Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
332. Berita Duka


__ADS_3

Hari ini aku benar-benar beristirahat, urusan rumah dan anak-anak Mbak Sari yang membantu, Mbak Sus setelah membuat sarapan pergi ke rumah sakit. Aku harap Mbak Sus bisa membujuk mama agar mau makan dan bersama dengan dia.


Tubuhku rasanya lemas sedari kemarin malam, kurang makan dan juga beristirahat beruntung Gara dan Azka tidak rewel hari ini.


...***...


Tiga hari aku di rumah, benar-benar ku gunakan untuk beristirahat dengan baik. Terpikirkan olehku untuk mengunjungi mama di rumah sakit, tapi tentu Arga akan marah jika aku tidak menurut kepadanya. Hanya bisa bertanya kepada Mbak Nira tentang keadaan mama di sana.


Bersyukur mama mau dengan Mbak Sus. Tentu sangat terbantu sekali dengan beberapa orang yang ada di sekitarku. Arga juga sangat perhatian sekali, apa yang aku inginkan dia belikan agar aku mau makan, tapi ya ... begitulah, tidak banyak, hanya baru ada di mulut atau satu dua suapan kemudian keluar lagi.


"Bu! Ibu!" Suara teriakan Mbak Sari terdengar di luar sambil menggedor pintu kamar. Aku yang sedang tertidur sampai terbangun karena suara panggilannya itu.


"Bu!" teriaknya lagi. Dengan malas aku bangun dari rebahanku, sedikit pusing kepala ini dan aku juga merasa demam sedari pagi.


"Ada apa, Mbak?" tanyaku pada Mbak Sari. Mataku berkunang-kunang sehingga harus menyipitkan mata untuk bisa melihatnya dengan jelas. Mbak Sari berdiri dengan menggendong Azka di depan, sedang tertidur pulas.


"Anu, ada telepon apa Ibu gak angkat ya?" tanya Sari, wajahnya terlihat sedang bingung dan tidak seperti biasanya.


"Saya dari tadi tidur, gak pegang hp. Ada apa ya?" tanyaku, berpegangan dengan erat pada handle pintu karena badan ini mulai memberat.


"Itu ... Nyonya, Nenek Gara sudah gak ada," ucap gadis muda ini.


Aku terkejut dan membulatkan mata. "Yang benar kamu?" tanyaku.


Mbak Sari mengangguk. "Benar, Bu. Saya dapat telepon dari Mbak Sus barusan, Bapak juga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," ucap Mbak Sari.


Dengan susah payah aku membalikkan badan, meraih hp yang ada di atas nakas. Beberapa panggilan dari Mbak Sus dari lima belas menit yang lalu.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim." Aku memegang benda pipih tersebut, membuka pesan yang ada di sana, dua pesan dari Mbak Sus yang mengabarkan jika mama telah berpulang ke pangkuan-Nya. Tanganku seketika bergetar, rasanya kaki ini lemas dan juga menjadi dingin sehingga terduduk di tepi kasur.


"Bu!" teriak Mbak Sari yang kini masuk setengah berlari ke dalam kamar.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucapku dengan lirih, sedikit bergetar bibir ini mengucapkan kalimat tersebut. Pantas saja sedari pagi ingin sekali aku pergi ke rumah sakit.


"Bu!"


Mbak Sari memegangi tubuhku, lemas rasanya. Air mata tidak berhenti turun meski aku mencoba untuk menahannya. "Mama. Mama ...."


"Istighfar, Bu. Nyebut. Istighfar," ucap wanita muda ini terdengar khawatir.


"Astaghfirullahaladzim. Mama, Mbak. Mama ...."


"Semua sudah menjadi takdir, Bu. Biarkan Nyonya kini tenang. Istighfar, doakan yang terbaik," ucap Mbak Sari dengan terisak pelan. Aku tidak kuasa menahan diri lagi, tubuh yang lemah dan kabar duka yang aku dengar, telah membuat ku tidak berdaya. Terakhir hanya mendengar suara Mbak Sari yang meneriakkan namaku.


...***...


