
"Alhamdulillah. Lalu bagaimana Mbak Ayu? Mengenai tawaran kami tempo hari? Apakah Mbak Ayu menerima ta'aruf yang kami ajukan?" tanya pria itu secara langsung, tak ada basa-basi apapun lagi.
"Apa Mbak Ayu sudah memikirkan dan melaksanakan solat malam untuk meminta petunjuk dari Gusti Allah?" tanyanya lagi. Semua orang yang ada di sana menatap ke arahku. Aku jadi salah tingkah di buatnya.
Beberapa kali aku melakukan solat malam, tapi tidak mendapatkan petunjuk apa-apa, bahkan mimpi pun tidak.
"Kalau mengenai hal itu, saya sudah lakukan," ucapku. Ummi dan Kyai tersenyum ke arahku, juga Ustadz Zain yang terlihat lebih tampan saat menyunggingkan senyum.
"Tapi, saya mohon maaf. Kyai, Ummi, Mbak, Mas, dan Ustadz. Saya mohon maaf sekali, saya tidak mendapatkan petunjuk apa pun dengan ta'aruf ini. lagi pula, saya masih ingin sendiri dulu setelah apa yang menimpa diri saya sendiri. Semua masalah yang terjadi dalam hidup saya, saya ingin menenangkan hati saya," ucapku pada mereka. Senyum yang tadi tersungging tiba-tiba sirna dari wajah semua yang ada disana. Ku rasakan suasana yang tadi hangat kini menjadi dingin dan canggung.
"Itu pasti karena Mbak Ayu belum mendapatkan getaran. Mungkin Mbak Ayu harus mencoba lagi solat malam, untuk diberikan petunjuk, atau karena Mbak Ayu sekarang ini tidak lagi datang ke majelis taklim." Anak sulung Kyai bersikukuh.
Aku sedikit terkejut dengan apa yang dia katakan. Ini sih seperti sudah memaksakan kehendak dari pada bertanya soal tawaran itu.
"Mbak Ayu mungkin karena belum mengenal adik saya, Zain. Coba kalau Mbak Ayu menikah dengan Zain, mungkin Mbak Ayu akan ada rasa dengan dia, dan gak akan ragu lagi dengan kesungguhan Zain," kukuhnya. Aku dan Ibu saling berpandangan, sementara keempat orang yang lain hanya diam tanpa suara menatapku.
"Maaf, Mas. Bukannya ini sudah pemaksaan namanya?" tanyaku pada pria itu. Dia terkesiap mendengar ucapanku. Menundukkan kepalanya menatap ke arah lantai, sementara Kyai menatapku dengan pandangan yang ... entah lah.
"Maaf, Mbak Ayu kalau perkataan anak saya ada yang salah. Maksud Hasan bukan begitu. Hasan hanya ingin membantu Zain saja." Ummi berkata membela anaknya. Satu istrinya yang memakai pakaian hitam mengelus lengan pria yang di sebut Ummi dengan nama Hasan.
"Iya, Mbak Ayu. Maafkan perkataan suami saya. Kami semua datang kesini bukan untuk memaksa Mbak Ayu. Hanya saja kami ingin membantu adik bungsu kami untuk berta'aruf dengan wanita yang dia sukai," ucap wanita bercadar itu terdengar lembut suaranya. Akan tetapi, aku memang sedang tidak ingin dulu dekat dengan siapa pun saat ini.
"Tapi, tadi dari ucapan Mas Hasan itu adalah sebuah pemaksaan, Mas Hasan belum mendengar penjelasan saya yang lain tapi sudah memaksa saya hingga harus menikah dengan Ustadz Zain," ucapku dengan tegas.
__ADS_1
"Maafkan saya," ucapnya dengan wajah bersemburat merah. "Bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya berusaha membantu Zain," ucapnya,
Suasana semakin terasa tak enak, rasanya aku ingin sekali pergi dari sini, tapi tak enak juga karena mereka ini adalah tamu agung.
"Maaf, Pak Yai, Bu Nyai, Mas, Mbak, dan Ustadz. Ayu memang sudah selesai dengan masa iddahnya, tapi rasanya juga tidak enak kalau langsung ta'aruf dengan seorang pria. Sebelum ini saja Ayu sudah menjadi gunjingan masyarakat dengan predikat yang disandangnya sekarang. Jadi apa yang akan Ayu dapatkan di masa mendatang jika menikah secepat ini? Saya kira Ayu juga berhak mendapatkan ketenangan bathin terlebih dahulu, untuk mencari ketenangan. Lagi pula perasaan tidak bisa dipaksakan. Mas, Ustadz," ucap Ibu pada kedua pria muda itu.
