
Aku tidak menyangka, ternyata Arga menungguku di depan kantor saat aku turun dari ruanganku. Desi dan Nina segera pamit saat tahu Arga atau yang mereka kenal dengan sebutan Eka menunggu dengan bersandar di pilar.
"Kita bicara, tadi kita belum selesai bicara kan?" ucap Arga yang bukan merupakan sebuah pertanyaan, tapi sebuah perintah. Tiba-tiba saja aku jadi merasa takut.
Aku menurut saja saat dia membawaku ke mobilnya. Dia bilang ingin bicara sebentar denganku sambil ngopi di kafe sebelah. Sekalian motorku juga dibawa oleh sopirnya seperti biasa, dan menunggu kami di kafe yang akan kami tuju.
Arga hanya diam, aku menunduk memainkan jari jemariku di bawah meja. Perasaanku mengatakan jika pria yang ada di depanku ini sedang memperhatikan aku.
"Jadi? Bagaimana?" tanya Arga padaku.
"Apa aku memang tidak boleh dekat dengan kamu?" tanyanya lagi.
Aku masih menunduk. Bingung. Apa aku harus mengatakan ini padanya atau tidak.
Minuman kopi yang sudah terhidang sedikit hilang asap tipisnya, tidak terlalu kelihatan seperti tadi.
"Apa aku seburuk itu di mata Ibu kamu, Yu?" tanya Arga lagi membuat perasaan aku tidak enak. Padahal aku belum bicara apa-apa tentang pembicaraan kami kemarin malam.
"Aku ... aku bingung mau bicara apa sama kamu, Ga. Ibu ... cuma takut saja," jawabku dengan terbata. Duh, kenap aku juga harus bicara sejujur ini?
__ADS_1
"Takut? Apa karena aku seorang mantan pemakai?"
Refleks aku menoleh ke arahnya. Bagaimana dia tahu apa yang aku dan Ibu bicarakan semalam dan juga tadi pagi?
Aku hanya diam. Arga menatapku dengan tajam dari seberang meja. Terdengar helaan napasnya yang sedikit kasar.
"Aku memang mantan pemakai, tapi aku sudah bersih sekarang ini. Tidak pernah menyentuh barang haram itu lagi," ucap Arga.
"Aku tahu, Ga. Aku percaya kamu. Tapi beda dengan Ibu. Aku gak tahu lagi harus bicara apa dengan Ibu." Aku kembali menunduk, menghindari tatapannya yang tajam darinya.
"Aku minta maaf. Hanya saja ... sepertinya aku akan menurut apa kata Ibu saja, Ga. Bukan aku tidak percaya dengan kamu, tapi hanya Ibu yang aku punya sekarang ini." Aku bicara dengan pelan pada Arga. Tangan Arga terlihat mendekat dan memegang tanganku dengan erat, mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya.
"Hanya Ibu yang aku punya. Aku sudah banyak sekali berbohong selama ini. Bukan saat sedang sama kamu saja, bahkan saat aku masih berusaha untuk memaafkan Mas Hilman juga aku banyak berbohong. dan itu ... bikin Ibu sakit hati karena aku menipu Ibu," ucapku padanya.
Kami terdiam, tapi kemudian Arga tertawa kecil, membuat aku bingung dengan sikapnya ini. Aku mengangkat kepalaku menatap dirinya yang tertawa tanpa peduli dengan beberapa orang yang menatap kami dengan bingung.
"Ya sudah, kalau memang kamu punya pemikiran begitu, aku tidak bisa memaksa kamu juga. Biar nanti Gara jadi urusan ku saja," ucap Arga. Ada rasa sakit yang aku rasakan di dalam hati ini mendengarnya bicara seperi itu. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Aku juga tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Surga seorang anak ada di telapak kaki Ibu.
Setelah kami berbicara di kafe, Arga mengantarku pulang. Aku hanya diam selama di perjalanan hingga akhirnya dia menghentikan laju mobilnya di depan rumah.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan, Yu. Pembicaraan kita tadi ... anggap aja itu hanya pembicaraan biasa," ucap Arga dengan tersenyum miris. Aku hanya mengangguk dengan pelan.
"Aku masuk ke dalam dulu, ya." Pamitku ada Arga. Pria yang duduk di sampingku ini menjawab dengan anggukkan kepala juga.
"Hati-hati," ucapnya.
"Iya. Kamu juga hati-hati pulangnya."
Arga turun dari dalam mobil hingga aku masuk kedalam pagar. Sopir yang membawakan motorku kini masuk ke dalam mobil Arga, menggantikan dia yang tadi menyetir mengantarku pulang.
"Diantar Arga lagi?" tanya Ibu yang kini ada di ambang pintu. Tatapannya tajam menatap ke arah Arga yang tersenyum seraya menganggukkan kepala dari tempatnya masih berdiri.
"Iya, Bu. Tenang saja. Ayu sudah bicara kalau dia gak usah dekat dengan Ayu lagi, kok. Ayu akan nurut sama Ibu," ucapku dengan nada lesu, tak bersemangat sama sekali.
Ibu tidak menjawab, hanya saja menutup pintu rumah dengan lumayan keras untuk seukuran Ibu yang lemah lembut.
"Ayu ke kamar dulu, Bu." pamitku.
Aku berjalan ke dalam kamar, tidak ingin membuat Ibu bicara banyak soal hubunganku atau apapun tentang Arga. Rasanya sakit sekali saat mendengar tentang pria itu yang tidak Ibu sukai.
__ADS_1