Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
63. Kedatangan Ibu Mertua.


__ADS_3

Kabar baik kami terima dari Dokter Hendra jika operasi Ibu akan dilakukan minggu depan. Aku dan Ibu berucap syukur dengan hal itu.


Ibu harus menjaga pola makannya dan juga harus rutin meminum obat untuk jantungnya. Selain Dokter Hendra dan juga Dokter Wira, juga akan ada beberapa dokter lain yang akan membantu mengikuti operasi itu.


Kami kemudian pulang ke rumah setelah semuanya selesai, kembali taksi online aku pesan dan kini kami sudah berada di dalam mobil. Aku menawarkan Ibu untuk makan siang di suatu tempat, tapi Ibu menolak. Ibu berkata ingin pulang dan beristirahat.


Tak lama kami menghabiskan waktu di jalan, hampir satu jam lamanya kami telah sampai di rumah.


"Assalamualaikum." Aku dan Ibu kini masuk ke dalam rumah. Begitu terkejutnya aku melihat ada seseorang yang aku lihat di ruang tamu. Dia melihatku dengan tatapan yang ... entahlah. Seperti tidak suka padaku. Memang seperti itu sejak lama.


"Ibu?" Aku mendekat dan meraih tangan hampir keriput itu. Ibu Mas Hilman hanya menyalamiku sekilas, lalu dia menarik tangannya dengan cepat hingga belum sampai kening ini menyentuh tangannya.


"Ada apa Ibu kemari?" Aku berusaha untuk tetap sopan terhadapnya.


"Mbak Yu? Tumben kesini? Apakah ada perlu?" Ibu baru saja masuk ke dalam rumah dan terkejut dengan kedatangan besannya.


Kami duduk bertiga di sofa. Kulihat Sinta keluar dari arah ruangan dapur


"Budhe, Mbak Ayu, sudah pulang toh?" seru Sinta dengan raut wajah bahagia. Kulihat raut wajah itu sedikit aneh saat dia melirik Ibu dari Mas Hilman.


"Hem, sudah. Sin, buatkan minuman untuk Ibu," titahku kepadanya.

__ADS_1


"Iya, Mbak," ucapnya lalu kembai ke ruangan belakang.


"Saya datang kesini karena ingin menyampaikan sesuatu sama Mbak Yu dan juga Ayu," ujar Ibu Mas Hilman mulai berbicara.


Aku melirik ke arah Ibu, tadinya Ibu ingin beristirahat setelah sampai di rumah, tapi sepertinya Ibu tidak akan bisa karena ada besannya.


"Ayu ini kok jadi istri gak baik, sih. Kelakuannya itu loh di depan umum kok ya gak bisa dijaga!" seru Ibu mertuaku dengan nada sinisnya.


"Maksud Mbak apa, ya?" tanya Ibu dengan tidak mengerti. Jangankan Ibu, aku saja juga tidak mengerti dengan apa yang Ibu Mertua katakan sekarang ini.


"Itu loh, Mbak. Apa Mbak gak tau kalau Hilman dipecat dari pekerjaannya karena Ayu?" Ibu mertua mengatakan hal itu pada Ibu, sehingga membuat Ibu terkejut dan menatapku.


"Karena Ayu bagaimana maksudnya?" tanya Ibu tetap bingung, kini mencari jawaban dari besan yang sebentar lagi akan menjadi mantan besan.


"Bu, maaf. Hal ini kenapa juga Ibu saya harus tahu? Ibu saya harus beristirahat karena baru saja pulang dari rumah sakit." Aku memotong ucapan Bumer. Ah ya ampun, Ibu mertua rasanya terlalu panjang.


"Ibu gak apa-apa, Yu. Nanti saja Ibu istirahatnya," ucap Ibu seraya mengangkat satu tangannya dan berkata Ibu baik-baik saja. Jujur aku takut jika ucapan Bumer membuat Ibu sakit.


"Jadi maksud kamu mau usir saya begitu?" tanya Bumer dengan sewot seraya menatapku dengan tajam.


"Eh, bukan begitu, Bu. Ayu hanya ingin Ibu beristirahat saja. Kenapa Ibu malah bilang saya mengusir Ibu? Dari mana kalimat Ayu yang usir Ibu?" tanyaku dengan tak kalah nada suaranya dengan Bumer.

__ADS_1


Bumer menatapku dengan tajam. Entah apakah dia kaget atau apa, karena aku tidak biasanya membentak dia.


"Ayu, sudah. Biarkan. Gak sopan bicara dengan nada seperti itu pada orang yang lebih tua," ucap Ibu sambil mengelus lenganku. Aku hanya diam menghormati ucapan Ibu.


"Kamu ini sepertinya tinggal jauh dengan Hilman membuat kamu jadi seenaknya saja seperti ini sama saya!"


"Maaf, Mbak. Sebenarnya ini ada apa ya Mbak kesini? Apakah Mbak datang kesini hanya untuk memarahi anak saya? Apa salah Ayu sampai Mbak sekarang bersikap seperti itu?" tanya Ibu dengan lembut. Ah, Ibu. Entah terbuat dari apa hatinya hingga dia bisa bersabar dengan orang yang semacam ini.


"Saya datang kesini ya itu tadi. Ayu sudah bikin Hilman dipecat dari pekerjaannya!" seru Bumer tetap dengan nada tinggi.


"Memangnya Ayu ada salah apa sampai Ayu yang sebabkan Hilman dipecat?" tanya Ibu masih dengan sedikit bingung kini menatap kepada Bumer.


"Ini karena video. Apa Mbak gak tau soal video itu? Itu sudah buat anak saya dipecat dari kantor, Mbak!" Bumer tetap tidak mau menurunkan nada suaranya.


"Video apa? Saya gak tau soal video?"


"Nih, Ini video nya!" Bumer mengeluarkan hpnya dan segera mencari sesuatu di dalam sana. Kemudian terdengar suara yang sangat aku kenal, perdebatan antara aku dan juga Hana. Ibu memperhatikan video yang ada di dalam sana, sesekali menatap ke arahku. Aku memalingkan wajah ku ke arah lain, tidak ingin tatapanku bersibobrok dengan Ibu.


Sampai video berakhir, tak ada suara yang berbicara.


Sinta masuk ke dalam ruangan dengan membawa nampan berisi teh hangat untuk Ibu. Dia melirik ke arahku dengan bingung. Aku mengisyaratkan dia untuk kembali ke belakang, tidak baik baginya dia berada disini dan mendengarkan percakapan kami.

__ADS_1


"Tuh, lihat kan Mbak dengan kelakuan Ayu yang seperti itu? Sudah jelas kan apa yang Ayu lakukan di depan umum hingga membuat orang lain rekam video ini? Coba kalau Ayu bisa menjaga mulutnya dengan persoalan rumah tangga ini, dan tidak mengatakan soal Hilman yang tidak-tidak, pakai bicara soal tanggung jawab dan gak adil di depan umum."


__ADS_2