
Aku tidak bisa tidur malam ini dengan Arga yang berada di sampingku. Rasanya aneh. Sudah terbiasa tidur sendiri, tapi kali ini tidur ku ada yang menemani. Sedikit-sedikit melirik ke samping, dia yang sudah tertidur semenjak dua jam yang lalu terdengar suara dengkuran halusnya. Satu selimut hangat menutupi tubuh kami berdua. Jangan berpikir kami polos tanpa pakaian, ya. Kami sudah berpakaian lengkap. Takut jika nanti ada yang mengetuk pintu dan kami tergesa memakai pakaian. Takut jika Gara tiba-tiba ingin pindah dan tidur dengan kami.
Suara dari luar sudah tidak terdengar lagi. Ini sudah hampir jam dua malam, hampir tidak ada rasa kantuk yang mendatangiku, lebih kepada tidak bisa tidur karena ada orang asing yang baru tadi kemarin siang telah resmi menjadi suamiku.
"Hei, kok belum tidur?" tanya suara dari sampingku. Aku tidak tahu kapan pria ini terbangun.
"Gak bisa tidur," jawabku. Arga mendekat, menempelkan bibirnya ke bahuku, menghentarkan suasana yang aneh di dalam diri ini.
"Tidur. Besok kita harus bangun pagi dan pergi ke hotel," ucapnya. Aku mengangguk pelan. Arga beringsut, mengangkat kepalaku dan menyelipkan lengannya ke bawah sana. Dia memelukku dengan erat. Kembali mencium ku di kening.
"Tidur, jangan banyak pikiran. Nanti kalau kamu gak tidur bakalan ngantuk besok," ujarnya lagi. Dia berbicara dengan sangat santai sekali. Tidakkah dia tahu kalau aku sedang sport jantung di sini? Apa yang Arga lakukan sekarang ini sudah membuat aku dag-dig-dug tidak karuan. Berharap saja jika jantung ini masih aman ada di tempatnya besok pagi.
Suara dengkuran halus kembali tedengar, Arga telah menutup kedua matanya. Ku perhatikan wajah itu, sangat teduh sekali, sangat menyenangkan memperhatikan wajah dengan mata sipit yang tengah tertutup itu.
Tanpa sadar, aku mengulurkan tanganku, menyentuh ujung hidungnya dengan ujung jariku. Dia tampak terganggu, sedikit bergerak kepalanya, tapi tidak sampai membuka mata karena perlakuanku.
Aku tidak lagi mengganggunya, kasihan sekali rasanya. Ku lesakkan kepala ini ke dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang berdetak dengan pelan dan sangat teratur, menjumpai kedamaian yang berasal dari dalam sana. Sehingga perlahan suara detak jantung yang membuat damai itu benar-benar membuat aku terlelap ke alam mimpi.
***
__ADS_1
"Hei, bangun." Suara seseorang terdengar lirih. Mataku masih saja lengket saat aku merasakan ada tangan yang sedang menjepit dan menusuk-nusuk hidungku dengan ujung jarinya lembut.
"Yu, bangun. Sudah siang." Suara itu terdengar lagi.
Siapa? Kenapa ada suara laki-laki di dalam kamarku? Dan lagi rasanya kenyal dan basah bibirku ini.
Refleks aku membuka mata saat merasakan sebuah tangan merangsek masuk ke dalam pakaianku, mer*mas gundukan kenyal di tubuh bagian atasku.
Mataku membulat saat ku lihat sepasang mata sangat dekat sekali dengan mataku, hidung kami saling bersentuhan dan bibir kami ....
Dia tersenyum, menggigit bibirku dengan sedikit keras sehingga terasa sakit.
"Arga, kenapa kamu ada di sini?" tanyaku terkejut. Aku mengedarkan tatapanku ke sekeliling. Ini jelas kamarku, tapi kenapa Arga ada di sini.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku, dan kenapa kamu ada di rumahku?" tanya ku sedikit keras, tapi tetap menjaga nada suaraku agar tidak terdengar keluar. Bagaimana jika aku berteriak dan Ibu tahu ada Arga di kamarku? Pasti Ibu akan marah!
"He?" Arga terlihat dengan wajah yang bingung.
"Keluar, kamu. Aduh. Bagaimana kalau Ibu tahu ada kamu di sini. Ibu pasti akan marah!" seruku dengan sedikit kesal. Berani sekali dia datang ke rumahku dan masuk ke dalam kamarku. Bisa-bisa aku di cap anak durhaka dan lagi bisa jadi aku malah akan digantung di luar oleh Ibu!
__ADS_1
Segera aku bangkit dan mengunci pintu. Takut jika Ibu akan masuk ke dalam kamar dan mengetahui jika ada seorang laki-laki di kamar ini. Apa lagi laki-laki itu adalah Arga!
"Ga, lewat jendela!" tunjukku pada Arga. Keadaan di luar sudah lumayan terang. Sedikit bias matahari terlihat di kejauhan. Aku panik. Bagaimana tidak? Seorang laki-laki kini ada di dalam kamarku dan lagi Ibu tidak suka dengan Arga! Jika Arga keluar dari kamarku sekarang ini semoga saja tidak ada orang yang melihat di luar sana.
Oh. Matilah aku!
Arga hanya diam saja. Tidak bergerak sama sekali dari tepi ranjang. Dia hanya menatapku dengan wajah yang bodoh. Menggerakkan kepalanya seiring dengan gerakanku yang berpindah tempat. Aih, apa yang dia lakukan di sana? Kenapa hanya diam saja?
"Eh, kenapa hanya diam saja! Ayo cepat pergi sebelum ketahuan Ibu!" usirku. Arga masih diam. Aku menarik tangannya agar dia mengikuti.
"Pergi sekarang, mumpung masih pagi. Aku akan urus Ibu, kamu cepat pergi ya." Titahku. Arga masih menatapku bingung, membuat aku jengkel saja, apalagi dia tidak bergerak dari duduknya sama sekali.
"Hei, kamu mau usir aku?"
"Iya. Kamu pergi, nanti kalau Ibu tahu, Ibu bisa marah," ucapku dengan nada yang kesal. Sungguh aku tidak tahu akan apa yang terjadi selanjutnya jika Ibu tahu Arga ada di sini.
"Hei, Yu. Kamu mau usir suami mu sendri?" tanya Arga. Aku menghentikan tarikan pada tangannya dan menatapnya bingung. Arga mengambil tanganku dan juga tangannya, menyandingkannya dan memperlihatkan cincin pasangan di jari manis kami.
Astaghfirullah! Aku lupa!
__ADS_1