Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
241. Seseorang Di Luar Jendela


__ADS_3

Entah berapa lama kami menangis, mengeluarkan rasa sesak di dalam dada. Hingga tanpa sengaja aku melihat Arga sedang berdiri di ambang pintu sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada seraya tersenyum ke arah kami.


Aku tidak tahu ada hal apa dia pulang ke rumah.


"Eh, Papa. Ada apa kok di rumah?" tanyaku membuat Gara menolehkan kepala. Perlahan melerai pelukannya dari leherku.


"Gak apa-apa, hanya ada yang ketinggalan aja," ucapnya lalu mendekat ke arah kami berdua.


"Kalian kok sedih gitu? Gak ajak-ajak sedihnya, sih!" ujarnya sambil terkekeh. Aku menjadi malu sendiri, mengusap basah di wajahku, begitu juga dengan Gara, mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan.


"Sudah selesai? Gak sedih lagi, kan? Makan siang di luar, yuk!" ajak Arga. Dia mengulurkan kedua tangannya ke arah kami.


"Eh, kan Papa katanya tadi ada yang ketinggalan?" tanyaku bingung. Harusnya dia kembali ke kantor, kan?


"Iya, sih. Tapi nanti deh balik ke kantornya. Yuk makan di luar, sudah selesai kan sedihnya? Masalah sudah clear?" tanyanya lagi.


Gara menyambut tangan ayahnya dengan tersenyum kini. Aku pun sama, melihat Gara yang kini sudah tidak menangis lagi membuat aku pun ikut bahagia. Sama dengan dia, aku juga menyambut tangan suamiku untuk kemudian kami pergi makan siang di luar.


"Mau makan di mana?" tanya Arga pada Gara. Mobil kini mulai melaju di jalanan yang ramai.

__ADS_1


"Mama mau makan di mana?" Gara malah bertanya padaku dengan nada yang ceria.


"Eh, kenapa tanya Mama? Kan Papa ajak Abang, Mama cuma ikut."


"Abang nurut aja, Mama mau makan apa?" tanyanya lagi.


"Mama lagi pengen makan ayam goreng tepung yang Abang suka," ucapku sambil tersenyum.


"Papa! Dengar apa kata Mama? Let's go!" tunjuknya pada jalanan di depan.


Aku sengaja menyebut makanan yang Gara mau, lebih kepada ingin menjaga moodnya daripada apa yang ingin aku makan. Entah apakah nanti aku bisa makan itu atau tidak, aku hanya ingin melihat senyuman putraku lagi.


Kami telah sampai di tempat yang dituju. Menghindari mall yang Arga tadi sempat sebutkan, karena aku tidak mau capek berjalan keliling dan akhirnya lapar mata.


Turun dari mobil, kami berjalan bersama masuk ke dalam tempat makan tersebut dan menghampiri meja kosong yang ada di dekat dengan jendela.


"Aku pesankan dulu, ya? Kalian mau apa?" tanya Arga pada kami berdua.


"Ayam goreng!" seru Gara.

__ADS_1


"Mama?" tanyanya lagi.


"Sama, ayam goreng juga, tapi mau sayap ya. Dua." pintaku sambil menunjukkan dua jariku pada Arga.


"Oke, siap. Ada lagi? Minumnya?"


"Aku minta teh hangat saja, Pa. Boleh gak ya?" tanyaku, karena aku tahu jika di sini kebanyakan minuman dingin bersoda atau hanya teh dingin.


"Boleh lah, masa gak boleh. Abang seperti biasa?" tanya Arga. Gara mengangguk, biasanya dia memilih susu coklat untuk minumnya. Arga kini pergi untuk memesan sementara aku dan Gara berbincang ringan sambil menikmati pemandangan di luar.


Tak sengaja, aku melihat sosok yang aku kenal. Seorang wanita muda dengan senyum manisnya kini sedang berjalan berdua dengan laki-laki sangat mesra sekali, bergelayut manja dan bersenda gurau. Laki-laki yang ada bersama dengannya terlihat sangat muda dari usianya. Aku tebak dia anak kuliahan, mungkin.


Mereka berjalan, aku memperhatikan sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.


"Lihat apa?" tanya suara bariton yang membuat ku sadar kembali. Arga telah kembali bersama dengan seorang pelayan membawa satu buah nampan masing-masing. Makanan itu disimpan di atas meja, dan pelayan itu pergi setelah melakukan hal yang sama.


"Lihat apa? Kok serius banget?" tanyanya lagi seraya duduk di tempatnya.


"Eh, enggak. Cuma lihat yang lewat aja, kok," ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh, yuk makan."


__ADS_2