Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
315. Nikah Dadakan


__ADS_3

“Pak!” terdengar suara wanita kini berteriak dan masuk ke ruangan tempat kami duduk. Terlihat Dewi keluar dari sana dengan wajah yang merah sembab seperti habis menangis.


"Kenapa Bapak usir Hilman?" cerca Dewi kepada ayahnya. Aku menatap Dewi dengan tidak percaya. Artinya apa ini? Dia tidak mau aku pulang?


"Loh memangnya kenapa kalau Bapak suruh dia pulang? Gak ada yang salah, kan?"


"Bapak gak boleh usir dia. Setidaknya berikan alasan kalau pun Bapak ngak terima Hilman!" ucap wanita itu lagi dengan menangis. Ibu Dewi yang sedari tadi duduk kini berdiri dan menenangkan putrinya.


"Bapak suruh Hilman pulang untuk bawa uang dia, belum selesai bapak bicara," ucap laki-laki itu yang membuat aku melongo. Apa lagi ini?


"Gimana kamu mau gak sama dia? Kalau mau bapak mau suruh dia bawa uang buat acara nikahan kamu, malam ini juga Bapak nikahkan kalian. Cari penghulu, pak RT, dan saksi," ucap laki-laki itu dengan tidak terduga. Aku masih terdiam, bukan hanya aku, tapi Dewi juga. Aku sangka, Dewi juga tidak menyangka dengan apa yang bapaknya tadi katakan.


"Malah bengong, kamu mau Dewi apa enggak!" bukan tanya, tapi menurutku seperti sebuah penawaran.


"Mau!" jawabku cepat.


"Kalau gitu ambil uang kamu, buat mahar dan beli suguhan orang-orang," ucap Wak Hendro.


Aku segera keluar dari rumah tersebut, tapi kemudian kembali lagi ke dalam rumah untuk meraih tangan calon bapak mertuaku dan menciumnya dengan khidmat.

__ADS_1


“Cepetan, sudah isya saya tunggu di sini, lewat dari isya, jangan harap kamu akan dapatkan Dewi,” ucap laki-laki dengan kumis tipis itu.


“Iya, Wak. Eh, Pak!” ucapku lalu menyalami ibu dan juga memaksa meraih tangan Dewi dan menempelkannya di kening Dewi. Bapak dan Ibu melongo melihat aku yang seperti itu. Rasanya hati ini tidak karuan sekali, mendapatkan berita jika aku diterima oleh ayah dan ibu Dewi. Segera aku melangkahkan kaki dengan cepat ke arah rumah, masuk ke dalam dan mengambil kunci motorku dan juga dompet. Sampai lupa jika helm juga belum aku ambil, maka dari itu aku kembali masuk ke dalam rumah.


“Kamu itu mau ke mana?” tanya ibu yang melihat aku bergerak tidak karuan. Rasanya lutut ini bergetar tanganku juga.


“Hilman mau nikah.”


“Hah?” Ibu malah menatapku dengan terkejut.


“Hilman mau nikah!” Aku hanya bisa berbicara seperti itu. Seakan tidak ada lagi yang bisa aku katakan kepada ibu. 


“Eh ini maksudnya gimana, Man? Hilman!” seru Ibu dari belakang. Aku tidak mendengarkan apa yang Ibu katakan lagi, segera mengeluarkan motorku dan pergi secepat mungkin. Bank tentu saja semua tutup karena hari sudah menjelang malam. Kumandang adzan terdengar di mana-mana.


Aku mencari ATM yang ada di dekat rumah. Lumayan mengantri membuat aku tidak sabar. Entah berapa menit lamanya Aku menunggu, tapi rasanya seperti beberapa tahun saja. Tidak sabar untuk membawanya ke rumah Dewi. Tidak tahu berapa uang yang diinginkan oleh kedua orang tuanya, tapi aku tidak masalah selama aku bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Ya, aku cinta dengan dia. Aku sayang dengan dia. Dan jangan ada yang berani untuk membantah soal itu!


Akhirnya setelah lama menunggu aku bisa mengambil semua uang yang tersisa di dalam ATM, ternyata masih lebih dari dua puluh juta. Aku hanya mengambil pas dua puluh. Tujuh juta lagi aku simpan untuk bekal kami nanti.


Gegas aku kembali ke rumah Dewi dan menyerahkan uang tersebut kepada orang tuanya. Ternyata beberapa orang sudah berkumpul di sana, penghulu, pak RT dan juga beberapa tetangga. 

__ADS_1


"Susul ibu kamu ke sini," ucap Wak Hendro. 


Aku mengangguk dan bergegas pulang ke rumah. Mengabarkan hal ini kepada ibu.


"Kamu serius mau menikah dengan Dewi?” tanya ibu kepadaku kini.


Aku mengangguk serius.


“Hilman sudah bawa uangnya untuk mahar pernikahan. Sekarang ibu ganti baju dan ikut Hilman ke rumah sana. Pintaku dengan sedikit memaksa. Aku mengganti pakaianku dengan kemeja putih yang biasa ku pakai kerja, untungnya kemeja ini baru aku beli bulan lalu, warnanya masih putih sempurna


Akhirnya Ibu menurut mengganti pakaiannya serta berkerudung. Kami berdua menuju ke rumah Dewi. Tidak kusangka di rumah ini orang semakin banyak daripada yang tadi. Aku sedikit grogi jadinya. Kursi telah dikeluarkan dan menggelar tikar di tengah rumah.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Saudara Hilman bin Jaelani dengan anak saya yang bernama Dewi Nurhayati binti Hendro Wiyono dengan maskawinnya berupa uang dua juta lima ratus ribu, tunai," ucap Wak Hendro sambil menggenggam telapak tanganku kuat disaksikan oleh penghulu dan kerabat serta tetangga.


Semua yang ada di sini terdiam, menikmati khidmat acara yang dadakan.


Aku menarik napasku dengan banyak, mencoba untuk mengumpulkan keberanian yang sedari tadi aku tekadkan. Dada ini berdebar dengan sangat kencang, hampir sama seperti pertama kalinya dulu aku mengucap akad pernikahan.


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Dewi Nurhayati binti Hendro Wiyono dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”

__ADS_1


Aku menutup mata, menunggu apakah akan ada ucapan sah atau tidak dari orang-orang yang ada di sini. Dadaku semakin berdebar dengan tidak karuan.


__ADS_2