
"Mbak Ayu, sedang apa disini?" tanya pria itu. Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dengan pakaian rapi mendekat dan kembali bertanya padaku.
Aku terdiam, bingung sedang apa dokter berkaca mata ini ada di sini.
"Sedang menunggu bis," jawabku. "Dokter sedang apa di sini?" tanyaku padanya. Penampilannya masih sama seperti sebelumnya, terlihat rapi dengan kemeja berwarna biru dan celana bahan berwarna hitam.
"Ini ... baru pulang dari mengisi kelas di salah satu kampus. Mbak Ayu nunggu bis? Mau kemana?" tanya dia lagi.
"Pulang."
"Pulang? Memang Mbak Ayu dari mana? Motornya kemana?" tanya Dokter Wira lagi melihat ke arah sekeliling halte.
"Baru pulang kerja. Motornya sedang ngadat, gak mau nyala, jadi tadi berangkat kerja pake umum," jawabku.
"Oh, kalau begitu, saya antarkan pulang bagaimana? Kebetulan kita ketemu. Rumah Mbak Ayu juga masih lumayan jauh dari sini. Dan ini juga sudah menjelang malam," ujarnya lagi.
Aku melihat ke arah kejauhan. Memang suasana semakin gelap, kendaraan banyak, tapi tidak tahu bis akan datang di jam berapa.
"Mari, saya antarkan saja, ya?" tawar Dokter Wira lagi. Akhirnya aku setuju untuk dia mengantarku pulang.
"Tapi rumah Dokter tidak searah kan dari sini?"
"Jangan pedulikan. Saya pakai kendaraan. Lagipula, saya ini kan laki-laki," ucapnya lagi dengan senyuman.
"Jadi merepotkan Dokter," ucapku tidak enak.
"Tidak masalah."
Aku masuk ke dalam mobil, pintu kemudian ditutup oleh Dokter Wira dan dia segera berlari memutari sebagian mobil.
"Sudah cukup lama ya kita tidak bertemu," ucap Dokter Wira. "Ibu sehat?" tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah, sehat Dokter."
"Alhamdulillah. Senang mendengar Ibu Diah sehat," ucap dokter itu lagi
"Dimana Mbak Ayu kerja?" tanya Dokter Wira selanjutnya.
__ADS_1
"RC," jawabku singkat. Dia menganggukkan kepala, pandangan matanya terfokus pada jalanan di depan. Gerimis turun, menerpa kaca depan mobil, semakin lama semakin deras.
Untung saja aku ikut Dokter Wira. Kalau tidak, pasti aku akan kebasahan menunggu bis datang.
"Tapi RC jauh dari rumah." Dokter Wira melirik singkat ke arahku.
"Iya, lumayan."
"Kenapa tidak cari yang dekat rumah saja?"
"Sudah cari, tapi tidak ada yang terima," jawabku.
Dokter Wira kembali menganggukkan kepalanya lagi.
"Ah, saya terlambat rupanya. Kemarin ada seorang teman dokter, perempuan, dia membutuhkan seorang asisten untuk membantu dia mengurusi butiknya. Maklum, sebagai seorang dokter dia sibuk di rumah sakit, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan butiknya yang menjadi cita-citanya sejak lama. Butuh orang untuk jadi kaki tangan. Sayang, saya terlambat rupanya. Mbak Ayu sudah bekerja." Dokter Wira tersenyum sekilas.
"Iya, sayang sekali saya sudah bekerja sejak dua bulan yang lalu di RC."
"Oh, iya. Tapi siapa tahu Mbak Ayu mau ganti haluan misalnya? Tidak terlalu jauh dari rumah," ujarnya.
"Oke, kalau nanti Mbak Ayu berminat, Mbak Ayu bisa hubungi saya," ucapnya.
Aku tertawa mendengar dia mengucap seperti itu. Menutup mulutku dengan satu tangan.
"Kenapa?" tanyanya dengan kening yang mengerut.
"Tidak. Hanya saja Dokter Wira ini seperti penyalur tenaga kerja saja!" ucapku. Dokter Wira pun tertawa setelah mendengar aku yang bicara seperti itu.
