
Ah, pinggangku terasa sakit sekali. Arga sungguh keterlaluan bermain di dalam sana, dia tidak membiarkanku beristirahat sedikit saja. Memang hanya sekali kami bermain, tapi rasanya pinggang ini rontok, aku juga kedinginan. Air yang hangat menjadi dingin akibat lamanya dia bermain.
Aku membaringkan diriku, masih mengenakan handuk kimono dan rambut yang tertutup handuk kecil. Lelah, sakit pinggang dan juga pegal di kaki, sudah lumayan lama kami tidak bermain dengan liar seperti ini.
"Hei rambutnya keringkan dulu," ucapnya sambil membawakan hairdryer di tangan.
"Sakit pinggangku, Pa." Keluhku.
"Haha, maaf. Habisnya enak sih," ucapnya dengan kekehan di bibirnya. Arga mendekat, aku memutar tubuhku dengan kepala di tepi ranjang, membiarkan rambut yang panjang menjuntai ke bawah. Arga duduk di dekat kepalaku dan mulai mengeringkan rambut dengan perlahan.
"Ih, kamu enak, aku sakit pinggang ini!" cercaku tanpa membuka mata. Aku lebih memilih menikmati perlakuan lembut dia pada rambutku. Angin hangat menerpa helaian rambut dengan lembutnya.
"Emang kamu gak enak, ya?" tanyanya masih terdengar tawa.
"Ya, kalau itu jangan ditanya lah, Pa. Enak, tapi kalau lama juga kan sakit pinggangku."
"Ya habis, mengigit sih."
Aku membuka mata dan menatap dia dengan bingung. "Apa yang mengigit?" tanyaku padanya. Dia tersenyum malu, tidak menjawab.
"Eh, ditanya malah senyam senyum doang. Paan sih, gak jelas deh!" kesal ku lagi.
"Haha, itu ... kayaknya benar apa kata paman. Kalau lagi main saat istri hamil tuh rasanya beda," ucapnya.
__ADS_1
"Bedanya?" tanyaku makin penasaran. Arga tidak menghentikan laju tangannya pada rambutku.
"Ehm ... ya beda saja rasanya, lebih mengigit, lebih penuh, sempit," ucapnya lagi yang kini malah membuat aku menjadi malu sendiri.
"Ih, kamu apaan sih. Kok bahas gituan sama paman, kan malu."
"Kenapa juga harus malu, kan aku cari edukasi sama beliau," ucapnya.
"Edukasi macam apa? Tanya kok sampai hal yang kayak gitu."
"Eh, jangan salah. Sering sharing sama paman sama papa juga penting loh, kan buktinya aku bisa bikin kamu bersuara 'aaahhh, uuuhh, Argaaa!'," ucapnya menirukan suaraku. Aku semakin malu mendengarnya, tidak tahan mendengar dia menyuarakan hal yang seperti itu, sehingga kini aku bangkit dan mencubit pinggangnya yang sedikit berlemak di sana. Tak ada lagi roti sobek, perlahan tergantikan dengan donat dan hampir menyerupai bakpao di perutnya.
"Eh, sakit tau." Arga mengusap pinggangnya yang tadi aku cubit.
"Lagian kamu, ih. Jangan jahil deh. Aku gak gitu ah, mana ada suara ku kayak gitu!" protesku.
Aku menunduk, malu sekali. Aku tidak ah, mana ada aku seperti itu, bersuara sedikit wajar saja, kan?
"Haha, ya ampun. Kenapa wajah kamu merah kayak gini, sih? Malu hem?" tanya dia sambil menjepit daguku. Aku mengalihkan tatapan ke arah lain, sungguh malu sekali dengan bahasan tadi.
"Hei kenapa diam? Aku suka kok kalau kamu kayak gitu. Aku berasa jadi suami yang bahagia sekali karena bisa membuat istriku puas. Eh, apakah selama ini kamu puas kalau main sama aku?" tanya Arga.
Aku masih diam, malu jika aku menjawab.
__ADS_1
"Kok diam? Kamu puas gak? Aku takut kamu gak puas, malah aku doang yang puas kan gak adil," ucapnya. "Aku jadi ngerasa bersalah kalau kamu selama ini gak puas dengan perlakuanku di ranjang. Hem?" tanyanya inginkan jawaban.
"Aku ...." Jujur aku malu, tidak pernah sebelumnya aku ditanya seperti ini oleh yang lain, maksudku Mas Hilman juga tidak pernah bertanya sebelumnya, dan kali ini Arga malah menanyakan hal ini.
"Aku kurang ya kalau lagi main?" tanyanya terdengar nada bersalah, dengan cepat aku menggelengkan kepala.
"Tidak, kok. Aku suka!" ucapku menjawab dengan cepat. Aku kembali memalingkan wajahku ke arah lain. "Aku suka, kok. Aku suka perlakuan kamu. Kamu tuh sabar, bisa imbangi aku, malah aku ... aku selalu ingin, sekarang saja mood untuk bercinta lagi kurang. Aku gak tau kenapa. Tapi aku puas kalau kamu ajak," ucapku malu.
Aku tidak berani menatapnya, sungguh malu, meskipun sudah beberapa bulan menikah dengannya, tapi untuk bahasan ranjang aku masih saja malu.
Arga tertawa kecil, mengambilku ke dalam pelukannya dan mencium kepalaku dengan lembut.
"Maaf, aku malah baru tanyakan ini sekarang. Aku baru keingetan soalnya. Syukurlah kalau kamu suka. Nanti kapan-kapan pake gaya baru ya?" ucapnya lagi dengan kekehan. Aku menjauhkan diri dari dia, menatapnya dengan bingung.
"Eh, gaya apa? Jangan aneh-aneh loh, aku lagi hamil," ucapku sambil menunjuk tepat di hidungnya.
"Tenang, aman kok!" ujarnya lagi. Wangi aroma sabun yang ada pada tubuhnya menggelitik hidungku, entah kenapa terasa panas, bukan hanya di hidung saja, tapi juga di tempat lain. Rasanya agak tak nyaman.
Tonjolan kecil berwarna cokelat di dadanya aku mainkan, entah kenapa ingin menggerakkan dua jariku di sana untuk memilinnya.
"Pa, aku gak nyaman," ucapku pelan, membuat Arga menjauhkan dirinya dan terkesiap.
"Eh, kenapa? Apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir. Aku menggelengkan kepala, lalu menarik kedua pundaknya hingga kami saling mendekat. Bibirnya aku sambar dan aku gigit kecil. Tahu akan maksud perlakuanku, dia membuka mulutnya dan membiarkan akses masuk ke dalam sana sehingga aku bisa leluasa bermain dan mengabsen isi di dalam rongga mulutnya.
__ADS_1
Suara decakan terdengar indah. Saling memag*t dan saling beradu lidah. Perlahan aku menarik tubuhnya sehingga aku membiarkan dia di atasku.
Untuk kedua kalinya kami main adu gundu, memasukkannya ke dalam tempat yang tepat.