Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
164, acara di rumah


__ADS_3

Aku semakin menunduk saat Arga mengatakan hal itu tepat di dekat telingaku. Rasanya ada gelenyar aneh yang aku rasakan di dalam dada ini. Wajahku terasa panas sehingga ingin sekali mencari air untuk mendinginkannya kembali.


Arga tersenyum terkekeh melihat aku yang tidak bisa membalas perkataannya. Dia kembali mendekatkan wajahnya dengan memegang kedua bahuku sehingga aku tidak bisa mengelak darinya sama sekali. "Aku gak sabar dengan malam pengantin kita," bisiknya dengan pelan, tapi sukses membuat lututku menjadi lemas.


"Hei, hei. Lagi apa sih, nempel terus? Ini masih banyak tamu di sini, loh. Kok ya malah bisik-bisik sendirian," ujar salah seorang tamu berceletuk, aku tidak tahu siapa, tapi hal itu membuat Arga menjauhkan dirinya dariku dengan wajahnya yang terlihat sangat merah menahan malu. Beberapa orang yang lain tertawa kecil melihat Arga dan aku yang salah tingkah.

__ADS_1


Kami tidak begitu lama di sini, hanya sedikit berfoto mengabadikan momen penting kami hari ini, dan juga menerima salam selamat dari para tetangga dan juga kerabat. Setelah itu kami semua pulang ke rumah, disambung dengan prasmanan yang sudah tersedia di rumah. Tenda kecil yang dipinjam dari kantor desa berserta dengan kursi plastik untuk makan para tamu undangan dari tetangga sekitar kami.


Alhamdulillah, acara hari ini sukses dan juga lancar. Semoga saja acara kami selanjutnya di hari esok pun sama lancar dan tidak ada hambatan sama sekali.


Aku dan Arga duduk di ruang tamu, yang sudah di dekor sederhana oleh WO yang Arga sewa. Kursi pelaminan juga ada di dalam sini untuk kami duduk. Memang hari ini sampai sore nanti aku dan Arga akan menyambut tamu undangan yang datang ke sini dalam acara kami. Seperti biasa pada pernikahan umumnya, yang dilaksanakan di tempat wanita. Ibu bersikeras membuat acara juga di rumah, karena di dalam pemikiran Ibu kami hidup di sini sudah sangat lama dan masyarakat di sini juga sebisa mungkin harus bisa ikut menikmati hari kebahagiaan kami, lagi pula belum tentu semua orang mau datang ke gedung pernikahan, ada kalanya beberapa orang yang tidak datang jika melihat keadaan gedung pernikahan yang sangat mewah karena malu. Hal itu seringkali terjadi jika ada orang yang diundang ke pernikahan seperti itu. Ibu khawatir hal itu juga akan terjadi mengingat kami akan mengadakan pesta di lobi hotel besok hari.

__ADS_1


"Ga, Gara kemana sih?" tanyaku pada Arga, ku alihkan tatapanku pada Arga, ternyata dia sedang senyum-senyum masih menatapku. Aduh! Orang ini, tidak menjawab malah tangannya jahil sekali mencolek pahaku.


"Arga!" bisikku sedikit bicara dengan pelototan mataku, dia tersenyum malu, tapi tidak menghentikan kegiatannya mencolek dan menarik-narik pakaian bagian bawahku, persisi seperti anak kecil yang sedang merengek meminta jajanan pada ibunya.


"Gara kemana? Kok aku gak lihat dia sedari tadi?" tanyaku lagi pada Arga saat dia mulai tersadar.

__ADS_1


"Tidak tahu sedang bersama dengan Papa kali, ucap Arga.


__ADS_2