Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
250. Pergi bersama


__ADS_3

Aku kembali ke kamar, meninggalkan Gara yang kini makan bersama dengan Sari. Arga telah bangun dan baru saja selesai mandi. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyuman tersungging di bibirnya. Rambutnya masih terlihat basah.


"Dari mana?" tanyanya.


"Dari dapur, makan."


"Oh, Alhamdulillah kalau kamu dah doyan makan. Mbak Sus sudah bikin bakso lagi kah?"


"Belum, katanya lagi ke swalayan beli daging."


"Terus kamu makan sama apa?"


"Dibuatin mie telor sama Sari."


"Jangan banyak makan mie. Gak baik buat kesehatan kamu," ucapnya. sambil memasang kaos di tubuhnya, perutnya kini terlihat gendut sedikit menyembul mirip denganku.


"Tau, Sayang. Tapi gak banyak kok. Lagian cuma sekali ini aja. Tanya sama Mbak Sus nanti kapan aku makan mie?" titahku.


"Iya, sesekali boleh, tapi jangan sering aja." Peringatnya lagi.


"Iya." Arga kini sedang menyisir rambutnya yang sudah mulai panjang.


"Kamu mau kemana? Kok rapi amat?" tanyaku padanya.


"Ke mall, yuk. Beli baju. Celana banyak yang udah sesak, nih." Ajaknya sambil mengelus perutnya yang buncit. Aku tertawa geli, perut kotak yang dulu dia banggakan kini tidak ada lagi. Aku mendekat kepadanya, mengelus perutku yang bulat dan menyandingkan besaran milik kami masing-masing.


"Hampir sama, ya. Kok kita jadi kembaran gini, sih?" ujarnya sambil menatap cermin di depan sana.


"Haha, gak tau, tuh. Kamu kan jarang olah raga sekarang," ucapku.


"Gak ada waktu, capek,"


"Capek apanya, kerjaan santai begitu kok capek," ucapku padanya.

__ADS_1


"Sudah cukup olah raga malam aja, Ma. Lebih enak kalau olah raga bersama," ujarnya sambil tertawa kecil.


Aku memutar bola mata malas, dia selalu saja seperti itu. Pikirannya ... aduh! Mesum sekali!


"Gara sudah bangun?" tanya Arga kini.


"Sudah, tadi lagi makan sama Mbak Sari di dekat kolam ikan."


"Aku cari Gara dulu, deh. Dia ikut gak ya?"


"Pastinya ikut lah. Anak itu paling seneng kalau di ajak ke mall," ucapku sambil tertawa.


"Oke, kamu ganti baju. Aku mau tanya Gara." Arga lalu pergi dari kamar.


Aku segera mengganti bajuku dengan gamis lebar yang baru Arga beli minggu lalu. Kerudung lebar sampai menutupi bawah dada juga aku pakai, senada dengan gamis yang aku kenakan kini. Tanpa riasan sama sekali aku keluar dari kamar, bertepatan dengan Gara yang baru saja turun dari lantai atas bersama dengan Sari.


"Sudah siap?" tanya Arga. Aku mengangguk dan mengikuti langkah kakinya keluar dari rumah menuju mobil.


Hampir dua jam kami keluar masuk ke dalam toko baju dan sepatu, kami sudah membawa bagian pakaian yang kami beli. Gara membawa dua tas karton sedangkan Arga membawa empat, dua miliknya dua milikku.


"Berat gak?" tanyaku padanya seraya mengulurkan tangan untuk membawa milikku.


"Gak lah, masa gini aja berat.," ucapnya mengangkat dengan enteng tas karton di tangannya.


"Kamu ini, Pa, katanya mau beli buat sendiri, kok Mama juga dibelikan? Itu di rumah yang baru saja masih numpuk belum aku pakai," ucapku kesal. Arga selalu saja begitu, terus beli dan beli.


