum terdengar suara sahutan dari yang lainnya.


"SAH!!!" Teriak yang lain menggema di dalam sana, disusul dengan ucapan hamdalah dan juga doa. Aku kembali bisa bernapas seakan ucapan hamdalah tadi dan doa itu menghilangkan semua segala sesuatunya yang mengganjal dan mengganggu di dalam diri ini. Air mata mengalir melewati pipi, tidak bisa aku tahan lagi. Bahagia, haru, dan sedih bercampur baur di dalam sanubari. Pun, dengan Ibu. Kulihat Ibu sama menyusut air matanya dan kemudian memelukku penuh haru.


"Alhamdulilah. Alhamdulilah," ucap Ibu dengan isakan kecil. Aku balas memeluk Ibu dengan erat.


"Selamat, Mbak Ayu," ucap Mbak Yeni.


Aku mengangguk, Ibu melepas pelukanku dan mencium keningku seraya menahan isak tangisnya.


"Alhamdulilah, Yu. Alhamdulillah, Nak."


Kami menangis, melepaskan rasa sesak dan haru di dalam dada. Mbak Yeni hanya mengunggu di samping Ibu seraya tersenyum.


"Aduh, ini kok malah nangis sih, nanti make up luntur itu kumaha?" Suara bibi terdengar dari balik pintu, baru saja masuk ke dalam ruangan ini. Aku dan Ibu menoleh ke arahnya. Bibi memberikan tisu yang ada di atas meja pada kami.


"Susut, ah. Sayang itu make up nanti luntur gimana?"


Kami tidak menjawab, hanya tersenyum malu. Benar juga, aku tidak memikirkan hal itu, yang aku tahu jika aku baru saja sah menjadi istri Arga dan rasanya bahagia sekali sampai aku tidak bisa menahan tangisku ini.


MUA yang menunggu sedari tadi mendekat dan mengecek riasan di wajahku, dia hanya membubuhkan bedak tipis dengan menggunakan brush besar.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mari saya antar ke dalam," ucap MUA itu.


Aku di iring keluar dengan Ibu yang berada di sampingku. Kami berjalan dengan langkah yang lambat, sedikit terhambat oleh bawahan kebaya yang sempit pada area lutut. Dada ini tak henti berdebar saat langkah kaki semakin dekat dengan ruang dalam masjid.


Ku lihat banyak orang yang hadir di dalam ruangan besar ini, beberapa aku kenal adalah tetangga dan kerabatku, serta dari pihak keluarga Arga yang datang tempo malam itu. Aku menundukkan kepala seraya terus melangkah pelan, tidak bisa mengontrol detak jantung yang ada di dalam dada.


"Alhamdulilah, cantik sekali pengantin wanitanya. Mari sini, duduk bersama dengan suami." Entah itu suara siapa, aku tidak melihat orang yang berbicara, tapi seruan godaan dari para tamu yang lain ber'ciee-ciee' dan bersiul membuat aku semakin ingin menghilang saja. Panas wajah ini.


"Duh, malu kayaknya ni pengantin wanitanya. Tapi kalau nanti malam, malu gak ya ...." Satu godaan lagi terdengar hingga membuat riuh suasana di dalam sini. Tertawa dan juga menggangguku.


Aduuuhhhh🙈🙈🙈.


Ibu membawaku duduk di samping Arga, di depan satu meja kecil yang ada di sana. Mamang duduk di depan Arga bersama dengan Pak Penghulu, di sebelahnya kanan dan kiri kami ada dua orang yang aku kira saksi dari pernikahan kami. Tidak kuat untuk mengangkat kepala ini sehingga aku masih saja menundukkan kepala. Malu rasanya di tatap oleh yang lainnya dengan wajah-wajah yang tersenyum seperti itu.


"Aha-aha!" jawab yang lainnya.


Aku menunduk semakin dalam mendengarnya. Suasana masih riuh dengan guyonan mereka hingga akhirnya suara Pak penghulu terdengar dan menghentikan suara-suara itu.


"Sudah, jangan digoda lagi. Kasihan pengantin wanitanya. Malu. Cukup nanti yang goda suaminya saja di dalam kamar."


"Cieeee!"

__ADS_1


Please, hentikan! Aku malu!


Ku lihat dari sudut mata, Arga melirik ke arahku dengan senyuman di bibirnya. Aku jadi panas dingin ditatap seperti itu olehnya. Apalagi di sini masih banyak tamu yang hadir.


Pak penghulu berbicara kembali, memberi selamat kepada kami berdua, memberi wejangan tentang pentingnya komitmen di dalam pernikahan, bagaimana aku harus bersikap sebagai istri yang baik, dan Arga yang harus memberikan nafkah dan juga menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Kemudian kami menandatangani buku nikah yang dulu pernah kami miliki dengan pasangan masing-masing.


"Alhamdulilah, kalau sudah punya ini berarti aman, ya?" ujar Pak Penghulu seraya tersenyum kepada kami. "Ini disebut juga sebagai SIM. Surat Izin Menginap. Gak ada yang akan nilang kalau sudah punya SIM ini, tolong dijaga baik-baik ya, Mas Arga dan Mbak Ayu." Pak Penghulu mengerling ke arah kami.


Acara berlangsung lancar dan khidmat, lalu keriuhan kembali terdengar saat aku mencium tangan Arga dan Arga mencium keningku.


"Assalamualaikum, Istriku. Kamu sangat cantik sekali!" bisik Arga di dekat telingaku.


Ayu Safira



Eka Arga Ramayudha



****

__ADS_1


Kondangan, Yuk!


__ADS_2