Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
173. Kedatangan Dokter


__ADS_3

Malu. Aku malu sekali dengan kejadian barusan. Bagaimana aku bisa lupa jika laki-laki ini adalah suamiku sendiri? Astaghfirullah.


Arga masih saja tertawa, dia sampai terpingkal dan memegangi perutnya.


"Serius kamu lupa, Yu?" tanya Arga, mencoba untuk menghentikan tawanya.


Aku diam. Malu. Tidak bisa bicara apa-apa.


"Ya ampun. Kamu ini ada-ada aja, sih. Padahal semalam kita kan sudah olah raga bersama loh, menaiki gunung dan bukit, serta turun ke jurang terjal dan menikmati malam panas sama-sama," ucapnya ambigu.


Aku menoleh padanya. Malu sekaligus merasa kesal. Kenapa juga harus kalimat itu yang dia ucapkan?


Arga mendekat padaku, mencium pipiku dengan gemas, wangi sampo menguar dari rambutnya. "Ayo cepat kita bersiap. Cuci muka dan ganti baju lalu sarapan. Kita harus segera berangkat ke hotel. Gak usah mandi, aku sudah panggil seseorang untuk membantu kamu bersih-bersih di hotel nanti," ucap Arga. Aku menatapnya bingung.


"Siapa?"


"Ada, pokoknya orang yang ahli yang bisa bantu kamu nanti," ucapnya tanpa mau menjelaskan lagi. Aku tidak banyak bertanya lagi, mengikuti perintahnya untuk bersiap. Hanya sekedar cuci muka dan gosok gigi.


Kami sarapan terlebih dahulu, yang lainnya masih mempersiapkan entah apa. Terlihat sangat sibuk di belakang sana.


"Gara gak rewel tadi malam, Bi?" tanyaku pada Bibi. Khawatir Gara membuat Bibi susah.


"Enggak, malahan pules tidurnya sama Widi. Capek kali udah mainan boneka," ujar Bibi, sambil membantu membereskan meja makan.


"Cepat kalian selesaikan makan, terus berangkat. Nanti Gara sama Bibi saja. Biar kalian di sana tenang," ucapnya lagi. Aku dan Arga mengangguk bersamaan.


"Terima kasih, Bi," ucap Arga.


Kami mendahului yang lainnya pergi ke hotel, mereka akan menyusul kami ke tempat acara nanti, paling lambat sekitar satu jam sebelum acara di mulai.


Sopir ada di depan, sedangkan kami berdua duduk berdampingan di kursi belakang. Sepanjang perjalanan Arga memegangi tanganku, menautkan jari jemarinya di antara jariku. Sesekali mencium punggung tangan dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu tau, gak? Hari ini tuh, aku seneng dan gak seneng," ujar Arga sambil menyenderkan kepala ke bahuku.


"Seneng kenapa? Gak seneng kenapa?" tanyaku.


Arga menghela napasnya sedikit berat, terdengar agak kasar. "Seneng karena aku dan kamu akan ada di tempat yang sama, sebagai suami istri. Memperlihatkan pada semua orang ini lah istriku," ucap Arga. "Tapi, aku juga gak seneng, itu berarti jika orang lain akan melihat kecantikan wajah kamu. Aku takut, Yu. Kalau ada orang lain yang tiba-tiba suka sama kamu, lihatin kamu dengan mata mereka, lalu membayangkan kamu dengan hal yang lainnya," ucap Arga.


Aku tertawa kecil. Sampai segitunya Arga padaku.


"Haha, lalu? Aku harus bagaimana?" tanyaku pada Arga, aku jadi bingung sendiri kalau dia seperti ini. Arga menggelengkan kepalanya.


"Rasanya aku mau kita tinggal di kamar saja, gak usah pesta. Hehe." Tawa Arga kecil sambil meringis, matanya yang sipit terlihat semakin tipis.


Kami sudah sampai di hotel, tempat di mana kami akan melakukan resepsi pernikahan. Hotel ini, salah satu hotel besar yang terkenal di kota kami. Aku tidak menyangka sebelumnya jika aku bisa masuk ke dalam hotel ini bahkan Arga menyewanya untuk acara penting kami.


Suasana di aula hotel sudah disulap menjadi ruangan yang sangat indah, membuat ku ternganga melihat keindahan yang tersuguh di depan mata. Melewati banyaknya meja dan kursi yang berjejer rapi, membuat aku terkesima. Tidak pernah menyangka sebelumnya jika acara ini akan menjadi begitu sangat indah dengan dekorasi yang mewah.


"Kamu senang?" tanya Arga padaku saat aku berhenti untuk melihat panggung pelaminan kami. Benar-benar sangat indah sekali.



"Ini bagus sekali," ucapku pada Arga. Dia tersenyum senang, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Papa yang uruskan, aku gak tau kalau akan jadi secantik ini. Tidak apa-apa, kan?" tanya dia padaku.