"Memang saya sedang jadi penyalur tenaga kerja, khusus untuk Mbak Ayu," jawabnya ringan.
"Oke, tapi sepertinya, saya sedang ingin menjalani pekerjaan saya dengan baik. Nanti kalau saya sudah tidak mau lagi di RC, saya bisa kan hubungi Dokter Wira?" tanyaku padanya. Basa basi tentunya.
"Tentu boleh, selama posisi itu masih kosong tentunya," ujarnya sambil tertawa kecil.
"Tapi kalau disana sudah ada yang mengisi, Mbak Ayu jadi istri saya saja–,"
Aku menatapnya dengan refleks.
__ADS_1
"Asisten. Maksud saya jadi asisten!" ralatnya. Dia terlihat salah tingkah dan terdengar gugup seraya tersenyum singkat, lalu kembali pada jalanan di depan sana.
Mobil terus melaju, membelah jalanan yang basah karena air hujan. Udara semakin dingin dengan hujan yang membesar dan juga AC yang menyala, menghantarkan udara dingin yang menusuk di tulang kakiku.
"Dingin, ya?" tanya Dokter Wira tiba-tiba saat aku memikirkan ucapan pria ini tadi.
"Eh?"
"Apa Mba Ayu kedinginan?" tanya Dokter Wira lagi seraya menunjuk tanganku yang saling memeluk satu sama lain.
Aku tersenyum malu. "Lumayan," jawabku. Udara memang sedang tidak baik akhir-akhir ini.
Tangan besar itu menggapai sesuatu di bawah dashboard, seketika udara yang terasa dingin perlahan menghilang.
"Terima kasih."
...***...
Mobil sudah sampai di depan rumah. Hujan masih saja turun meski tidak terlalu besar seperti tadi.
"Sudah sampai rumah. Mbak Ayu hati-hati, jangan lari!" Dokter Wira memperingatkan saat mobil baru saja berhenti di luar pagar. Aku jadi tersanjung dengan perhatiannya, tapi hati ini tidak juga bisa dibuat berubah untuk suka dengan dia. Jangankan suka, simpati saja tidak! Apakah aku terlalu kejam?
"Iya, tentu. Dokter juga hati-hati di jalan. Terima kasih banyak sudah mau antar saya pulang," ucapku. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Aku berlari kecil setelah berhasil membuka dan menutup pintu pagar. Sampai di teras rumah, mobil milik Dokter Wira masih ada di luar sana. Dia membunyikan klakson pertanda jika dia pamit untuk pulang, aku menganggukkan kepala. Mobil itu perlahan pergi meninggalkan jalanan.
Dokter Wira memang orang yang baik. Bisa aku lihat ketulusan yang ada di matanya ketika menatapku. Bukan perkara kacamata lagi, toh dia memang tampan tidak atau dengan kacamata itu di wajahnya.
Andai ada sedikit saja getaran yang ada di hatiku pada Dokter Wira, aku pasti akan mengalah dan mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Akan tetapi, hati ini rasanya berat untuk mengatakan iya. Berat untuk berpikir aku akan bersanding dengan dia.
Teringat dengan ucapan orangtua Dokter Wira waktu itu, dari kata-kata dan nada suaranya, mereka seakan mengisyaratkan sesuatu. Entah apakah aku ini terlalu pede atau bagaimana, tapi perasaanku mengatakan jika keluarga Dokter Wira tidak keberatan jika aku dengan putra mereka.
Aku menepuk kepalaku sedikit keras.
Mana mungkin mau dengan wanita yang tidak sempurna seperti aku. Sekarang bisa saja bicara tidak masalah, tapi nanti ...
Orang tuanya juga mungkin suatu saat akan membahas dan membesarkan hal ini, meski aku yakin orang tua Dokter Wira adalah orang yang baik, tapi aku bingung saja. Bagaimana jika hal itu jadi pembahasan dan akhirnya membuat salah satu terluka? Siapa yang akan dipilih Dokter Wira untuk dia bela?
__ADS_1