
Aku dan Ibu masih saja bertanya-tanya soal kedua barang itu, tapi tidak berani juga untuk mengambil tindakan. Sampai ketika semakin hari ada saja barang yang diantar oleh beberapa kurir yang berbeda di setiap harinya. Keperluan wanita adalah barang-barang yang ia kirim untukku, entah apa artinya ini dan apa maksudnya aku tidak tahu. Aku takut ini adalah barang yang diberikan karena ada maksud tertentu. Em, ya ... tentu saja. Aku pikir siapa juga yang mengirimkan barang seperti ini tanpa maksud tertentu, kan?
Hari ini, aku kembali dari mencari pekerjaan. Ternyata perusahaan yang aku sambangi barusan tidak menerima karyawan lagi. Sudah terisi kemarin. Aku belum beruntung ternyata untuk mendapatkan pekerjaan itu.
Jalanan tidak seramai tadi pagi saat aku berangkat kerja, sehingga aku bisa sedikit memacu kendaraan ini agak cepat untuk sampai ke rumah. Tak mendapatkan pekerjaan, aku harus segera pulang dan membuka warungku kembali.
Sampai di rumah, aku lihat ada yang aneh. Beberapa keranjang bunga warna warni berjejer rapi di teras depan dan samping rumah. Merah, putih, pink warna bunga mawar yang bisa aku lihat dengan jelas setelah masuk ke halaman.
"Bu!" panggilku. Helm yang baru saja aku lepas aku simpan di atas kaca spion.
Gegas aku masuk ke dalam rumah dan menemukan Ibu di dapur.
"Bu, itu dari siapa?" tanyaku pada Ibu. Ibu menoleh dan terkejut melihatku.
"Sudah pulang? Gak tau itu dari siapa. Tadi ada kurir dari toko bunga yang antarkan itu kesini," ucap Ibu. Aku segera pergi ke depan lagi. Ku cari satu persatu di dalam keranjang bunga siapa tahu ada nama toko atau kartu, atau apalah. Akan tetapi, dari semua keranjang bunga yang aku hitung lebih dari sepuluh, tidak ada satu tanda pun yang memperlihatkan satu petunjuk.
"Bu, tadi tau tidak nama toko di mobilnya? Mungkin mengirim dengan mobil toko kalau sebanyak ini?" tanyaku setengah berteriak pada Ibu seraya terus mencari sesuatu yang mungkin ada di dalam sana.
"Ibu gak tau," balas Ibu berteriak dari dalam rumah.
Aku terdiam saat tak menemukan apapun lagi di dalam sana. Ku abaikan saja semua itu. Kembali masuk ke dalam rumah.
Siapa sih yang sedari kemarin mengirimiku barang dan bunga?"
Aku penasaran, nama Dokter Wira menjadi tujuanku untuk bertanya.
"Bukan. Saya tidak mengirimkan barang dan bunga yang Mbak Ayu maksud, mana berani saya," ucap suara di seberang sana.
"Saya lebih baik memberikannya langsung sama Mbak Ayu daripada memberikannya lewat tangan orang lain," terangnya. Aku terdiam mendengar ucapannya itu.
"Kira-kira siapa, ya?" gumamku.
__ADS_1
"Apa ada yang mengganggu Mba Ayu?" tanya Dokter Wira lagi.
"Saya gak tau, Dokter. Sedari kemarin ada yang kirim saya barang terus. Baju, sepatu dan sebagainya, hari ini dia ngirim bunga, tidak ada nama pengirimnya. Saya hanya bingung dan sedikit takut saja," keluhku.
"Tapi Mbak Ayu tidak apa-apa, kan? Gak ada orang yang mencurigakan di dekat Mbak Ayu?" tanya Dokter itu terdengar khawatir.
"Kalau di dekat sini sih rasanya tidak ada, tapi saya hanya bingung saja," jawabku.
"Apa saya perlu ke rumah Mbak Ayu?" ucapnya terdengar khawatir.
"Eh, tidak usah. Tidak usah, Dokter. Saya menelepon hanya untuk bertanya saja," ucapku. Duh, malah jadi membuat khawatir orang lain.
"Saya hanya ingin bertanya saja sama Dokter soal ini," ulangku.
"Kalau begitu, jika ada apa-apa tolong Mbak Ayu hubungi saya. Jangan sungkan," ucapnya.
"Terima kasih, Dokter."
