Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
237. Mencari Foto Haifa


__ADS_3

Hari ini, atas persetujuan dari Arga aku masuk ke dalam gudang. Baru pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Gudang yang terletak di belakang rumah, dekat dengan kolam renang, terpisah dari rumah lumayan besar ukurannya. Ditemani Mbak Sus aku berada di sini. Beberapa barang lama dan tidak terpakai banyak menumpuk sampai berdebu tebal. Udara yang ada juga terasa pengap efek dari ruangan yang telah tertutup dengan waktu yang lama.


"Cari apa sih Bu di sini?" tanya Mbak Sus, dia sibuk menyingkirkan debu tebal yang beterbangan. Terlihat dengan sangat jelas sekali debu itu dari cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca.


"Fotonya ibu Gara. Mbak Sus tau dimana ?" tanyaku padanya.


"Oh. Aduh, itu ada di kardus. Ketumpuk barang yang lain sepertinya. Mbak juga agak lupa sih yang mana kardusnya," ungkapnya.


Memang banyak kardus di sana, entah isinya apa saja aku tidak tau, ada di dekat lemari kayu yang masih bagus tapi penuh debu.


"Cari yuk, Mbak." Ajakku. Aku masuk semakin dalam. Ruangan itu terang dengan lampu yang baru saja Mbak Sus nyalakan.


Dengan sigap, Mbak Sus membukakan jendela lebar-lebar, membiarkan udara yang pengap tergantikan dengan udara dari luar, mengusir debu tebal agar terbebas dari ruangan ini.


"Ibu mending tunggu aja deh di rumah. Biar Mbak yang carikan. Banyak debu,gak baik buat kesehatan," ucapnya khawatir. Aku mengeluarkan masker dari balik saku pakaianku.


"Bawa ini, kok. Yuk bantu carikan." Pintaku. Mbak Sus kali ini mengangguk.


"Sebentar, Bu. Tunggu, ya. Jangan buka atau pegang apa pun!" Pintanya. Kali ini Mbak Sus melangkah keluar dari gudang dan tak lama kembali dengan ember dan air serta lap di dalamnya.


"Biar debunya gak beterbangan!" ucapnya lalu mulai mencari kardus yang dimaksud.


Debu yang tebal Mbak Sus lap dengan kain basah. Sedikit beterbangan karena sapuan tersebut, tapi lebih baik daripada meniupnya dengan sengaja atau menyingkirkan debu dengan kemoceng yang mana akan membuat debu itu beterbangan ke segala arah.


"Mbak, ini lemari isinya apa?" tanyaku pada Mbak Sus. Lemari itu terlihat masih bagus, tidak ada cacat jika aku lihat sekilas. Hanya tumpukan debu tebal yang menghalangi cermin.


"Oh, itu baju punya ibunya Gara. Sayang, sih. Baju bagus, tapi cuma jadi penghuni gudang," ucapnya lagi.


Aku membuka lemari itu, kuncinya menempel di sana. Di dalamnya menumpuk pakaian wanita, dari yang menggantung di sana masih kelihatan bagus, hanya saja ketinggalan zaman untuk modelnya.


Satu persatu aku lihat sekilas, pakaian ini berbentuk sederhana. Malah ada juga beberapa yang baru sepertinya, masih dengan label harga yang tertempel di sana. Bukan harga dengan nominal besar, menurutku untuk ukuran istri pemilik perusahaan Haifa termasuk orang yang sederhana. Pakaian yang terlipat juga sama bagusnya, masih utuh dan tidak ada cacat.


"Ini gak dibuang atau dikasihkan sama orang lain?" tanyaku. Mbak Sus sedang menurunkan satu persatu kardus yang ada di sana dan mengelapnya.


"Enggak, Bapak gak bilang apa-apa. Kalau aja boleh dibawa, Mbak bawa ke kampung deh, buat menantu atau tetangga, kali aja ada yang mau," ujarnya tanpa menoleh sama sekali.


"Ya, lebih baik sih begitu. Daripada mubazir." Banyak sekali pakaian di sini. Sayang jika tidak digunakan sebaik-baiknya.


"Em, anu Bu. Saya pernah bawa sih dua potong baju milik almarhumah, tapi yang bekas kok. Maaf sekali, saya gak bilang. Gak berani minta sama bapak. Saya kasihkan sama pemulung. Kasihan pakaiannya udah gak layak. Tapi itu yang gak bagus, kok. Cuma kaos tangan panjang biasa punya almarhumah. Pakaian saya kan cuma ada daster, besar-besar. Sedangkan dia badannya kecil." ucap Mbak Sus dengan rasa bersalah, dia menunduk tidak berani menatapku.


"Gak pa-pa kok, Mbak. Memang baiknya pakaian ini jangan cuma disimpan, lebih baik diberikan atau dimanfaatkan orang lain. Nanti aku bilang deh sama Arga, siapa tau diizinkan buat diberikan sama yang membutuhkan."


"Sudah ketemu belum kardusnya?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Eh, sebentar. Masih di cari. Ini yang ketemu dari tadi cuma piring sama gelas," ujarnya. Mbak Sus kembali mencari hingga akhirnya dia berseru karena telah menemukan apa yang aku inginkan.


Gegas Mbak Sus membersihkan kardus tersebut dan mengelapnya dengan baik. Beberapa barang dia keluarkan dari sana. Ada bingkai foto kecil hingga ukuran sedang.


"Ini foto Haifa?" tanyaku seraya mengambil bingkai foto yang ada di lantai, sudah Mbak Sus bersihkan dengan lap di tangannya.