"Saya, benar inginkan Mbak Ayu menjadi istri saya, Bu. Apa tidak ada kesempatan untuk kami bisa bersama? Untuk saya berjuang?" tanya pria yang sedari tadi hanya diam saja. Tatapan matanya menatapku, tapi sedetik kemudian dia menundukkan pandangannya ke lantai.
"Ustadz. Ibu sudah bicara dengan Ayu mengenai hal ini. Kemungkinan keluarga yai semua datang kemari juga sudah kami bicarakan sebelum ini, tapi ya mau bagaimana lagi kalau Ayu belum mau menjalani berumah tangga. Mohon mengerti dengan keadaan Ayu yang mungkin masih trauma akan kegagalan pernikahannya terdahulu—,"
"Saya janji tidak akan membuat Mbak Ayu sedih seperti kejadian sebelum ini. Saya akan berusaha untuk menjalani peran suami dengan baik. Tidak akan membuat Mbak Ayu sedih apalagi menangis," ucap pria itu dengan nada bersungguh-sungguh, memotong ucapan Ibu.
Sedikit kesal juga, apa mereka tidak mengerti tentang arti penolakan?
"Saya tau. Saya gak masalah dengan hal itu. Kita bisa mengangkat anak dari saudara yang lain. Bahkan tanpa mengambil anak dari yang lain pun di pesantren banyak anak kecil untuk kita angkat menjadi anak asuh kita."
Duh, ya ampun, baru kali ini aku mendapati pria gigih lainnya selain Dokter Wira.
"Apa itu tidak cukup membuktikan jika diri saya tidak layak untuk Mbak Ayu?" tanya pria itu.
"Tidak, bukan seperti itu. Tapi memang saya sedang tidak ingin berhubungan dengan siapa pun sekarang ini. Saya hanya ingin menenangkan diri dulu, itu saja. Maafkan saya," ucapku pada semua orang yang ada di sana.
Kyai menatapku dengan tajam, raut wajahnya masam, sedangkan Ummi sedang menatap anak bungsunya dengan tatapan iba.
__ADS_1
"Apa tidak bisa Mbak Ayu—,"
"Sudah lah, San." Kyai memotong ucapan anak tertuanya. "Kalau Mbak Ayu sudah tidak mau bagaimana lagi? Bukan jodoh Zain," ucap pria setengah tua itu. Semua mata memandang tetua yang ada di depan kami ini dengan raut yang tidak percaya. Bahkan Ummi melotot pada suaminya, seperti tak terima dengan ucapan pria itu.
"Dalam Islam, pernikahan memang baik. Seseorang yang menikahi janda memang baik, tapi tidak baik juga jika kita memaksa seseorang. Jatuhnya akan mempunyai hukum makruh," ucap Kyai dengan tegas.
Ucapan Kyai barusan tidak salah, kurasa. Akan tetapi rasa di dalam hati ini sedikit mencubit hatiku dari perkataannya itu.
Kyai dan keluarganya pamit dengan wajah sendu. Terlihat wajah anak sulung Kyai yang masam, Ummi yang kecewa, dan Ustadz Zain yang tak ingin menatapku sama sekali. Helaan napasnya terdengar sedikit kasar di telingaku.
"Maaf, Ustadz," ucapku saat mereka hampir saja masuk ke dalam mobil. Ummi duduk di belakang sedangkan Kyai sudah duduk di kursi samping pengemudi. Ustadz Zain berhenti melangkah setelah menutup pintu mobil untuk Ummi. Tiga orang yang lainnya -Mas Hasan dan kedua istrinya-, telah masuk di mobil lain.
"Apa selama ini yang mengirimkan barang-barang ke rumah saya adalah Ustadz?" tanyaku padanya. Dia hanya diam, menatapku sekilas.
"Saya hanya ingin memberikannya sebagai ketulusan saya dengan Mbak Ayu," ucapnya.
"Maaf, tapi Ustadz tidak perlu melakukan hal itu, karena jujur saja saya tidak terlalu suka dengan adanya barang pemberian dari seseorang yang bukan siapa-siapa saya. Itu memberatkan buat saya," ucapku dengan nada tegas.
"Saya akan kembalikan pada Ustadz."
"Tidak perlu, anggap saja itu sebagai kenang-kenangan dari saya. Jika suatu saat nanti Mbak Ayu adalah jodoh saya, maka Mbak Ayu tidak perlu mengembalikan semua itu, karena akan kembali pada Mbak Ayu juga."
...***...
__ADS_1
Maafin Othor yang baru update lagi. Kesehatan keluarga sedang tidak baik, dari mulai diri sendiri, bocil dan suami. Belum lagi pekerjaan nyata. 🙏🤧