
Ayu
Arga hari ini libur, setelah beberapa minggu kemarin dia terus menerus bekerja sehingga anak-anak hanya bertemu ayahnya di malam hari saja, itu pun jika mereka belum tertidur.
"Sudah siap?" tanya Arga saat aku menggendong Alma di depan sedangkan Azka aku dorong di trollernya. Gara sudah berada di dalam mobil dan melambaikan tangannya pada kami.
"Siap Papa!" Aku melambaikan tangan Alma dan menirukan suara anak kecil. Alma hanya celingak-celinguk sambil bersuara dengan keras. Tanpa terasa kini Alma sudah berusia empat bulan saja, padahal rasanya baru kemarin aku melahirkan Alma di rumah sakit.
"Ayo kita pergi!" ucap Arga lalu mendorong stroller Azka menuju ke mobil. Azka tertawa senang dengan perlakuan ayahnya.
Kami menuju ke taman, yang dekat rumah saja karena hari ini sedikit ada awan hitam di langit, tapi masih banyak cerahnya, semoga hari ini tidak akan turun hujan.
Di belakang Gara sedang mengajak main Azka, aku tidak khawatir dengan Azka karena dia duduk di kursinya, aku membeli khusus untuk Azka duduk di mobil. Tidak ada yang aku ajak untuk menjaga ketiga anakku karena kami ingin memiliki quality time bersama dengan keluarga kecil kami.
Eh, kami ini keluarga kecil atau keluarga besar ya?🤔
"Jangan dilempar Kaka!" seru Gara kepada adiknya, aku menoleh ke belakang dan melihat Gara mengambil mainan robot miliknya dari lantai mobil.
"Abang Angga capek ngambilnya!" ucap Gara kesal. Azka berteriak, menyebutkan sesuatu yang masih belum jelas sambil tertawa keras.
"Kaka, jangan nakal, Sayang. Kasih mainan Kaka dong, Bang," ucapku pada Gara yang sedari belum lama Alma lahir minta diganti nama panggilannya dengan nama Angga. Dia ingin mengganti panggilan karena semua anggota keluarga dipanggil dengan awalan huruf A, baik ayah ibunya maupun kedua adiknya.
Ya ampun, lucu sekali saat dia meminta nama panggilan tersebut. Sampai manyun beberapa hari karena aku dan yang lainnya selalu lupa dengan nama panggilan itu. Sudah terbiasa memanggilnya dengan nama Gara.
"Sudah, Ma. Tapi Kaka ambil mainan Abang terus!" protes Gara dengan nada yang kesal. Aku sedikit pusing jika seperti ini, memang wajar adik dan kakak, tapi nyatanya aku masih kewalahan jika Azka membuat ulah. Anakku satu ini sepertinya sedikit mirip denganku yang sering jahil kepada temanku dulu.
"Ini, Sayang. Coba kasih Kaka susu. Biar anteng." Aku memberikan botol susu milik Azka kepada Gara, setelah itu tidak terdengar lagi suara gaduh dari belakang.
Tak lama kami sampai di taman, sangat ramai sekali karena ini hari minggu, menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga. Sedikit penuh di taman dengan rumput sintetis yang ada di sini, banyak yang sudha mengambil tempat di sana, anak-anak berlarian di atas rumput buatan tersebut dan juga beberapa ada yang bermain bola.
"Ma, Abang mau main bola!" teriak Gara menunjuk pedagang bola yang ada di sana.
"Sama Papa, Mama repot bawa Alma," ucap Arga mengambil tangan Gara dan membawa stroller dengan Azka di dalamnya menuju ke rumput buatan tersebut. Aku mengikuti mereka dari belakang sambil menggendong Alma.
Azka diturunkan di rumput, sudah tidak kaget lagi dengan benda tersebut di bawah kakinya, dulu masih sering menangis saat menyentuh rumput ini, lembut jika menurutku, tapi entah menurut Azka seperti ketakutan.
Tak sengaja saat memperhatikan Arga dan Gara, aku melihat Mas Hilman bersama dengan Dewi yang berjalan bersamaan dengan Vita dan anak kecil yang digendong Mas Hilman.
__ADS_1
"Ayu!" teriak Mbak Dewi sambil melambai ke arahku. Dalam hati aku berdebar, bukan karena Mas Hilman, tapi aku memikirkan bagaimana reaksi suamiku jika ada mantanku di sini.
Terpaksa aku membalas lambaiannya. Mereka berempat mendekat. "Boleh kami gabung?" tanya Mbak Dewi.
"Boleh, silakan," ucapku mempersilakan.
Dewi dan Mas Hilman duduk di dekat kami, begitu juga dengan Vita, tapi lebih dekat denganku karena Vita mengajak Alma mengobrol dengan bahasa khas anak kecil.
"Sama siapa ke sini?" tanya Dewi.
"Tentu sama suaminya lah," jawab Mas Hilman terdengar ketus. Aku jadi tidak enak hati mendengar dia bicara dengan nada tersebut.
"Ih, Mas. Aku tanya sama Ayu juga!" kesal Dewi menyikut perut suaminya. Mas Hilman mengaduh pelan.
"Sakit ih, aku kan cuma jawab aja. Gak mungkin kan kalau Pak Arga biarin istrinya di sini sendirian," ucap Mas Hilman lagi.
"Eh, iya, ya. Hehe, aku gak kepikiran ke sana. Gak kelihatan soalnya," ucap Dewi sambil meringis pelan. Mas Hilman mencebik kesal, hal yang tidak aku sangka melihat raut wajahnya yang seperti itu. Aku sangka dia bahagia bersama dengan Dewi sehingga bisa sangat akrab sekali dan tidak sungkan bersikap seperti itu di hadapan orang lain.
