
"Hei, si-siapa kamu?" Aku bertanya pada sosok asing yang ada di depanku. Akan tetapi, dia tidak menjawab sama sekali. Pun, juga tidak menolehkan kepalanya. Gegas aku bangkit meski dada ini rasanya sakit sekali akibat tadi terbentur dengan kursi.
"Kamu siapa? Aku akan di bawa kemana?" tanyaku masih takut. Dari belakang yang aku lihat jelas dia adalah laki-laki, dengan rambut gondrong sebatas leher.
"Jangan banyak tanya Ayu! Tentu kita akan pulang!" Suara itu aku jelas mengenalnya dengan baik, meski aku sudah lama tidak lagi dengan dia, tapi aku tahu itu suara siapa.
"Mas, kamu akan bawa aku kemana?" Aku berteriak dengan kencang. Rasa takut akan apa yang terjadi selanjutnya jelas hadir di dalam ingatan. Entah, tapi aku merasa jika tidak akan ada hal yang baik jika aku bersama dengan dia.
Kucoba untuk membuka pintu mobil, tapi mobil itu terkunci. Aku tidak bisa membukanya. Mobil telah melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Mana jalanan yang biasanya padat dan macet? Jalanan sepertinya mendukung sekali untuk dirinya berbuat hak seperti ini.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Mas. Apa yang kamu lakukan! Tolong berhenti dan buka pintunya!" teriakku lagi. Dia tidak mendengarkan, malah aku merasa dia menjalankan mobil ini semakin cepat saja.
"Nanti, kalau kita sudah sampai di rumah, kita akan turun!" ucapnya dingin.
Ku coba untuk membuka pintu itu dengan kekuatanku, tapi tidak bisa sama sekali. Aku beralih, mengguncang bahu Mas Hilman dari belakang sambil meminta untuk berhenti di depan sana. Mas Hilman tetap tidak mendengarkan.
Arga!
Kuingat Arga menyusulku ke pasar, semoga saja Arga sudah dekat dan bisa menolongku. Hp yang ada di saku celana aku keluarkan dan segera mencari nomor Arga. Tangan ini bergetar sehingga hampir saja hp di tanganku terjatuh.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu culik aku. Turunkan aku sekarang!" Aku berteriak sambil memukul lengannya dengan seluruh kekuatanku.
__ADS_1
"Diam kamu, Yu. Kalau saja kamu menerima permintaanku yang ingin rujuk sama kamu, tentu aku gak akan lakukan ini!" Dia sama berteriak, lalu menghempaskan tanganku yang memukuli lengannya. Sakit, tangan ini membentur kursi di samping Mas Hilman.
"Turunkan aku, Mas. Kalau sampai Arga tahu kamu culik aku, kamu pasti akan habis sama dia!" Kucoba untuk menakutinya, tapi dia malah tertawa dengan beringas seperti tidak takut akan apa pun.
"Coba saja, aku gak takut sama dia, Yu. Lagi pula, siapa dia? Bukan siapa-siapa kamu!" teriaknya dengan lantang.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan sepertinya tidak ada niatan dia untuk memperlambat lajunya meski jalanan ramai oleh kendaraan lain di luaran sana.
Aku mencoba untuk memutar otak. Kaca jendela tidak bisa dibuka, aku juga sudah memukulnya, tapi tanganku sakit dan kaca jendela tidak pecah sama sekali. Satu-satunya jalan adalah dengan menghentikan dia secara paksa.
Aku maju melewati kursinya dan merebut kemudi dengan posisi setengah berdiri dari samping Mas Hilman.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Ini bahaya! Kita bisa menabrak!" teriaknya, mencoba untuk menyingkirkan tanganku dari sana. Aku tidak peduli.
"Lebih baik menabrak dan mati daripada aku harus ikut dengan kamu, Mas."