Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
210. Ingin Marah


__ADS_3

Semalaman Aku tidak bisa tidur menunggu Arga pulang. Sampai habis bateraiku aku mencoba untuk menghubunginya dan juga Pak sopir. Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari mereka berdua.


Resah hati ini khawatir dengan keadaan mereka, apa yang harus aku lakukan lagi? Tidak banyak orang yang aku tahu. Bahkan, Papa barusan juga sudah menghubungiku bahwa dia sudah mencari tahu di mana Arga sekarang tapi jawaban semua orang adalah 'tidak tahu'.


Ke mana dia pergi? Kenapa dia tidak menghubungiku?


HP yang sedang aku isi daya berkali-kali aku pakai untuk menghubungi nomornya. Akan tetapi memang nomor itu masih belum aktif sampai saat ini. Dan ini sudah jam tiga dini hari. Mataku mengantuk, tubuhku lelah, tapi aku tidak bisa memejamkan mataku. Bagaimana bisa aku tertidur dengan lelap sedangkan aku sendiri tidak tahu bagaimana kabar suamiku. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga dia baik-baik saja di sana.


Mengingat apa yang terjadi di hari kemarin ketika Arga marah-marah dalam panggilan teleponnya, apakah mungkin dia sedang menyelesaikan pekerjaan tersebut?


Ah, entahlah. Kepalaku sangat pusing sekali.


"Mama!" Panggil Gara dari atas tempat tidur. Anak itu terbangun dan mencari-cari. Aku mendekat ke arahnya dan duduk di samping tempat tidur.


"Ada apa? Kenapa kamu bangun ini masih sangat malam."


"Apa Papa masih belum pulang juga?"


Aku mengganggukan kepala mengusap kepalanya. "Iya Papa masih belum pulang, kamu lanjutkan tidur ya. Lihat di luar ini masih gelap," ucapku kepada anak itu.


"Tidur sama mama," ucapnya lagi.


Aku naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Gara. Dia memelukku dengan sangat erat sekali. Matanya masih terbuka setelah beberapa menit aku elus-elus punggungnya.


"Kenapa tidak tidur?" tanyaku.


"Bacakan dongeng," ucapan anak itu meminta.


"Dongeng apa?" Tanya aku lagi kepadanya.


"Terserah mama, tapi kalau bisa raja yang hidup di zaman modern," Pintanya lagi. Aku menatapnya dan tersenyum kecil. Jika anak lain menginginkan dongeng raja-raja dan pangeran di zaman dahulu, kenapa anak ini ingin diceritakan raja di zaman sekarang?


"Sebentar Mama akan mencoba memikirkan siapa raja yang pantas untuk diceritakan." Jujur saja aku bingung. Jika menceritakan kerajaan Inggris, negara tersebut diperintah oleh seorang Ratu. Dengan keadaan yang seperti ini aku tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Bisakah cerita yang lain saja?" Tanyaku pada anak itu.


"Kalau begitu ceritakan kisah kalian," pintanya kepadaku.

__ADS_1


"Kisah siapa? Mama dan papa?" Tanyaku lagi. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat, menatap ke arahku dengan matanya yang bulat.


Aku tertawa kecil, menjepit hidungnya dengan kedua ujung tangan.


"Kamu masih terlalu kecil tidak boleh mendengar cerita tentang cinta-cintaan," ucapku tertawa kecil berusaha untuk mencairkan suasana ini.


"Aku kan hanya penasaran saja!" Ungkap anak itu sambil memanyunkan bibirnya.


"Lain kali kalau kamu sudah besar. Sudahlah sekarang tidur saja, tidak usah mendongeng. Mama mengantuk sekali," pintaku kepadanya. Aku memang mengantuk tapi tidak bisa tidur karena memikirkan suamiku.


Anak itu hanya mengganggukan kepalanya. Dia memelukku semakin erat dan memejamkan matanya. Seiring dengan terpejamnya mata Gara, membuat berat kelopak mataku. Sehingga tanpa sadar aku juga ikut tertidur.


***


Aku terbangun saat merasakan hangat sinar matahari menyorot ke wajahku. Dengan susah payah aku membuka mata. Lagi-lagi hari ini aku kesiangan untuk bangun.


Kulihat jam yang ada di dinding, masih jam delapan pagi, tapi sinar matahari sudah sangat panas sehingga membangunkanku. Lagi-lagi aku terlambat bangun dan melewatkan kewajibanku.


Kepala ini rasanya sangat pusing sekali akibat aku tidak bisa tidur semalam. Aku ingat jika tidur lebih dari jam tiga pagi. Ingin rasanya aku menutup mataku lagi dan bangun di siang nanti, menggantikan masa tidurku yang kurang tadi malam. Akan tetapi, aku harus bangun dan mengurusi Gara.


Eh, tapi ke mana anak itu kenapa tidak ada? Apa mungkin dia sudah bangun dan berangkat sekolah?


Segera aku menolehkan kepala ini dengan cepat ke belakang, seorang laki-laki sedang memeluk tubuhku dengan erat.


Aku terdiam, merasakan emosi di dalam diri ini yang seketika meledak-ledak. Ada rasa bahagia, ada rasa sedih, ada rasa marah. Juga rasa-rasa yang lain yang dari kemarin berada di dalam hatiku. Mata ini sudah panas bersiap untuk menerjunkan buliran air yang sudah hangat.


