Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
283. Bicara Dengan Ibu


__ADS_3

"Maksudnya apa, Bu? Penipuan apa? Saya gak ngerti," tanyaku padanya.


"Ibu Mas Hilman menipu beberapa warga saya dengan investasi emas bodong!" ucap wanita itu seraya menatapku dengan tajam.


Seketika aku menatap ibu. Bagaimana bisa ibuku melakukan penipuan seperti itu?


"Bu, ini ... kok bisa? Gimana sih? Bener ini?" tanyaku pada ibu, sosok yang melahirkan ku ini hanya menundukkan kepalanya sambil memainkan jemari pada ujung pakaian. Terlihat bingung saat hendak berbicara.


"Itu ... Ibu juga ketipu, Man." Suaranya terdengar lirih dan gemetar.


"Astaghfirullah. Apa yang Ibu lakukan, sih? Ketipu gimana? Kok bisa Ibu ketipu terus dituduh penipu juga?" tanyaku pada ibu. ibu masih menundukkan kepalanya, masih tidak berani menatapku.


"Itu ... Ibu–." Ucapan ibu terpotong saat terdengar suara tangis dari dalam kamar, aku segera meninggalkan ibu dan membuka pintu kamar, terlihat Vita sudah ada di bawah kasur sambil menangis dengan kencang.


"Astaghfirullah, Vita!" Ku ambil anak itu dan menggendongnya, Vita menangis dengan keras. Apakah kepalanya terbentur?


"Cup, Sayang. Sudah ya. Jangan nangis. Ayah sudah pulang," ucapku padanya. Urusanku dengan ibu dan wanita tadi belum selesai sehingga aku kembali pada mereka berdua di ruang tamu. Vita belum berhenti menangis.


"Maaf, Bu. Saya akan bertanya dulu sama ibu saya tentang hal ini. Bisakah ibu pulang terlebih dahulu?" tanyaku. Mungkin kurang sopan karena terkesan mengusir, tapi aku butuh waktu berdua dengan ibu untuk berbicara.


"Saya tidak mau urusan ini menjadi lama, Mas Hilman. Kasihan warga saya," ucap wanita itu.


"Bu, saya juga korban di sini. Saya juga ketipu sama seperti mereka!" ucap ibu dengan seruan. Matanya kini merah dan berkaca-kaca.


"Saya tau, tapi warga saya kan diajak sama Ibu. Ibu yang mengajak mereka, meyakinkan mereka supaya ikut berinvestasi. Sekarang sudah begini kita mau minta tanggung jawab ke siapa? Hanya sama orang yang mengajak yang bisa kita cari, Bu!"

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan debat!" ucapku menengahi. Tidak akan ada akhirnya jika berbicara dengan emosi seperti ini.


"Maaf, Bu. Saya mengerti kesulitan warga ibu, tapi saya mohon sekali dan juga meminta maaf pada ibu atas nama ibu saya. Saya akan bicarakan ini dulu, bagaimana baiknya. Ke depan nanti kita akan bahas lagi bersama," ucapku meyakinkan. Wanita itu diam, hanya menanggapi, tidak menjawab sama sekali. Vita masih menangis dengan tersedu, ku usap punggungnya dengan lembut.


"Ibu tau rumah kami di sini, kami gak mungkin kabur dari tanggung jawab," ucapku lagi, aku menunggu jawaban dari wanita itu.


"Oke, lah. Saya akan pulang dulu. Kapan saya bisa berunding?" tanyanya lagi. Aku berpikir waktu yang tepat, besok waktu ku libur, seharusnya aku gunakan untuk bersama dengan Vita, tapi dengan adanya masalah ini aku yakin tidak bisa pergi keluar.


"Minggu depan. Bagaimana?" tanyaku pada wanita itu.


"Terlalu lama, Mas. Orang-orang sudah tanyakan ini terus, sudah mengajukan keluhan terhadap Ibu Widia. Saya hanya membantu untuk menyelesaikan masalah ini," ucap wanita itu. Aku bingung, ekspor belum selesai, biasanya tiga atau empat hari, tergantung berapa banyak barang yang akan diangkut. Rasanya tidak mungkin jika aku akan bisa pulang sore hari.


"Begini saja, deh. Empat malam lagi, Ibu datang ke sini. Saya akan bicara dengan ibu saya dulu, dan menanyakan sebab semua ini. Bagaimana? Jujur saja saya tidak bisa bertemu siang. Banyak pekerjaan dan tidak bisa ditinggalkan," ucapku padanya.


"Baiklah, saya akan pulang. Empat malam lagi saya akan datang kesini. Jangan sampai rundingan kita nanti sampai saya harus membawa polisi di kemudian hari," ucap wanita itu akhirnya.


