
Aku dan si Ibu yang mengaku Bibi dari Ustadz Zain menatap ke sebelah. Seorang wanita paruh baya mendekat ke arah kami. Aku kenal wanita ini adalah tetangga Ibu mertuaku. Em ... mantan mertuaku.
"Iya, ini memang calon istrinya Zain. Kemarin Kyai Amrul juga sudah bilang kalau Ayu ini sudah dipinang sama Kyai untuk Zain," ucap wanita dengan jilbab besar ini.
"Bukannya Ayu belum selesai masanya ya sama Hilman? Saya dengar kan cerai juga baru beberapa minggu yang lalu?" tanya wanita itu. Bisik-bisik beberapa orang terdengar tak enak di telinga tentang aku dan juga ada nama Kyai Amrul yang mereka sebut.
Bibi dari Ustadz Zain menatap bingung kepadaku.
"Wanita yang belum selesai masa iddahnya kok dah dipinang? Kok kayak perceraian karena ngebet mau nikah lagi!" ucapnya dengan ketus. Kembali beberapa orang yang ada di dekat kami saling berbisik satu sama lain.
"Bu, Ayu gak begitu, ya. Gak ada niatan Ayu pisah dengan Mas Hilman karena Ayu mau menikah dengan orang lain. Kan Ibu sendiri tau kalau Mas Hilman itu menikah lagi dengan wanita lain. Dan kami bercerai karena itu. Bukan karena oang ketiga yang disebabkan oleh saya!" ucapku dengan kesal. Ibu Murtiah, nama tetangga Bumerku, kini hanya diam.
"Ya kan saya cuma bicara saja, Belum selesai masa iddah kok sudah dilamar. Kan kesannya terdengar seperti yang kamu cerai karena ngebet ingin menikah lagi!" ucapnya lagi.
"Ya sudah, sukur deh kalau kamu sudah ada pengganti Hilman. Semoga saja calon suami kamu menerima kamu apa adanya. Semoga cepat menyusul punya momongan seperti madu kamu," ucapnya ketus, lalu pergi dari hadapan kami. Aku hanya terdiam melihat kepergiannya yang kian menjauh, mendekati kami hanya untuk bicara seperti itu? Apa masalah dia denganku?
Luka lama yang telah aku tutup dengan susah payah, kini sedikit terbuka dan terasa perih. Lagi-lagi ada yang menyinggung perkara soal anak. Hal terpenting pada suatu pernikahan.
Bibi dari Ustadz Zain menatapku dan mengelus lenganku dengan lembut.
"Yang sabar, ya. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Bukan salah kamu juga. Ini memang salah Kyai yang ribut dan gak mau menunggu sampai kamu benar-benar bebas," ucap wanita itu. Aku hanya tersenyum tipis.
"Mungkin karena Zain memang tidak pernah melirik perempuan lain, dan baru kali ini dia meminta Kyai untuk mendatangi seseorang," ucapnya lagi.
Pertemuan dengan kerabat dari Ustadz Zain hanya sebentar. Beliau mengajakku untuk mampir dulu di tempat makan karena ini sudah masuk jam makan siang, tapi aku menolak dengan halus dan mengatakan jika aku harus pulang karena khawatir dengan keadaan Ibu.
__ADS_1
Kami berpisah setelah aku mendapatkan daging.
Ucapan Bu Murtiah tadi memang tidak salah, aku memang belum bebas sepenuhnya. Akan tetapi, Kyai juga memang sangat terburu-buru untuk datang. Ada ucapan baik dari para tetangga yang mengetahui kabar tentang kedatangan Kyai ke rumah, tapi tak sedikit pula yang mencemooh akan diriku. Mereka menyangka aku bercerai dengan Mas Hilman karena aku ingin menikah dengan seorang ustadz, padahal aku juga tidak mengenalnya sebelum ini. Tahu nama saja baru kemarin saat pengajian.
Warung sudah buka, aku terlambat karena Ibu kini menunggu warung dan sedang melayani anak kecil yang membeli makanan ringan.
“Sudah dibuka, Bu? Kan Ayu sudah bilang sama Ibu kalau Ibu gak usah buka-buka warung segala,” ucapku seraya menyimpan barang belanjaan di lantai.