"Gak apa-apa, mama beli juga sekalian, kan biar adil dong. Masa Papa dan Abang beli baju Mama enggak. Iya gak, Bang?" tanyanya meminta dukungan dari Gara.


"Iya, lah. Kan kita harus sama, Ma. Masa Mama cuma nganterin kita aja!" ucap anak itu setengah berseru.


"Mau kemana lagi, nih?" tanya Arga.


"Tanya Abang aja, kali mau ke tempat permainan."

__ADS_1


"Gak ah, Abang kan udah habis jatah main di mall-nya," ucap anak itu. Aku dan Arga tersenyum. Kami memang membatasi Gara main di dalam mall dua kali dalam satu bulan.


"Jadi, kemana nih setelah ini? Apa Mama mau ke tempat lain? Beli apa gitu?" tanya suamiku gigih, aku berpikir sebentar, saat kebetulan kami melewati toko pakaian bayi.


"Mau ke sana, Ma?" tanya Arga menunjuk toko yang aku lihat barusan.


"Nanti kalau ke sana, malah pengen beli lagi."


"Gak apa-apa kali, kalau beli satu mah. Gak pamali, kan?" tanya Arga. Aku menggelengkan kepala, tidak tahu apakah diperbolehkan membeli barang kebutuhan bayi sekarang atau tidak.


"Iya, Ma. Yuk beli, Ma! Abang mau lihat ke sana!" Gara kini menarik tanganku, terpaksa aku mengikuti langkah kaki Gara masuk ke dalam sana.


Deretan rak dengan pakaian khas bayi, terlihat imut di sana, apalagi pakaian yang sangat kecil sekali dengan gambar teddy bear warna warni sangat lucu, bahannya juga sangat halus di tanganku.


"Mama! Beli ini!" teriak Gara sambil berlari mendekat ke arahku. Dia membawa sepatu bayi, aku tidak tahu untuk usia berapa, cuma itu sangat kecil sekali.


"Papa juga nemu ini, beli boleh gak ya?" tanya Arga sambil memperlihatkan mangkok makan bayi sepaket dengan cangkir dan juga sendoknya.


"Astaghfirullah, Papa. Itu mah bukan buat bayi kecil, tapi buat bayi usia enam bulan," ucapku padanya. Arga tersenyum meringis.


"Lucu, Ma. Beli ya, ya." Wajahnya lucu persis seperti Gara kini yang menatap dengan binar di matanya, memohon untuk membawa barang itu pulang ke rumah.


"Ya, itu terserah Papa sih. Papa yang pegang uang," ucapku. Arga dan Gara tersenyum senang dan saling tos dengan semangat. Mereka kali ini berlari dengan cepat menuju ke arah kasir. Aku melanjutkan melihat-lihat yang ada di sana, pakaian anak bayi lucu sekali, sangat kecil, aku bisa membayangkan semungil apa nanti anakku saat dia lahir nanti.


Selesai dari toko tersebut, kami keluar dari mall, seperti hari kemarin aku dan Gara menunggu di luar, sedangkan Arga mengambil mobilnya. Ku lihat di depan sana, tempat yang sama, tapi orang yang waktu itu aku lihat di sana tidak ada lagi. Kata Arga dia bekerja jadi tukang parkir, tapi hari ini aku tidak melihatnya.


Aku masih menunggu Arga, sedikit lama dia di dalam sana. Apakah sulit untuk membawa mobil keluar dari parkiran basement?


"Aww!" Gara berteriak, aku yang sedari tadi menatap ke arah lain dengan refleks mengalihkan tatapanku pada Gara. Seorang laki-laki terlihat sedang mengambil sepatu bayi dari lantai. Sepatu yang Gara tolak untuk dia masukkan ke dalam tas belanjaan miliknya.


"Maaf, maaf. Om tidak sengaja," ucap suara itu.


Aku kenal. Ya, aku kenal!

__ADS_1


__ADS_2