Mbak Sus terlihat ada di sampingku, sedang mengusap sudut matanya dengan tisu.


"Mbak Sus, Mama di mana?" tanyaku lirih, seketika wanita paruh baya itu menoleh dan menatapku sedih.


"Nyonya sedang ada di ruang jenazah," ucap wanita ini dengan lirih, isak tangis terlihat dia tahan sebisa mungkin.


Aku menangis, tak kuasa menahan sesak di dalam dada ini. Teringat dengan pembicaraanku dengan Arga kemarin malam jika mama mencariku dan Arga hanya bisa mengatakan aku harus banyak istirahat di rumah.


"Astaghfirullah, Mama ...." Rasanya bersalah sekali, di saat terakhirnya aku tidak bisa menemani mama. Terlalu egois aku dengan diri sendiri sehingga abai dan tidak mengurus mama dengan baik.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Jangan nangisin yang sudah gak ada. Jangan beratkan beliau, sudah tenang di sisi-Nya," ucap Mbak Sus. Aku hanya bisa menutup wajahku dengan kedua tangan, mengabaikan rasa pegal dan sakit tangan yang baru aku sadari telah terdapat infus.


...***...


Jenazah mama telah dibawa pulang ke rumah, kini banyak tetangga dan juga kerabat serta keluarga dekat yang datang untuk melayat. Sedari saat kami pulang dari rumah sakit Arga tidak banyak bicara, hanya memelukku tanpa kata dan terlihat menahan tangisnya.


Pemakaman akan dilakukan sore ini, tidak ingin menahan yang seharusnya dilakukan. Lebih cepat jenazah mama di kebumikan akan lebih baik.


Papa beserta saudara-saudaranya juga hadir di sini, akan ikut untuk mengantarkan kepergian almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.


"Kamu di rumah saja, jangan ikut," pinta Arga, aku menggelengkan kepala. Tidak ingin melewatkan kesempatan terakhir untuk ikut mengantarkan mama yang telah tiada ke tempat haribaannya.


"Mau ikut," ucapku sambil menangis, tidak bisa berhenti semenjak keluar dari rumah sakit tadi. Dokter pun sebenarnya melarangku untuk pulang, tapi aku memaksa ingin ikut pulang saat Arga bilang akan mengurus jenazah mama di rumah.


"Tapi gak baik kamu ikut ke makam. Di rumah, ya?" pintanya lagi. Aku keras kepala dan kembali menggelengkan kepala untuk itu.


"Aku gak akan ikut ke dalam, nunggu di mobil saja," ucapku. Arga menatap pada papa, aku pun sama, memohon dari tatapanku dan akhirnya papa mengangguk lemah.


"Oke, tapi janji jangan keluar dari mobil, ya?" pintanya lagi.


Mobil berderet bergerak ke arah pemakaman umum, jarak dari rumah sekitar satu jam. Gara dan Azka sengaja diungsikan ke rumah ibu bersama dengan Mbak Sari. Katanya, tidak baik untuk anak kecil dan ibu hamil masuk ke dalam area pemakaman, tapi aku ingin ikut. Merasa bersalah karena tidak bisa bertemu dengan mama di saat terakhir hidupnya.


Sampai di pemakaman, Arga turun dari mobil dan mengingatkanku untuk tidak menyusul masuk, dia bilang akan kembali setelah pemakaman selesai. Beberapa orang dengan pakaian hitam masuk ke dalam sana dengan membawa keranda yang sudah dikalungi bunga, Arga salah satu dari pembawa keranda tersebut dengan papa.


Mbak Sus yang tinggal denganku di mobil mengusap punggung dan tak henti menyuruhku untuk terus beristigfar, juga berjaga-jaga, menuruti kata Arga, bilamana terjadi apa-apa denganku seperti tadi siang saat mendengar kabar jika mama telah tiada.


"Sudah, Bu. Nyonya sudah lebih baik ada di sisi-Nya. Tidak merasakan sakit lagi," ucap Mbak Sus. Aku mengangguk meski rasanya masih berat untuk kehilangan mama.

__ADS_1


__ADS_2