
Menjelang siang aku pergi ke rumah sakit. Lebih baik aku bertemu dengan dokter langsung dan mendengar serta meminta penjelasan tentang operasi yang akan di jalani oleh Ibu.
Motor dengan perlahan mulai memasuki area rumah sakit tempat Ibu biasa berobat. Segera aku pergi ke ruangan dokter yang sering aku temui setiap Ibu di rawat disini. Dokter Wira kemudian mengantarkan aku pergi ke ruangan doker yang lainnya, Dokter Hendra namanya. Pria yang kuperkirakan berusia empat puluhan tahun itu terlihat ramah dengan senyum di bibirnya saat aku masuk ke dalam ruangan itu. Dia mempersilahkan aku dan juga Dokter Wira untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
Kami terlibat dalam pembahasan yang cukup panjang. Dokter Hendra memperlihatkan sebuah gambar rontgen yang ada di layar putih yang menyala di dekatnya. Dia menjelaskan apa saja yang ada disana. Meski aku tidak mengerti, tapi aku kira itu memang tidak baik dan harus segera diangkat dari kepala Ibu.
Aku juga bertanya mengenai waktu dan juga apa saja yang harus kami persiapkan untuk operasi besar itu. Dokter Hendra menjelaskan apa saja yang harus Ibu persiapkan, dari mulai mental dan juga menjaga kesehatan praoperasi dilakukan.
"Apa ada resiko lain dari operasi ini, Dokter?" Tiba-tiba saja aku merasa takut dengan apa yang akan terjadi di dalam ruangan operasi itu. Bayangan-bayangan tidak enak dan membuat ku sangat takut terpatri di dalam kepalaku. Seperti dalam adegan yang pernah aku lihat di TV saat seorang pasien berada di dalam ruang operasi. Menakutan sekali.
Dokter Hendra menatapku dengan tatapan lembutnya. "Resiko memang selalu ada, tapi kami akan memanggil dokter yang terbaik yang kami punya. Kami juga akan melakukan yang terbaik untuk Ibu Mbak Ayu. Berdoa saja supaya semuanya berjalan dengan lancar, dan Ibu Mbak Ayu segera sembuh seperti sedia kala," ucap dokter itu mencoba menenangkanku.
"Dokter Wira juga akan ikut serta dalam operasi ini untuk menjaga kestabilan jantung terhadap Ibu Mbak."
"Iya, Mbak. Mbak Ayu tenang saja dan percayakan saja Ibu Mbak kepada tim kami. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk beliau," ucap Dokter Wira yang setia menemaniku sedari tadi.
Aku tersenyum kepadanya dan mengucapkan kata terima kasih kepada keduanya, terutama kepada Dokter Wira yang selama ini menangani pengobatan Ibu.
Kami telah selesai dengan pembahasan tentang operasi. Beberapa informasi telah aku dapatkan dan aku juga mendapatkan keterangan tentang biaya operasi yang harus dikeluarkan nanti. Aku menghela napas dengan lega, uang yang ada di tanganku lebih dari cukup untuk melakukan operasi itu dan juga untuk biaya yang lainnya.
Kami menuju ke lobi rumah sakit. Dokter Wira mengantarku berjalan hingga sampai lah kami di dekat tempat parkir.
"Kalau Mbak Ayu butuh bantuan, Mbak Ayu jangan sungkan hubungi saya. Saya juga akan ikut berjuang di dalam tim untuk kesembuhan Ibu Mbak Ayu nanti," ucap Dokter Wira sebelum aku menuju ke arah motorku berada.
"Terima kasih, Dokter. Dokter sudah banyak membantu Ibu selama ini. Aku gak tau kalau gak ada Dokter mungkin Ibu tidak akan sekuat sekarang ini," ucapku berterimakasih kepadanya.
"Tidak masalah, itu memang sudah menjadi tugas saya sebagai dokter. Saya senang membantu pasien apalagi Ibu Mbak Ayu sangat penurut sekali, tidak pernah protes untuk mengkonsumsi obat yang kami berikan," ucapnya dengan senyum di bibirnya. Sorot yang teduh di balik kacamata itu terlihat sedikit membuat aku tenang dari rasa khawatir yang aku rasakan sedari tadi. Senyum lebar dan juga ramah memperlihatkan cekungan yang ada di pipinya membuat dia terlihat manis.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih baya kepada Dokter dan juga doker yang lainnya. Saya mohon uuntuk bantuannya sekali lagi," ucapku sambil menunduk hormat ke arahnya.
"Saya juga pamit untuk kembali ke rumah. Nanti saya akan sampai kan semua yang ada di dalam sini kepada Ibu," Tunjukku pada map yang aku bawa di tangan. Disini ada beberapa lembar kertas laporan yang Dokter Hendra berikan tadi, untuk Ibu patuhi dan jalani, meski tanggal operasi belum diputuskan karena masih menunggu persetujuan dokter lainnya.
__ADS_1
"Semoga saja semua berjalan dengan lancar dan juga sukses." Sekali lagi Dokter wira berkata sambil tersenyum padaku.
"Kalau begitu saya pulang ya, Pak." Pamitku lagi untuk terakhir kali.
"Ayu." Panggilan Dokter Wira membuat aku batal melangkahkan kaki.
"Iya?"
