Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
141. Doa Yang Baik


__ADS_3

Kami menuju ke rumah, selama perjalanan tidak ada yang bicara sama sekali, hanya sepi yang menemani kami hingga setengah perjalanan.


Mobil bergoyang menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai. Beberapa kendaraan menyusul kami dan membuat aku sadar jika mobil ini melambat daripada tadi.


Aku tidak nyaman duduk di samping Arga sesekali aku melirik dia dari ujung sudut mataku, dia sedang melirikku dari kaca spion yang ada di depannya, sengaja dia belokkan agar mengarah kepadaku. Jelas, aku tahu sekali. Jika seharusnya kaca spion itu mengarah ke belakang, kenapa sekarang harus mengarah padaku?


"Kamu kenapa? Kok gak bicara?" tanya Arga padaku.


"Em ... bingung, mau ngomong apa?" jawabku. Dia terdengar tertawa dengan pelan, terdengar sangat renyah di tawanya itu.


"Kenapa harus bingung? Kayak kita bukan orang yang kenal saja. Aku bukan sopir taksi online loh, yang gak apa-apa gak diajak bicara. Aku 'kan calon suami kamu," ujarnya membuat aku bertambah tidak nyaman terhadapnya.

__ADS_1


Aku melirik dia dengan malu, serasa diri ini sedang dihadapkan dengan ujian yang sangat sulit. Keringat dingin mulai menyebar di keningku.


"Jadi, kita bakalan diam-diaman aja begini, nih? Tapi aku kok berasa gak enak ya, kita kayak gini. Sepi," ujar dia lagi.


Sekarang, gantian aku yang tertawa, garing rasanya karena aku tidak tahu harus bicarakan apa dengan dia.


"Ya, kamu mau bicara ya bicara saja. Kenapa juga harus nunggu aku yang bicara?" tanyaku balik.


Terlihat pria itu sedang mengusap belakang lehernya. "Yaaa, aku juga gak tau harus bicarakan apa. Hehe."


"Yu," panggilnya setelah kami hanya diam beberapa saat lamanya.

__ADS_1


"Iya?" Aku menoleh padanya, refleks.


"Jadi, mulai malam ini kita resmi jadi calon suami dan calon istri 'kan ya?" tanya Arga lagi, seperti dia ingin memastikan. Aku malu, tidak menjawab dengan suara, tapi menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Alhamdulillah, aku masih tetap tidak menyangka dengan semua ini. Akhirnya yang aku harapkan kejadian juga. Tau gak kamu, Yu? Aku selalu berdoa pada Allah dalam setiap sujudku, ingin dipertemukan lagi dengan orang yang aku sayangi, dan aku cintai," ucap pria itu, lalu dia terdiam setelah mengatakan hal itu.


"Maaf, apa mungkin ... kejadian yang kamu alami dengan Hilman adalah sebab dari doaku?" racau Arga, kali ini dengan nada suara yang terdengar sedih. Aku melirik ke arahnya. Dia sedang fokus pada jalanan yang ada di depan, tapi sorot matanya terlihat sendu.


"Aku selalu berdoa, agar dipertemukan dan di dekatkan serta dijodohkan kembali dalam ikatan pernikahan dengan wanita yang aku sayangi, dan aku selalu menyebut nama kamu di dalam doa ku. Apa aku salah selama ini? Karena dengan doa seperti itu, mungkin saja membuat kamu menjalani hal yang tidak baik untuk bersama dengan aku?" ucapnya dengan lirih.


Aku tersentak mendengar ucapan dia yang seperti itu.

__ADS_1


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku yakin doa kamu gak salah, jika memang kamu berdoa untuk hal yang tidak baik, tentu saja Allah gak akan ijabah doa kamu, Ga. Ini sudah takdir, jangan salahkan diri kamu sendiri. Jodoh dan maut tidak ada yang tau dan bisa menduga kita akan mati kapan dan juga kita akan dengan siapa melanjutkan hidup," jawabku, Aku tidak tahu banyak tentang agama, tapi aku yakin jika Tuhan pun tidak akan men-ijabah doa orang yang buruk terhadap yang lainnya.


Arga melirik ke arahku dan tersenyum, dia mengulurkan tangan dan menyentuh tanganku yang ada di atas pangkuan. "Terima kasih, Yu. Aku senang sekali malam ini. Semoga, meski kita bukan yang pertama dalam menjalani rumah tangga, tapi kita bisa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah nantinya," ucap pria itu membuat perasaanku menjadi hangat.


__ADS_2