Aku menutup panggilan dengan Dokter Wira. Satu nomor lagi yang ingin aku tanyai soal ini. Entah, tapi aku ragu jika dia yang mengirimkannya. Untuk apa? Aku bukan seseorang yang spesial lagi di matanya.
"Iya, ada apa, Yu?" Suara ini sudah cukup lama tidak aku dengar semenjak malam itu saat Gara bicara di telepon.
"Halo? Ayu? Ada apa?" tanya Arga lagi. Aku tersentak karena sedari tadi hanya diam saja.
"Eh, maaf. Aku ganggu ya?" tanyaku.
"Tidak, aku sedang senggang. Ada apa? Tumben telepon?" tanyanya lagi.
"Em ... anu. Aku mau tanya sesuatu." Aku terdiam sejenak. Jika memang dia yang kirim aku tak akan malu, tapi kalau bukan ... harus bagaimana?
"Tanya apa? Gara? Aku sedang ada di luar kota. Gara tidak ikut," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Eh, bukan. Bukan Gara," sanggahku.
"Terus? Gak cari Gara, cari aku? Kangen kah?" kekehnya di kejauhan sana. Ah ya ampun, dada ini berdetak mendengar ucapan terakhirnya.
"Tidak! Aku gak gitu!" ucapku kesal.
"Aku cuma mau tanya. Aku bingung sebenarnya. Ini ... Ada seseorang yang kirimi aku barang dan bunga ke rumah. Aku mau tanya, apa itu dari kamu? Maaf kalau mungkin aku menuduh kamu, tapi aku bingung dari mana semua barang itu," ucapku akhirnya. Dada ini berdetak dengan cepat sekali. Takut jika dia menyangka aku Ge'er terhadapnya.
"Tidak, aku gak kirim apa-apa ke rumah kamu." Suaranya kini terdengar dingin dari pada sebelumnya.
"Mungkin itu dari orang lain. Aku gak akan berani kirim barang atau bunga, karena aku tau kamu pasti tidak akan suka menerima barang-barang seperti itu," ucapnya lagi.
Aku terdiam mendengarnya. Ternyata dia masih ingat dengan hal itu. Arga adalah orang yang loyal, mungkin karena orangtuanya orang yang berada, dia bebas membelanjakan uang. Aku tidak suka saat dia membelikanku macam-macam barang, tidak terbiasa dengan hal itu.
"Oh, ya. Kamu masih ingat," ucapku pelan.
"Ya, aku masih ingat soal hal itu. Memangnya kenapa? Apa ada orang lain yang kirimkan banyak barang buat kamu?" tanya Arga lagi.
"Hem, iya. Aku gak tau siapa yang kirim, tapi dari kemarin barang-barang itu terus saja datang," jelasku. Suara Arga tidak terdengar lagi, tapi hembusan napasnya terdengar sedikit kasar.
"Kalau begitu, maaf aku sudah ganggu kamu," ucapku.
"Aku tutup teleponnya, ya." pamitku lagi.
"Iya. Yu, jaga diri kamu baik-baik. Kalau kamu ada apa-apa, kamu boleh hubungi aku, aku akan bantu kamu," ucap suara di seberang sana. Aku tersenyum sambil memegangi dadaku yang berdentum keras karena perhatiannya.
"Iya, aku akan hati-hati. Terima kasih banyak. Aku tutup teleponnya."
"Iya," ucapnya sebelum aku mematikan telepon.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap hp yang ada di tangan. Layar itu sudah mati, tapi aku tidak mengalihkan pandanganku darinya. Arga dan Dokter Wira. Dua orang laki-laki yang pernah hadir di hidupku. Arga sebagai mantan pacar, dan Dokter Wira sebagai orang yang berharap padaku.
__ADS_1
Hati ini berdesir jika mendengar suara Arga, tapi kami tidak punya hubungan apa-apa, lagi pula selain Ibu tidak suka dengan Arga, duda itu juga tidak menunjukkan tanda-tanda seperti yang Dokter Wira lakukan terhadapku. Ah, aku mikir apa sih? Aku terlalu 'Geer'. Mungkin saja Arga sudah ada calon lain untuk Ibu Gara. Kenapa aku seperti berharap kalau dia akan ....
Jangan berharap dengan apa yang tidak pasti, Yu. Sudah jelas jika Dokter Wira yang sudah menunjukkan sikapnya padamu. Kamu harusnya lebih perhatikan dia daripada pria yang belum tentu jelas perhatikan kamu!