
“Su-sudah selesai ngobrolnya?” tanya Dewi padaku dengan suara yang sangat pelan sekali. Dia masih menundukkan kepalanya seperti enggan menatapku, pipinya masih terlihat merah dia juga sedikit tidak tenang duduknya.
"Sudah selesai barusan, semua juga kayaknya sudah mau tidur." Aku duduk di samping Dewi, tapi masih memberikan jarak darinya. Sepertinya dia masih tidak nyaman dengan keadaan kami sekarang ini.
"Mbak aku …."
"Man …."
Aku ingin berbicara tetapi ternyata Dewi juga hendak berbicara sehingga aku terdiam. "Silakan Mbak Dewi duluan yang bicara," ucapku menyuruhnya.
"Kamu saja tidak apa-apa."
Dia mempersilakan. Akan tetapi, aku menjadi salah tingkah sendiri. Tiba-tiba saja bingung dengan apa yang akan aku katakan.
"Kenapa tidak jadi bicara?" tanya Dewi dengan pelan.
"Bingung mau bicara apa."
"Kiranya tadi mau bilang apa?" tanya Dewi lagi.
Aku terdiam mencoba untuk mengingat. Gara-gara tadi kami berbicara saling bertabrakan sampai-sampai aku lupa apa yang mau aku sampaikan kepadanya.
"Aku lupa," jawabku. Terdengar kekehan dari mulutnya.
"Mbak Dewi saja, tadi apa yang mau disampaikan," ucapku kali ini mempersilakan dia.
"Em … anu …." Dia terdiam, tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku juga bingung," ungkapnya kemudian tertawa kecil. Aku pun sama ikut tertawa seperti dia. Merasa aneh dengan keadaan kami sekarang ini, padahal biasanya kami bicara tidak pernah canggung seperti ini.
"Ya sudah kalau gitu tidur aja, yuk."
"Ha?" Dia melongo mendengar ucapanku.
Aku jadi merasa aneh dengan kalimatku tadi. Apalagi melihat wajahnya yang seperti itu dan juga tubuhnya yang kali ini beringsut kembali menjauh dariku.
"Maksudnya kita tidur. Mbak Dewi di sana, aku di sana. Tidur saja," ucapku dengan nada yang bingung. Ah, entahlah. Kenapa aku jadi linglung seperti ini? Apa karena pernikahan dadakan kami?
__ADS_1
Kami memutuskan untuk tidur di tepi kasur, Dewi berada di sisi kanan sedangkan aku berada di sisi kiri, menyisakan tempat yang lumayan luas di tengah-tengah. Kami tidur mengenakan pakaian lengkap kami masing-masing.
Sesekali aku menoleh ke arahnya, berpikir apakah dia tidak gerah memakai pakaian lengkap dan juga hijab seperti itu. Dia juga sepertinya tidak bergerak sama sekali, apakah dia sudah tidur?
"Mbak, kamu sudah tidur?" tanya ku dengan pelan.
"Nggak bisa tidur." Terdengar jawabannya pelan di belakangku.
"Aku juga sama nggak bisa tidur. Apa kamu nggak gerah pakai baju kayak gitu?" Aku bertanya lagi.
"Enggak. Nggak panas kok," jawabnya, tapi aku tahu dia berbohong. Aku saja yang hanya memakai kemeja putih sangat kepanasan di sini.
"Kalau kamu mau ganti baju ganti saja nggak papa, aku nggak akan lihat kok," ucapku padanya.
"Eh, nggak usah. Nggak apa-apa. Aku pakai ini aja."
Percakapan terakhir kami karena setelah itu tidak ada lagi yang bisa kami bicarakan. Dadaku berdetak dengan cepat, rasanya aneh, padahal dulu sewaktu pertama kali menikah dengan Ayu tidak seperti ini. Malam pertama kami lakukan dengan baik, meski malu-malu tapi tidak dengan berdiam diri seperti ini.
Aku bangun dari tidurku dan duduk di kepala ranjang, memutuskan untuk memainkan hp-ku saja. Rasanya bosan, juga tidak karuan. Hanya saja bermain HP juga tidak bisa mengalihkan pikiranku.
"Mbak, sudah tidur belum? Kita ngobrol aja yuk," ajak ku kepadanya.
"Mau tidur tapi nggak bisa," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Sama aku juga nggak bisa," jawabku.
Kami kembali terdiam beberapa menit lamanya.
"Aku kok rasanya aneh ya?"
"Aneh kenapa?" tanya Dewi.