"Iya, Ayahnya anak-anak lagi beli bola," ucapku kini menunjuk Arga dan Gara yang sudah selesai membeli dan kembali dengan membawa dua buah bola di tangannya.
"Ini siapa? Ganteng banget," tanyaku pada anak yang ada di pangkuan Mas Hilman. "Kalian program bayi tabung?" tanyaku pada mereka. Senyum Dewi tiba-tiba berubah dan menggelengkan kepalanya.
Eh, maksudnya apa ini? Apa aku salah bicara? Apa aku menyinggung perasaannya?
"Maaf, Mbak. Maksudnya apa ya?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Ini anak titipan Allah yang diberikan untuk kami. Ada seseorang yang menyimpan Vano di teras rumah dan suruh kami jagain," ucap Dewi yang membuat aku terkejut, tapi juga masih bingung. "Aku gak bisa hamil, Yu. Aku kecelakaan dan rahimku diangkat semenjak masih SMA," ucapnya dengan senyuman di bibirnya.
Aku menutup mulutku dengan satu tangan, tak percaya dengan apa yang dia katakan barusan.
"Maaf, Mbak, Mas. Aku pikir kalian berobat dan melakukan inseminasi," ucapku dengan rasa bersalah yang besar. Aku telah membuka luka hatinya lagi rupanya.
"Gak apa-apa. Sudah jangan dipikirkan. Aku senang kok meski tidak bisa punya anak tapi ada Vano dan juga Vita yang akan menghiasi hari-hari kami," ucapnya padaku. Wajahnya kini kembali riang seperti sebelumnya.
Aku yang pernah tujuh tahun berumah tangga dengan Mas Hilman berusaha untuk kuat, tapi sosok Dewi lebih kuat dariku karena dia mengalaminya semenjak masih SMA, dan dia tidak mempunyai kesempatan untuk mengandung seorang anak.
"Maaf, Mbak. Aku benar-benar gak tau," ucapku meminta maaf.
__ADS_1
"Ih, gak apa-apa. Aku gak masalah kok, yang penting kami sudah bahagia sekarang ini," ucapnya sambil mengusap lenganku.
Arga telah sampai di tempat kami dan mengangguk kepada kedua orang dewasa yang ada di depanku.
"Eh, kalian ada di sini rupanya?" tanya Arga mengulurkan tangannya pada Mas Hilman. Dua laki-laki itu kini saling berjabatan tangan. Arga duduk di sampingku sedangkan anak-anak bermain dengan bolanya di dekat kami.
"Tau ada Vita tadi aku beli bola tiga," ucap suamiku.
"Tidak perlu, Pak. Biar nanti saya belikan sendiri. Terima kasih. Ini kebetulan sedang di sini dan Dewi lihat Ibu Ayu," ucap Mas Hilman, entah sejak kapan panggilannya berubah terhadapku.
"Eh, kok masih manggil saya bapak sih, kan saya bukan bos Mas Hilman lagi. Jangan lah formal gitu." Suamiku tertawa pelan. Aku malah tidak tahu jika Mas Hilman sudah keluar dari pabrik.
"Ah, sudah terbiasa, jadi susah kalau mau ubahnya juga," ucap Mas Hilman sama tertawa kecil. Dua laki-laki ini sibuk dengan pertanyaannya, sedangkan aku dan Mbak Dewi sibuk dengan membicarakan anak-anak.
"Kami pamit dulu, ya. Sudah siang, jam tidur Vano sebentar lagi, ucap Mas Hilman berpamitan kepada kami.
"Iya, silakan. Senang rasanya bertemu dengan Mas Hilman dan Istri."
"Sama, saya juga senang bertemu dengan Pak Arga dan keluarga. Sesekali Pak Arga berkunjunglah ke gubuk kami yang kecil, sepertinya anak-anak senang bermain ya," ucap Mas Hilman berbasa basi.
"Iya, insyaa Allah."
Setelah selesai dengan basa basi, keluarga kecil itu pergi dari hadapan kami, bola milik Gara diberikan kepada Vita meski Mas Hilman menolaknya, tapi Vita sempat merengek dan aku bilang tidak apa dengan bola tersebut. Toh, Gara juga merelakan bola tersebut untuk Vita,
Arga membeli lagi satu bola pengganti yang kemudian dimainkan oleh Gara dan juga Azka.
"Syukurlah, mereka sudah bahagia, Ma," ucap Arga tiba-tiba masih melihat keluarga kecil itu pergi menjauh. Tampak Mas Hilman tertawa dengan sangat lebar mengiringi langkah kaki Vita yang masih tertatih.
"Iya, Alhamdulillah mereka sudah bahagia. Aku senang, Pa. Kuasa Allah meski mereka berdua tidak bisa memiliki anak, tapi mereka mendapatkan kesempatan dengan cara yang lain." Mendengar cerita Dewi saat menemukan Vano di teras membuat aku menitikkan air mata, betapa kuasa Allah sangatlah besar dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.
"Iya, bersyukur diberi kenikmatan dengan cara yang lain. Seperti kita, banyak hal yang sudah kita lalui sehingga sekarang, hanya hal yang manis yang kita dapatkan."
Kami terdiam melihat keluarga kecil itu hingga akhirnya tidak nampak lagi mereka di pandangan kami.
"Ma," panggil Arga. Aku menolehkan kepala.
"Iya?"
__ADS_1
"Punya bayi lagi, yuk. Lucu. Satu aja lagi."
...TAMAT...