
Sudah hampir dua bulan ini aku bekerja di sini. Nyaman, itu yang aku rasakan, karena orang-orang yang ada di sekitarku sangat baik sekali. Tak ada sesuatu pun yang membuat aku marah atau kesal. Semua orang sangat baik dan juga sopan terhadapku. Meski mereka tahu statusku yang sekarang ini sudah sendiri, tapi tidak ada yang membahas masalah itu.
Dari lantai dua ini, dengan jendela kaca yang sangat lebar dari sisi dinding ke dinding yang lain. Dengan jelas aku bisa melihat pergerakan yang ada di luar sana. Lumayan untuk sekedar mengalihkan pandangan mata yang lelah karena melihat layar seharian.
"Mbak Ayu, Nina bawakan kopi." Nina dari luar mendekat dan menyimpan satu botol kopi instan yang dingin.
"Terima kasih," ucapku pada Nina.
"Mbak Ayu kelihatannya capek, kurang tidur ya?" tanya Nina padaku sambil duduk kembali di kursinya.
"'Iya." Aku tersenyum pada Nina. Semalam memang aku begadang untuk menyelesaikan tulisanku sampai jam dua malam.
"Apa karena lembur tugas kantor kemarin?" tanya Nina lagi dengan tak enak hati.
"Bukan, kalau itu sebelum tidur juga sudah selesai. Ada hal lain yang harus dikerjakan," terangku.
"Ah ... chat sama cowok nih pasti sampai pagi ya?" tanya Nina lagi dengan wajah yang mengganggu. Desi dan Amar menolehkan kepalanya seketika dari depan layar komputer.
"Bukan. Sok tahu! Bukan chat sama laki-laki, tapi baca novel online!"
"Oh, Mbak Ayu suka novel online juga toh? Aku kira Mbak Ayu ada yang mendekati dan main chat gitu! Hehe."
"Gak ada. Udah ah, aku mau kerja lagi." sergahku.
Aku kembali pada pekerjaanku, begitu juga dengan yang lainnya. Kami serius dengan pekerjaan masing-masing hingga hanya suara detak jam dan suara jari yang beradu dengan keyboard terdengar di ruangan ini.
Jam pulang kerja. Kami bersama-sama keluar dari gerbang RC, Nina dan Desi ada yang menjemput. Sedangkan Amar seperti biasa, akan menunggu kekasihnya yang juga seorang karyawan di perusahaan ini, bagian lapangan di gedung pemintalan benang.
"Mbak Ayu tumben gak bawa motor? tanya Desi saat kami baru saja keluar dari gerbang.
"Motornya lagi ngadat, kayaknya udah waktunya cek ke bengkel."
"Lah, ngadat kenapa? Kayaknya minta ganti yang baru, tuh!" seru Desi.
"Sepertinya!" jawabku mengiyakan seraya tertawa.
"Semoga nanti setelah menjadi karyawan tetap Mbak bisa tukar dengan yang baru. Aamiin."
"Aamiin." Nina meng-aamiin kan ucapan Desi.
__ADS_1
"Aamiin." Aku juga menjawab.
"Terus, Mbak Ayu pulang pake apa dong?" tanya Nina kali ini.
"Mobil umum aja, Nin. Naik dari halte nanti," jawabku.
"Ooh, padahal jauh ya, Mbak? Hati-hati kalau naik kendaraan umum. jangan sampai lengah." Nina mengingatkan.
"Kenapa gak pesan ojol aja, Mbak. Mungkin lebih cepet sampai rumah." Desi berbicara.
"Gak punya aplikasinya, Des," jawabku.
"Desi yang pesankan, deh. Mbak Ayu tunggu aja di sini. Nanti desi bilang sama Mas Ojolnya kalau temen yang naik, gitu." Desi mengusulkan.
"Oh, oke deh kalau begitu. Terima kasih, ya."
Desi segera mengeluarkan hpnya dari dalam tas dan menggerakkan ibu jarinya di sana.
"Tungguin ya, Mbak." ucap desi seraya menyebutkan nomor plat dan ciri-ciri kendaraan. Aku mengangguk, mengingat angka yang Desi ucapkan barusan.
"Desi dah ada yang jemput. Mbak gak apa-apa, kan, Desi tinggal?" tanya Desi, sedikit tak enak terlihat di raut wajahnya.
"Iya, kalian duluan saja. Gak apa-apa."
Desi dan Nina meninggalkanku, menuju pasangan masing-masing. dari kejauhan mereka melambaikan tangannya ke arahku.
Aku menunggu beberapa saat lamanya, sekitar sepuluh menit menunggu hingga kaki ini sedikit pegal. Sedari tadi karyawan kantor sudah pulang hingga kini hanya beberapa saja yang terlihat baru keluar dari dalam sana, menyapaku sekilas.