"Iya. Ini foto Neng Haifa," ujar Mbak Sus. Dia kembali membersihkan bingkai yang lain.


Ku tatap wajah yang ada di foto ini. Wajahnya sangat cantik dan senyumnya meneduhkan, sorot matanya sayu, hidung mancung, mata sama persis seperti Gara, bulat besar. Arga dan Haifa yang berfoto bersanding di bawah pohon, terlihat sangat mesra. Haifa tersenyum, sedangkan Arga terlihat datar. Tak ada ekspresi dari laki-laki itu.


Foto yang lain aku lihat lagi. Kali ini foto Haifa tengah hamil besar, duduk di kursi sedangkan Arga berada di belakangnya. Haifa dengan senyum yang lebar, Arga tetap sama.


"Ada foto pernikahan mereka gak, Mbak?" tanyaku penasaran.


Mbak Sus terdiam sebentar seperti sedang mengingat. "Kalau foto pernikahan dulu ada, tapi gak tau sekarang kemana tuh yang besar."


"Berarti yang kecil ada dong?"


"Ada, tapi Mbak lupa dimana nyimpen yang itu."


"Kalau ada saya minta ya," pintaku.


"Iya, nanti kalau ketemu saya kasihkan. Em ... buat apa toh Bu foto-foto ini?" tanya Mbak Sus.


"Gara harus kenal siapa ibunya, Mbak. Jangan sampai dia lupa siapa yang lahiran dia. Ya, meski sekarang ada saya yang jadi ibu sambungnya, tapi kan jangan sampai Gara gak kenal sama sosok ibunya," terangku lagi.


Mbak Sus menganggukkan kepalanya. "Iya sih, Bu. Saya setuju sama yang ini. Bapak memang sedari dulu gak pernah banyak cerita tentang ibunya Gara. Nyonya besar juga kan sedang sakit, jadi ya gak ada yang bisa terangkan atau cerita banyak soal Neng Haifa. Saya juga gak berani cerita karena takut bapak gak bolehin," ujarnya. Beberapa barang telah Mbak Sus keluarkan.


"Keluarga Haifa gak pernah datang kesini?" tanyaku lagi, semakin penasaran.


"Dulu sih sering, tapi kalau gak salah waktu Gara usia dua tahun sudah gak pernah datang lagi ke sini."


"Kenapa?" tanyaku lagi.


"Tidak tau. Kurang ngerti saya," ucapnya.


Aku tidak lagi bertanya, hanya menatap beberapa foto yang Mbak Sus berikan padaku.


"Em, ini nanti semua bawa saja ya ke dalam. Biar dibersihkan di dalam saja. Sesek napas saya kelamaan di sini," pintaku.


"Iya, Bu. Ini yang dicari apa cuma ini? Atau, masih ada lagi?" tanya Mbak Sus.


"Sementara ini saja lah, Mbak. Nanti kalau saya mau cari yang lain bantu saya lagi ya."

__ADS_1


"Siap, Bu!" serunya sambil mengangkat kardus di tangan. Kami keluar dari gudang dan berjalan menuju ke dalam rumah.


Terdengar suara salam dari pintu depan saat aku masih membersihkan semua yang isi di dalam kotak kardus yang mulai lapuk.


"Mama! Abang pulang!" teriak Gara, terdengar langkah kaki yang cepat, dia mendekat ke arahku.


"Waalaikumsalam. Abang dah pulang?"


"He-em." Tangannya terulur untuk salim denganku.


"Mama lagi apa?" tanya Gara.


"Lagi bersihkan foto. Mau bantu Mama gak? Tapi ganti dulu bajunya."


"Foto siapa?" tanya Gara. Tangannya hendak mengambil bingkai yang tertutup di atas meja. Aku menahannya agar Gara tidak membuka bingkai tersebut.


"Ganti baju. Nanti Mama kasih tau," pintaku.


"Siap!" serunya lalu berlari menuju ke arah tangga. Mbak Sari berlari menyusul Gara, berteriak meminta agar Gara tidak berlari.


Tidak sampai sepuluh menit, Gara telah kembali turun.Fia mendekat padaku lagi.


"Foto siapa sih, Ma?" tanya Gara.


Aku tersenyum dan mengambil satu bingkai foto kecil. "Mau tau ya? Kepo ih!" godaku. Gara hanya mengerucutkan bibirnya jika aku goda seperti itu.


"Abang kenal gak ini siapa?" tanyaku seraya memperlihatkan foto Haifa padanya. Gara hanya terdiam, sedikit memiringkan kepalanya saat melihat foto Haifa seorang.


"Siapa?" tanya Gara bingung.


"Ini foto ibunya Abang."


"Foto ibu?"


"He-em. Mama tadi nemu foto ini. Kata Mbak Sus, ini foto Ibunya Abang. Cantik, ya?" tanyaku. Aku memperhatikan wajah Gara. Kini hanya diam saja menatap foto tersebut. Perlahan tangan itu mengambil bingkai foto, dia masih terdiam.


"Cantik," ucapnya. Suaranya terdengar lirih sekali.


"Mulai sekarang, pasang foto ini di kamar, ya."


Gara tidak menjawab, dia malah terdiam dan mulai terisak. Tubuh mungil itu kini mendekat dan memelukku bersama dengan bingkai yang dia peluk dengan satu tangan di dadanya.


"Ibu!" tangis Gara terdengar pelan. Tubuhnya terguncang pelan. Tangannya yang kecil erat memeluk diriku. "Ibu!" tangisnya lagi. Aku tidak mau mengganggu. Biarkan saja dia menangis.

__ADS_1


__ADS_2