"Bisa tolong diam, jangan turun dari sini?" Ucapnya dengan suaranya yang parau.


Aku masih belum bisa berbicara. Terlalu banyak rasa kini aku keluarkan terhadapnya.


"Aku masih ngantuk. Ayo berbaring lagi," ucap laki-laki itu tanpa membuka kedua matanya.


Gemuruh di dalam dada semakin besar bergejolak. Jika saja mungkin aku adalah gunung berapi maka sebentar lagi akan meledak dan memuntahkan laharnya, membakar semua benda yang dilewatinya.


Aku terisak tanpa suara, hanya gerakan tubuhku yang bergetar.


Dia mengangkat kepalanya mencoba untuk membuka matanya yang terlihat lengket.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok nangis?" Dia bertanya seakan tanpa rasa bersalah sama sekali.


Aku sampai menahan nafas karena tidak ingin meledak dan mencaci makinya dengan kata-kata kasar.


"Hai apa kamu sakit?" Tanyanya sekali lagi kini hanya satu matanya yang terbuka sedangkan satu mata yang lain tertutup.


"Kamu jahat, Ga!" Ucapku setengah berteriak sambil memukul tubuhnya dengan bantal. Seketika dia yang sedang tertidur kini menegakkan tubuhnya menatap ke arahku dengan bingung.


Aku tidak berhenti memukuli dia dengan bantal pada bagian tubuhnya, kesal, marah, takut dan rindu, bercampur menjadi satu.


"Kamu jahat kenapa dari kemarin menghilang dan gak kasih kabar sama sekali sama aku?" Tanya aku dengan berteriak kesal, masih memukuli tubuhnya dengan bantal dengan sekuat tenagaku.


"Eh iya maaf aku nggak sengaja."


"Nggak sengaja kamu bilang? Aku di sini menunggu kamu dari pagi, mencoba menghubungi kamu, menunggu balasan dari kamu sampai aku nggak tidur hampir semalaman hanya untuk menunggu kamu!" Teriakku akhirnya. Rasanya lega setelah mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam dada.


Pukulanku terhenti karena dia memeluk tubuhku dengan erat dan meminta maaf dengan sedalam-dalamnya.


"Maaf kemarin aku tidak sempat mengabarkan kamu, kemarin aku pergi ke luar kota untuk survei tempat. Katanya di sana ada pabrik kosong yang berpotensi bisa mempekerjakan orang-orang yang ada di desa tersebut. Tapi ternyata di sana sangat jauh sekali, tidak ada sinyal. Hp-ku juga kehabisan baterai, aku sendiri bingung mau menghubungi kamu pakai apa," ucapnya masih memelukku dengan erat.


"Bukankah itu bisa dilakukan oleh orang lain kenapa harus kamu yang turun ke lapangan?" Tanyaku masih kesal sedikit berteriak. Aku mencoba melepaskan diriku dan ingin sekali kembali memukulinya karena aku belum merasa puas.


"Orang yang aku tunjuk sedang berhalangan. Kemarin aku bersama dengan beberapa orang pergi ke sana, tapi tidak satupun dari kami yang pulang membawa hasil. Tempat itu terlalu jauh jika untuk produksi sebuah pakaian. Sepertinya aku tidak sanggup untuk mengirim bahan mentah lalu dari sana mengirimkan kembali ke mari. Rasa-rasanya itu percuma hanya menghabiskan biaya di perjalanan saja," ucap laki-laki itu padaku.


Aku menghentikan tangisku yang kencang ini, tepatnya mencoba untuk menghentikannya karena aku sadar jika Arga adalah orang yang penting pemilik sebuah perusahaan yang cukup ternama.


"Kenapa juga harus mencari tempat di daerah lain?" Tanyaku.


"Tadinya aku ingin menyerap banyak tenaga kerja, ada yang bilang jika tempat itu berpotensi karena dari beberapa mereka juga sudah bisa menjahit. Tapi ya masalahnya itu tempatnya terlalu jauh dan biaya untuk pengiriman sepertinya tidak akan banyak menguntungkan. Di sana juga sangat sulit sinyal, maaf ya," ucapnya lagi.


Aku mengganggukan kepalaku menerima permintaan maaf darinya. Apalagi saat terlihat gurat lelah di bawah mata.


"Kapan kamu pulang?" Tanyaku kepadanya. Aku tidak sadar siapa yang ada di belakangku semalam. Saking lelahnya menunggu dia yang tidak kunjung pulang.


"Baru jam empat tadi pagi, makanya aku sangat mengantuk sekali. Ayo sini kita tidur lagi," ucapnya sambil menepuk tempat yang ada di sampingnya.


Aku menggelengkan kepala. "Aku harus mengurusi Gara. Mungkin dia akan terlambat ke sekolah karena aku juga terlambat bangun," ucapkan lalu bergegas hendak bangkit.

__ADS_1


"Dia sudah berangkat bersama dengan sopir, jangan khawatir." Ucapnya.


"Ayo sini kita tidur lagi, peluk aku dan kita akan bangun siang nanti."


__ADS_2