Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
316. SAH!!!


__ADS_3

“SAHH!” teriak yang lain membuat aku bernapas dengan lega. Sangat leega sekali sehingga tidak terasa kini aku menangis dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.


“Selamat Hilman,” ucap penghulu itu padaku, begitu juga Pak Rt dan tetangga lain, ada Ani dan suaminya juga di sana yang ikut menjadi saksi atas telah menyatunya aku dan Dewi.


Dewi didampingi ibunya, dengan berkerudung panjang dan gamis yag sangat cantik, kini berjalan keluar dari dalam kamarnya. Dia di dudukkan di sampingku. Aku terpana, wajahnya beda dengan yang tadi. Kini terlihat berseri dan bercahaya.


“Cium dulu dong pengantin wanitanya,” ucap pak penghulu bicara kepada kami. Dengan malu-malu, kami saling berhadapan dan Dewi menyambut uluran tanganku, dengan perlahan membawanya pada ujung hidungnya yang mancung. Aku terharu, seketika kembali menitikkan air mata. Tak malu karena terlihat oleh orang lain, ini sebagai bentuk bahagiaku dengan apa yang terjadi.


“Sun kening, dong! Yang lama ya, Hp-nya rada lemot soalnya!” seru suara yang aku kenal, sangat cempreng sekali dan telah membuat yang lain bersorak kegirangan. Ani tertawa bersama dengan yang lainnya.


Aku mendekat semasih Dewi mencium punggung tanganku, dengan perlahan mencium keningnya yang tertutup jilbab.


“Cieeee!” Terdengar sorak sorai dari tamu yang lain. Hanya dua detik aku mencium kening Dewi, tahu jika dia tidak nyaman dilihat oleh banyak orang seperti ini sehingga tangannya terasa dingin sekali di telapak tanganku.


Kami beralih menyalami para orang tua. Ibu Dewi menangis tersedu, sedangkan ibuku masih diam dan terlihat sedikit syok mungkin dengan adanya nikah dadakan ini.


Pak penghulu mengeluarkan selembar kertas, bukti jika kami telah resmi menikah secara agama. “Setelah ini kalian bisa urus pernikahan secara negara, ya. Biar punya bukti yang kuat kalau kalian ini beneran suami istri yang sah di mata hukum dan agama.” Pak penghulu kemudian memberikan wejangan kepada kami berdua, mengenai kehidupan rumah tangga yang akan kami hadapi nanti, lika liku, segala permasalahan rumah tangga yang ada dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan tersebut.


Aku, meskipun ini pernikahan ketigaku, tapi rasanya membenarkan sekali dengan wejangan-wejangan yang diucapkan oleh penghulu barusan. Semua permasalahan haruslah selalu dibicarakan dengan baik, tidak harus dengan emosi.

__ADS_1


“Hilman, sekarang ini kamu sudah resmi menjadi suami dari Dewi. Bapak minta kamu tuntun Dewi ke jalan yang benar, tuntun sholatnya, tuntun imannya, mencari ridho Allah dengan baik. Jadikan Dewi istri yang solehah ….” Aku mengangguk dan diam dengan khidmat mendengarkan nasehat bapak yang panjang lebar. 


Acara sudah selesai, tapi beberapa tetangga memilih untuk tinggal sedikit lama di sini untuk mengobrol bersama dengan si pemilik rumah. Wak Hendro … em, maksudku Pak Hendro, yang kini sudah jadi bapak mertuaku menemani mereka mengobrol bersama dengan kami. Sedangkan ibu bersama dengan ibu Dewi. Vita mencuri perhatian dari ibu mertuaku, dengan secara tak langsung mereka telah memiliki cucu yang sudah besar. Dewi tidak perlu susah payah hamil dan melahirkan, aku sudah membawakannya anak.