“Ibu kesel dari tadi, gak ada kerjaan. Lagian kan cuma buka warung aja. Pintunya juga tinggal geser, kok.” Ibu tak mau kalah. Tangannya yang kurus mengeluarkan barang belanjaan dan memilahnya, memasukkan obat-obatan ke dalam etalase, minuman ke dalam kulkas, dan menata boks makanan ringan di rak.
Aku masuk ke dalam rumah, menuju ke arah dapur untuk membawa mangkuk dan air minum. Dua bungkus bakso yang aku beli di depan pasar kini sudah terhidang dan aku bawa ke warung.
Ibu terlihat senang melihat benda bulat yang ada di dalam mangkok itu, senang karena aku membelikannya. Memang aku cukup membatasi makanan yang Ibu makan, karena anjuran dokter untuk tidak terlalu sering makan yang berlemak.
“Tadi Dokter Wira kesini, Yu.” Ibu bicara di antara suapannya.
“Itu, tadi kasih undangan dari Mbak Wanda. Anaknya ulang tahun hari Minggu nanti.”
“Oh. Mbak Wanda bisa chat Ayu kenapa harus Dokter Wira yang kesini?” tanyaku pada Ibu. Entah Ibu tahu alasannya atau tidak.
“Katanya Mbak Wanda sedang sibuk. Sekalian juga Dokter Wira mengecek keadaan Ibu. Kan sudah lama Ibu tidak ke rumah sakit,” ucap Ibu lagi.
Aku terdiam mendengar ucapan Ibu barusan. Hari minggu masih empat hari lagi. Jika pun sibuk, kan bisa pada malam hari atau pada waktu pagi hari kirim pesan. Mengetik pesan tak akan memakan waktu satu jam lamanya.
“Kamu mau datang?” tanya Ibu. Belum selesai pemikiran ku tadi tentang pesan dan juga kenapa harus Dokter Wira yang datang.
__ADS_1
“Datang lah, Bu. Mbak Wanda sudah bantu Ayu masa ulang tahun anaknya gak datang. Ibu mau ikut?” tanyaku pada Ibu. Ibu menggelengkan kepala. Kami terdiam kembali memakan makanan kami masing-masing.
...***...
Aku sudah bersiap untuk berangkat ke acara ulang tahun anaknya Mbak Wanda. Kado telah aku siapkan. Tadinya aku bingung mau memberikan kado apa untuk putranya, aku sempat bertanya pada seorang pelayan toko, mainan apa yang disukai anak laki-laki usia empat tahun. Sekalian minta di bungkuskan di toko tersebut.
Suara ketukan terdengar di luar pintu kamar, sedetik kemudian pintu terbuka dan ku lihat dari bayangan cermin Ibu melangkah masuk.
“Yu, itu ada Dokter Wira diluar,” ucap Ibu setelah ada di belakangku.
Aku menoleh ke arah Ibu. “Mau apa?” tanyaku. Cukup terkejut dengan ucapan Ibu barusan.
“Jemput kamu,” jawab Ibu.
“Ayu gak minta dijemput sama dia, Bu,” ucapku pada Ibu. Ibu hanya menggelengkan kepala.
“Ibu kira kalian suah janjian,” ucap Ibu bingung. Aku hanya diam. Bingung juga, kenapa dia datang kemari padahal aku tidak memintanya menjemput atau tidak ada pesan sebelumnya jika dia akan datang kesini.
“Dia sudah sampai kesini mau bagaimana? Ibu kira kalian itu janjian, makanya Ibu bilang kamu sedang siap-siap,” ucap Ibu.
“Ya sudah, lah. Sebentar lagi Ayu juga keluar kok.”
Ibu kembali ke luar, sementara aku merapikan kerudungku yang belum terpasang sempurna.
Dokter dan Ibu sedang bercakap-cakap di ruang tamu. Seperti biasa Ibu selalu saja memiliki topik untuk dibicarakan. Dokter Wira menjawab setiap pertanyaan Ibu, dan Ibu juga selalu tersenyum ketika bicara dengannya. Hampir sama seperti dulu saat Ibu bicara dengan Mas Hilman, tentunya sebelum tahu akan permasalahan kami.
__ADS_1
“Dokter sudah lama nunggu?” tanyaku. Dokter Wira menghentikan bicaranya dengan Ibu dan menatapku.