"Kamu ... baik-baik saja, kan?" tanya dokter itu dengan menatapku. Tatapan matanya entah mengartikan apa, tapi tidak terlihat seperti biasanya. Jujur aku bingung dengan pertanyaannya.
"Saya baik kok, Dokter. Memangnya ada apa ya? Apa saya terlihat sedang sakit?" tanyaku masih bingung.
Dokter itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, tidak. Tidak apa-apa. Saya hanya ... mungkin hanya perasaan saya saja," ucapnya dengan canggung. Dia tersenyum dengan wajah yang sedikit merah. Tangannya menggaruk pipinya sekilas dengan ujung jari telunjuknya.
"Oh. Apa ada yang mau Dokter tanyakan lagi sama saya sebelum saya pergi?" tanyaku sebelum benar-benar pergi dari sana. Dokter itu menggelengkan kepalanya lagi.
"Tidak ada. Silahkan kalau Mbak Ayu mau pulang. Hati-hati di jalan," ucapnya lagi.
Aku tersenyum seraya menganggukkan kepala. Kali ini benar-benar pamit untuk terakhir kalinya, kemudian berjalan ke arah dimana ada motorku yang kepanasan semenjak sekitar satu jam yang lalu. Dokter itu masih saja ada disana dan tersenyum ke arahku saat aku mulai menggunakan helm. Aku pun balas tersenyum seraya menganggukkan kepala ini padanya.
***
Ibu tersenyum senang saat aku memberikan map itu padanya, dengan kacamata bulat yang bertengger di atas hidung, Ibu mulai membaca apa yang ada disana. Satu persatu lembaran sudah Ibu baca.
"Jadi kapan operasi Ibu akan dilakukan?" tanya Ibu kepadaku.
"Masih harus dibicarakan lagi, Bu. Mereka sedang mencari jadwal yang tepat untuk melakukan operasi ini. Dokter Wira juga akan ikut serta di dalam operasi Ibu ini. Ibu bisa bertahan sebentar lagi, kan?" tanyaku dengan mengelus lengan Ibu. Ibu hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Iya, tentu saja. Ibu akan bertahan. Lagi pula ini kan masih stadium awal juga. Dokter bilang tidak terlalu parah juga, kan?" tanya Ibu balik padaku.
"Tetap saja itu kan sakit, iya kan? Ibu tolong sehat selalu, ya. Jaga kesehatan Ibu sampai kapan pun. Jangan sampai Ibu sakit. Ayu akan sering-sering jenguk Ibu," ucapku dengan mendekat dan memeluk Ibu.
__ADS_1
"Ibu kenapa juga gak pernah bilang sama Ayu kalau kepala Ibu sering sakit?" tanyaku dengan kesal, padahal aku pernah menanyakan hal ini juga sebelumnya.
"Ibu kira ini hanya sakit kepala biasa. Mana tau kalau ternyata ada hal lain yang ada disini." Tunjuk Ibu pada kepalanya.
"Pokoknya setelah ini Ibu harus sehat. Kalau Ibu ada keluhan apa-apa Ibu harus bilang sama Ayu atau Sinta, ya." Pintaku pada Ibu. Ibu menganggukkan kepalanya.
Ibu mengalihkan tatapannya ke arah jam dinding. "Sudah hampir sore, Yu. Kamu pulang gih. Kasihan Hilman sebentar lagi kan pulang bekerja," ucap Ibu mengingatkan. Aku hanya mengangguk dengan pelan. Rasanya malas sekali untuk pulang ke rumah, tapi jika tidak pulang Ibu pasti akan bertanya kenapa aku lebih lama ada disini.
"Iya, Bu."
Ibu mengantarku sampai teras rumah. Aku memeluknya sebelum benar-benar pergi dari sana. Sinta baru saja datang setelah aku tadi mengirimkan pesan.
"Pulang sekarang, Mbak?" tanya Sinta padaku.
"Iya, Sin. Mbak titip Ibu ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi Mbak." pintaku padanya seraya memakai helm di kepala.
"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan!" serunya. Aku mengangguk lalu mulai menyalakan motor dan menjalankannya.
Satu jam perjalanan, aku telah sampai di rumah. Kulihat mobil Mas Hilman sudah ada di garasi. Tidak biasanya jika dia sudah pulang di jam tiga seperti ini. Apa dia sakit?
Aku menggelengkan kepalaku. Ada apa dengan diriku ini? Aku sudah berpikir untuk selesai dengannya setelah operasi Ibu nanti. Aku harus mulai belajar melupakan dia, bukan?
"Assalamualaikum." Aku masuk ke dalam rumah, terlihat Mas Hilman sedang duduk di sofa dengan wajah yang kusam. Kepalanya tertekuk menunduk ke bawah. Mendengar salam dariku dia mengangkat kepalanya dan menjawab salam.
"Waalaikum salam. Kamu sudah pulang, Yu?" tanya Mas Hilman kepadaku. "Bagaimana kabar Ibu?" tanyanya lagi.
"Ibu baik," jawabku singkat lalu meninggalkan dia untuk pergi ke arah kamar.
"Yu." Panggil Mas Hilman setelah masuk ke dalam kamar. Aku kira dia tidak mengikutiku.
"Aku mau bicara sama kamu."
__ADS_1
"Bicara apa?" tanyaku padanya. Aku menyimpan tas yang aku pakai ke gantungan yang ada di balik pintu.
"Aku dipecat."