"Kita harus bicara, Bu!" ucapku pada ibu dengan tegas dan menarik tangan ibu ke kursi sofa yang ada di sana.


"Bilang sama Hilman, apa yang sudah ibu lakukan. Kenapa bisa ibu melakukan ini?" tanyaku pada ibu dengan menatapnya tajam. Ibu menunduk lagi, tidak bicara maupun menatapku.


"Bu!" Aku membentak, membuat ibu terjengkit dari duduknya dan segera menjawab pertanyaanku.


"Ibu gak sengaja, Hilman!" ucap ibu pada akhirnya sambil mulai menangis. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Jelas sudah jawabannya kini. Ibu mengakui perbuatannya seperti apa yang dituduhkan wanita tadi.


Aku tidak bisa berkata, hanya menyebut nama Allah di dalam gumamanku sambil mengusap wajah dengan kasar, menyandarkan tubuh yang lelah ini dengan lemah pada sandaran kursi.

__ADS_1


"Coba Ibu cerita, gimana bisa Ibu terlibat dengan kasus kayak gini?" tanyaku pada ibu dengan nada yang melembut, sadar dengan sama-sama emosi tidak akan membuat keadaan ini menjadi lebih baik.


Ibu masih menunduk, masih memainkan jemarinya yang gendut di ujung pakaian.


"Bu. Apa yang membuat Ibu terlibat sama ini? Hilman tuh gak mau sampai Ibu masuk penjara gara-gara dilaporkan sama wanita tadi," desakku pada ibu. Aku ingin mendengar ceritanya, yakin sekali jika ada sesuatu di balik ini.


"Ibu ketipu, Man. Ibu cuma mau hidup kita lebih baik, jadi ... Ibu diajak orang lain, berusaha untuk merekrut orang dengan investasi uang jadi emas. Dulu berjalan dengan lancar, kok! Mana Ibu tau kalau sekarang malah kayak gini," ucapnya lagi sambil berderai air mata.


"Siapa? Ibu tau itu orang dari mana? Instansi apa?" tanyaku beruntun, mencoba untuk tetap tenang di kala hati ini rasanya bergejolak marah. Bukan perkara kecil untuk hal ini, apalagi mengganti uang yang telah diambil orang lain.


"Ibu gak tau, Man. Yang Ibu tau, mereka itu dari koperasi. Nabung uang, terus dalam waktu dua bulan jadi emas," ucap ibu. Aku mengusap wajah dengan kasar. Ibu memang bukan wanita dari kalangan terpelajar, pemikirannya tidak seperti aku atau Ayu yang bisa membedakan mana yang masuk akal dan tidak.


"Ibu tau alamat kantornya?" tanyaku lagi. Ibu menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa Ibu bisa percaya sama mereka sih?" Aku mulai geram.


"Dulu waktu Ibu ikutan nabung duit jadi emas ini berhasil, Man. Kamu kira ibu punya cincin dan gelang dari mana? Dari ikutan itu lah! Kapan lagi punya duit sedikit jadi emas?" ucap Ibu.


"Mereka sedang membakar uang, Bu. Berani rugi demi merekrut anggota yang lebih banyak dari yang pertama. Apa Ibu gak mikirin ke sana? Gak masuk akal gitu kalau duit sedikit jadi emas. Berapa sekarang harga emas satu gram? Mana mau mereka nombok besar terus-terusan belanjain uang sedikit untuk beli emas? Emang mereka piara tuyul!" Aku mulai berkata dengan nada yang tinggi. Geram rasanya bicara dengan ibu lama-lama. Memikirkan berapa banyak orang yang dirugikan dengan adanya kejadian ini, dan siapa.juha yang harus bertanggung jawab. Aku!


"Ya Ibu kan mikirnya biar kita cepet banyak duit, Man. Ibu capek miskin terus. Ibu mau bantu kamu juga cari uang."


"Tapi bukan gini juga caranya. Apa Ibu gak berpikir negatifnya? Semua yang berbisnis itu memikirkan positif dan negatifnya, mikir untung dan ruginya. Aaah! Ibu nih ...."


Aku berdiri, semakin emosi pada ibu.


"Ini juga karena bapak dan kakak kamu, Man! Coba kalau mereka gak pergi, Ibu juga gak akan kerja kayak gini!" Ucapan ibu membuat aku menghentikan langkah.

__ADS_1


"Coba saja kalau bapak kamu gak ada main dibelakang Ibu. Dengan kakak ipar kamu sendiri, loh! Mereka main di belakang Ibu selama ini!" teriak ibu dengan menjerit.


__ADS_2