Ingat waktu itu saat Hana hamil sangat kepayahan. makan ini dan itu tidak mau, kerja ini gak bisa, kerja itu gak mau, yang ada mual muntah terus menerus, sampai pada kelahiran Vita juga Hana sempat pingsan karena kepayahan saat mengeluarkan Vita, sempat aku mengira Hana tidak akan selamat karena dokter pun sudah mengatakan pasrah dengan Hana, memutuskan untuk operasi sesar jika vacuum tidak bisa membantu kelahiran Vita.


“Pengantin di kamar aja sana. Gak usah nimbrung di luar,” ucap salah satu tetangga dengan nada menggoda. Aku jadi malu.


“Buka puasa setelah lebih dari dua tahun. Mendingan nanti malam gelar kasur di bawah,” ucap salah seorang yang lain.


“Kenapa?” tanya yang lain menyahut.


“Sudah ah, mau pulang saja. Pengantin lama juga butuh kelonan,” ucap salah satu tetangga lalu bangkit dari duduknya, mendekat ke arah bapak dan bersalaman, begitu juga kepadaku. Beberapa orang yang lain juga sama, memilih untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


Ibu-ibu pun sama, dengan alasan mau ‘boboin’ anak, tak tahu anak yang mana, apakah anak yang kecil atau anaknya yang jadi-jadian. Mereka satu persatu pamit karena ini juga sudah malam.


“Bu Widia tidur di sini saja, biar ramai,” ucap ibu mertuaku meminta. Ibu terlihat sedikit tak nyaman, tapi akhirnya setuju untuk malam ini tidur di rumah ini. Bersama dengan satu adik Dewi yang belum lulus kuliah, mereka tidur di dalam kamar bersama dengan Vita, sedangkan kakak laki-laki Dewi dan bapak tidur menggelar kasur di depan tv.


“Eh,kamu ngapain di sini?” tanya Mas Wahyu, kakak laki-laki Dewi, saat aku duduk di atas kasur lantai.

__ADS_1


“Ikut gabung, Mas.”


“Loh, loh. Kok Dewi ditinggal sendiri? Masa baru nikah dan malam pertama udah ditinggal, sih piye?” ucap bapak dengan gelengan kepala.


“Tidak enak, Pak. Masa Bapak dan Mas Wahyu tidur di luar,” ucapku dengan jujur.


“Tidak enak itu kalau sudah punya istri tapi gak tidur bareng, apa lagi malam pertama. Sana wes, jangan di sini, nanti kalau istri sudah marah malah rugi, tidurnya di luar sama bantal guling!” ucap bapak yang mengundang decak kesal dari Mas Wahyu.


“Nyindir. Nyindir!” ucap laki-laki itu dengan nada tak suka.


“Eh, siapa yang nyindir. Emang kenyataannya, kan? Bilang aja kalau kamu gak bisa taklukin emaknya Cio. Makanya kalau malam tuh bangun, gantiin popok si Baby Keysha. Jangan molor terus!” ujar Bapak terdengar kesal tapi kemudian tertawa mengejek.


Aku tertawa mendengar dan melihat interaksi dari ayah dan anak ini, sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan dari keluarga lengkap. Bapak yang kaku, dan kakak yang tidak pedulian, membuat hari-hari yang aku lewati saat di rumah menjadi tidak ada warna. Kali ini aku senang mendapatkan keluarga yang sangat hangat dan begitu dekat satu sama lain.


“Kok malah bengong di sini, sana masuk kamar. Kasihan Dewi sudah menunggu,” ucap bapak sekali lagi. Aku mengangguk dan pamitan untuk pergi ke dalam kamar yang tidak terkunci.


Rasanya dada ini sudah tidak karuan saat melihat Dewi sedang duduk di tepi ranjang, pakaiannya masih lengkap, kerudung panjang masih terpasang di kepalanya.


“Assalamualaikum,” ucapku memberi salam. Dewi tersentak dan sedikit bergerak bergeser saat aku mendekat.

__ADS_1


“Wa- waalaikumusalam,” jawabnya dengan terbata, terdengar bergetar nada suaranya.


__ADS_2