"Tidak apa-apa, tapi apa tidak terlalu berlebihan?"


"Tentu saja tidak." sanggah Arga cepat. "Papa sangat senang dengan kamu, tentu hal ini sangat tidak berlebihan untuk Papa. Kamu tau, Papa pasti sudah menahan diri untuk tidak membuat pesta yang sangat meriah. Bagi keluarga kami, pesta yang dibuat seperti ini adalah pesta yang sederhana," bisik Arga di dekat telingaku.


Pesta yang sederhana saja seperti ini, bagaimana dengan pesta yang meriah? Inikah definisi sederhana di keluarga mereka?


"Ayo, ke lantai atas. Kamu harus bersiap dan mandi. Keringat hasil semalam masih tercium wangi di hidungku," bisiknya lagi sambil mengendus di dekat telingaku.

__ADS_1


Aku memberengut sebal. Tadi, siapa yang suruh aku gak mandi?


"Arga, jangan nakal. Kamu yang bilang aku mandi saja di sini," ucapku dengan kesal. Arga tertawa, sedikit keras. Mungkin saja melihat wajahku yang memerah. Bisa jadi, karena rasanya setelah mendengar bicara Arga tadi, pipiku jadi menghangat.


"Haha. aku nggak nakal. Memang itu kenyataannya, tapi aku suka," ucapnya lagi. Aku semakin malu, apalagi di belakang sana ada sopir Arga yang membantu kami membawa barang. Tidak kah dia bisa mengkondisikan sikapnya? Apa dia tidak malu ucapannya terdengar oleh orang lain?


"Sudahlah, Ayo kita cari lift." Aku menarik tangannya supaya dia tidak terus-terusan berbicara yang aneh-aneh di depan orang lain.


Kami menaiki lift dan kemudian Arga menunjukkan kamar di mana kami akan bersiap. Ku lihat di dalam sudah ada orang wanita, Mbak Yeni dan MUA yang sedang mempersiapkan segala sesuatu hal untuk kami.


"Sebentar, aku telepon orang dulu," ujar Arga, lalu dia keluar dari kamar ini.


Tidak lama, dia kembali dengan dua orang lain di belakangnya, dokter dan satu wanita entah siapa. Mbak Yeni dan MUA pergi karena Arga yang meminta mereka keluar terlebih dahulu.


"Jadi? kalian sudah senang-senang semalam?" tanya dokter yang duduk di hadapan kami setelah kedua orang itu tidak ada, wanita yang ada di sampingnya ternyata adalah istri dokter tersebut.


"Bukankah saya sudah bilang jika luka Mbak Ayu tidak boleh terkena air dulu selama satu minggu?" ujar dokter tersebut dengan wajah yang sedikit terlihat kesal.


"Ya, Dokter tahu lah, kami sebelumnya adalah orang yang sama-sama sudah lama tidak mendapatkan belaian dan kasih sayang. Jadi, kami tidak bisa menahan diri saat sudah sah dan tidak ada yang mengganggu. Hehe." Arga tertawa kecil, memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menggaruk belakang kepalanya yang ku yakin tidak gatal sama sekali, sedangkan aku ingin menghilang saja dari sini melihat tatapan dokter yang kesal dan juga istrinya yang sedari tadi mengulum senyuman.


Aku malu!


"Kami tidak bisa mengkondisikan hasr*t kami. Tolong Dokter dan Istri bisa maklum akan hal itu," ucap Arga lagi. Dokter tersebut menghela napasnya sedikit keras. Dia melirik kepada istrinya dan menganggukkan kepala.


"Biar istri saya yang akan membantu Mbak Ayu untuk mandi. Tidak apa-apa kan, Mbak Ayu?" ucap Dokter kini sambil menatap ke arahku. Mau tidak mau, aku menganggukkan kepala. Daripada aku tidak mandi dan tidak bisa melakukan kewajibanku sama sekali. Menunggu sampai beberapa hari sehingga luka ini kering dan tidak bisa menghadap Sang Khalik.


Aku dan istri dari dokter tersebut berada di dalam kamar mandi. Malu sebenarnya dimandikan oleh orang lain, bahkan dengan Ibu saja aku sudah tidak pernah dimandikan. Dengan menggunakan kain sarung yang entah kapan Arga siapkan, kini kain itu aku pakai di tubuhku, tidak mungkin 'kan aku akan polos di hadapan orang asing dan membiarkan dia melihat ku, meski kami sama-sama perempuan.


Duduk di kursi plastik, dengan perlahan istri dari dokter tersebut membilas rambutku. Sangat hati-hati sekali, meski rasanya sedikit perih saat sampo dan air mengenai luka tersebut.


Sudah! Setelah ini Arga harus puasa sampai lukaku mengering. Titik!

__ADS_1


__ADS_2