Suara dering telepon terdengar dengan nyaring dari dalam tas. Aku mengangkat panggilan dari Desi.
"Mbak, maaf. Ojol yang Desi pesan, minta dibatalkan ordernya!" teriak Desi, suara deru kendaraan terdengar ramai di ujung telepon.
"Eh, kenapa?" tanyaku dengan bingung.
"Katanya ban motornya bocor, kena paku. Lagi di tempat tambal sekarang, Mbak."
"Oh. Ya udah gak apa-apa."
"Apa mau Desi pesankan ojol yang lain?" tanya Desi lagi.
__ADS_1
"Eh, gak usah, sudah. Aku pulang pake umum aja."
"Duh, Desi jadi gak enak. Jadi bikin Mbak Ayu nunggu sendirian," ucapnya lagi.
"Sudah, itu bukan kesalahan kamu juga. Emang namanya Pak Ojolnya lagi kena musibah ya mau bagaimana lagi?" tanyaku balik.
"Maaf ya, Mbak." ucapnya sekali lagi. Telepon dimatikan setelah aku menenangkan dirinya.
Aku menghela napas dengan sedikit lelah. Pegal di kaki menunggu ojol datang. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke halte terdekat.
Hari sudah mulai sore. Tidak mungkin bagiku untuk memesan ojek online. Batere hp ku sudah hampir habis, dan aku yakin tidak akan tahan sampai selesai mengunduh aplikasi tersebut. Salahku, semalam aku tertidur setelah menyelesaikan tulisanku. Dan tadi, aku terlalu sibuk hingga lupa meng-charge hp ku.
Hampir lima belas menit aku menunggu bersama dengan beberapa orang yang lain. Sesama karyawan RC maupun orang di luar RC. Aku tahu dari seragam yang dia pakai, warna biru, menandakan jika dia adalah karyawan biasa suatu bagian.
Mobil bis yang akan aku tumpangi akhirnya datang juga. Kami segera masuk berdesakan dengan penumpang lainnya.
Sudah sangat lama sekali aku tidak pernah memakai kendaraan umum lagi semenjak memiliki kendaraan sendiri. Beruntung kursi masih ada beberapa yang kosong hingga tidak harus berdiri.
Mobil melaju meninggalkan halte bis dengan kecepatan yang pelan. Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Rasanya tenang dan nyaman juga ternyata, pulang ke rumah tanpa harus menyetir sendirian.
Rasa kantuk mulai menerpa, aku tidak tahan untuk sedikit menutup mataku. Jika saja rumah dekat dengan RC, sudah pasti saat ini aku sudah merebahkan diriku di atas kasur.
Aku tidak terbiasa tidur di tempat umum, mata ini terjaga, sesekali terbuka untuk melihat sampai mana bis yang aku tumpangi. Beberapa orang sudah turun di halte sebelumnya hingga membuat bis ini setengah penuh.
"Halte terakhir. Yo, yang mau turun di halte terakhir, siapkan barangnya. Periksa lagi, supaya jangan ada yang hilang." Kondektur bis berteriak dari arah depan. Beberapa orang bergerak untuk berdiri dan maju menuju pintu depan. Aku pun sama, mengecek barangku terlebih dahulu dan turun dari bis saat benda besi besar itu berhenti di halte.
Bis sudah pergi ke arah lain. Aku duduk di bangku halte tersebut, menunggu bis selanjutnya yang akan datang, mengantarku hingga ke tempat tujuan.
Hanya aku yang sendiri di sini. Beberapa yang turun denganku tadi menaiki angkot atau berjalan kaki ke arah lain. Nasib punya rumah jauh dari pekerjaan. Aku harus berganti kendaraan sebanyak tiga kali. Dua bis dan satu angkot. Ada memang angkot yang bisa membawaku pulang, tapi arahnya berputar hingga lebih jauh lagi. Berganti hingga empat kali naik angkutan umum.
Langit sudah mulai gelap, menyisakan cahaya lembayung yang tertinggal di kejauhan sana. Hawa dingin menerpa tubuh yang tidak memakai jaket ini. Ah, rasanya menyesal juga, kenapa aku menghapus aplikasi ojek online dari hp ku. Berpikir karena aku punya motor, jadi aku menghapus aplikasi tersebut.
Rasanya sepi juga, tidak ada teman mengobrol saat menunggu bis datang.
Tin-tin!
Suara klakson mobil terdengar nyaring di telinga. Aku tersentak mengangkat kepalaku yang sedari tadi hanya tertunduk. Sebuah mobil hitam berhenti di depanku.
Bingung, tidak tahu dengan siapa yang ada di dalam mobil itu, hingga kemudian aku mengenali saat seseorang keluar dari dalam sana.
__ADS_1