"Nggak nyangka aja kalau ternyata kita bisa jadi suami istri. Padahal dulu kalau diingat-ingat kita malah seringnya musuhan waktu kecil, teman tapi musuh. Kadang dekat tapi seringkali marahan." Aku tertawa ketika mengingat masa-masa kecil kami dulu, sebelum kami beranjak remaja dan memutuskan untuk jalan di jalannya masing-masing.
Dewi juga ikut tertawa terkekeh dengan khasnya. "Iya aku ingat. Ini di sini," tunjuknya menyingkap kerudung pada daerah di ujung alisnya bagian kanan. "Waktu itu kamu lempar batu kena sama aku. Berbekas sampai sekarang," terangnya.
"Hah? Kapan?" tanyaku bingung, aku tidak ingat jika pernah melukainya.
__ADS_1
"Waktu itu, sehabis pulang dari sungai. Kamu berenang sama Ardian, aku bilang akan laporin kalian sama ibu kalian. Terus kamu tiba-tiba ambil batu dan lempar," ucapnya.
Aku menatap Dewi. Memang aku ingat dengan kejadian waktu itu, dia tiba-tiba saja memegangi keningnya dan berlari pulang, tapi aku tidak tahu jika memang mengenai dia.
"Jadi dulu aku lukai kamu?" Dia menganggukan kepalanya. Pantas saja jika melihat alisnya seperti pendek sebelah.
"Aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau ternyata kamu kena batu, ya?" Sangat menyesal, aku berkata minta maaf kepada Dewi atas apa yang telah aku lakukan di masa lalu. Sangat nakal sekali sehingga sering membuat dia kesal.
"Tidak apa-apa, itu juga sudah lama kok. Kita anak kecil taunya cuma main aja," ucapnya sambil tertawa.
Aku benar-benar merasa menyesal.
"Apa mungkin kita jodoh dari dulu ya, dulu sering marahan sering musuhan sekarang malah kita …." Dia terdiam dan mengalihkan wajahnya ke arah lain sehingga aku tidak bisa melihatnya.
"Memangnya kita kenapa sekarang?" tanya ku mencoba menggodanya. Ingin tahu seperti apa reaksi dia.
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu rasain sama aku. Apa kamu juga suka dengan aku, Mbak?" Penasaran aku sampai bertanya seperti itu kepada dia.
Dia diam lagi tidak menjawab, tapi kedua tangannya saling bergerak di atas pangkuan. Mungkin jika aku bisa mengartikan dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku.
"Aku juga ingin tanya, kita sekarang jadi suami istri. Saat tadi aku bicara sama bapak, kenapa kamu tidak menolakku? Padahal mbak tahu hidupku ini seperti apa. Maaf kalau aku egois karena membuat pertunangan Mbak dan laki-laki itu menjadi batal." Tiba-tiba saja aku baru ingat dan baru menyesal. Mungkinkah jika Dewi dengan laki-laki itu hidupnya akan lebih bahagia daripada denganku.
"Karena aku percaya sama kamu," ucapnya. Aku yang sedari tadi meliriknya tersenyum senang.
"Jadi apa cintaku ini terbalas?" Lagi-lagi aku bertanya, seakan tidak puas dalam mencari jawabannya.
"Jawab Mbak, aku penasaran."
"Kenapa harus dijawab kalau kamu juga sudah memilikinya?" ucap Dewi lagi. Apakah ini jawaban dari pertanyaanku tadi?
"Aku nggak tahu jawabannya kalau kamu nggak bilang." Aku terus mengganggunya, ingin tahu jawaban yang sebenarnya dan ingin mendengar dari mulutnya sendiri.
"Hilman, kenapa kamu nyebelin? Kalau Bapak sudah memutuskan menikahkan anaknya dan anaknya nggak menolak, tentu saja aku juga punya hati sama kamu!" Dia tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu membuang kembali wajahnya ke arah lain, sedangkan aku lagi-lagi tertawa melihat tingkahnya yang seperti itu. Dewi yang selama ini selalu dewasa dan juga bijaksana kali ini terlihat imut dan menggemaskan.
Aku menggeserkan tubuhku mendekat ke arahnya, mengambil tangan dia dari wajahnya. Ku genggam dan mengelus dengan ibu jari. Dia menunduk malu, menghindari tatapanku. "Terima kasih sudah menerima aku apa adanya. Terima kasih sudah bersedia untuk menjadi Ibu dari Vita. Aku sudah berjanji sama bapak, akan bahagiakan kamu sebisaku."
Perlahan aku mendekat seraya menarik sedikit tangannya, keningnya yang masih tertutup dengan kerudung aku kecup dengan lembut. Tangan yang aku pegang itu bergetar, kembali terasa dingin di sana.
__ADS_1
"Siap malam ini atau tidak?" Tanyaku yang membuatnya lagi-lagi memerah wajahnya.