
Aku menunggu. Sudah berpakaian lengkap sedari tadi. Duduk di samping tempat tidur, sedangkan Arga berbaring di belakangku, miring menghadap punggungku dengan satu tangan yang terus mengusap perutku. Sangat nyaman sekali usapan itu dan juga membuat aku rasanya tidak ingin bergerak jauh darinya.
Orang-orang yang ada di luar masih terdengar suaranya, entah mereka berbicara tentang apa, tapi sepertinya sangat seru sekali sehingga terdengar suara tawa dari luaran sana. Aku semakin gelisah, ingin segera pergi ke kamar mandi dan melepaskan sesuatu yang harus dilepaskan.
"Mereka sepertinya belum mau tidur, Yu. Kalau mau ke kamar mandi, lebih baik pergi saja, jangan ditahan. Lihat, ini sudah hampir tengah malam," ujar Arga. Jam yang ada di dinding memang sudah menunjuk angka sebelas. Akan tetapi, aku rasanya malu untuk pergi ke kamar kecil. Lebih tepatnya aku tidak siap untuk mendengar apa yang mungkin akan mereka katakan.
"Mau aku antar?" tanya Arga, dia mengalihkan kepalanya dari bantal, sedikit berputar dan menyimpan kepalanya di pangkuanku, sehingga wajahnya kini sangat dekat sekali dengan perut.
"Tidak perlu. Apa kamu juga mau ke kamar mandi?" tanya ku padanya.
"Enggak. Aku sudah ke kamar mandi tadi," ucap Arga. Aku memanyunkan bibirku. Arga memang tadi sudah pergi ke kamar mandi, dia sepertinya tidak peduli dengan apa yang mereka katakan, abai dengan ejekan dari orang-orang. Berbeda sekali denganku yang pastinya akan sangat malu jika mereka menggoda dan menggangguku.
"Tadi aku ajak kamu gak mau ikut," ujarnya lagi.
"Aku nunggu mereka tidur."
"Gak akan tidur sepertinya, dengar saja di luaran sana. Masih terdengar seru gitu," ujarnya lagi.
__ADS_1
Aku mendengkus kesal. Bisa-bisanya para lelaki begadang, padahal besok ada acara yang harus mereka hadiri.
"Daripada menunggu mereka tidur, lebih baik tidurkan aku saja, yuk!" tuturnya, dia mengedipkan matanya dengan senyum nakal di bibirnya. Aku mendorong kepala Arga lalu berdiri, sampai-sampai Arga menatapku dengan wajah yang protes. Sadar dengan apa yang aku lakukan tadi sepertinya perilaku ku tadi sedikit kasar terhadapnya.
"Maafkan aku. Gak sengaja," ucapku dengan tawa meringis. Arga hanya menatapku kemudian tersenyum kecil. Dia bangkit duduk, menurunkan kakinya ke lantai dan berdiri, berjalan mendekat ke arahku.
"Gak sengaja? Tapi ini sakit, loh!" tunjuknya pada leher. Aku tersenyum, lebih kepada menutupi rasa canggung dan merasa bersalah padanya.
"A-Aku gak sengaja, Ga. kamu tadi ...."
"Kamu harus tanggung jawab, loh! Kalau leherku patah bagaimana?" tanya Arga. Dia terus saja maju, dan aku mundur. Terus mundur sampai punggungku menubruk dinding. Takut, tatapan suamiku sedikit mengerikan dengan sorot mata yang sangat berbeda, sama seperti tadi saat kami ....
Benar saja dugaanku, Mamang, suami Uwak, putra tertua Uwak, serta beberapa kerabat laki-laki yang menolak bermalam di hotel masih ada di ruangan depan tv, tepat di depan pintu kamarku. Aku berjalan dengan pelan, menundukkan tubuhku setengah sebagai tanda hormat saat melewati mereka, sambil tersenyum menahan malu. Tatapan semua orang yang ada di ruangan ini menatapku, membuat langkahku semakin cepat. Ingin menghindar dari tatapan para laki-laki itu.
"Duh, penganten baru belum tidur rupanya. Cepat tidur, besok bisa kesiangan loh. Jangan begadang!" ucap putra tertua Uwak dengan tawa keras. Mamang dan yang lainnya ikut tertawa, membuat aku ingin menghilang saat ini juga.
"Jangan digoda terus, nanti dia malu. Biarin aja mau begadang juga udah sah kok kalau mau ... Uhuk-uhuk!" Uwak terbatuk, tapi aku tahu jika batuk itu mempunyai makna yang lain.
__ADS_1
Langkah kakiku semakin cepat aku lajukan, tidak mau jika candaan mereka terus berlanjut dan membuat aku semakin tidak ingin keluar dari kamarku.
Pintu aku tutup, tidak lupa kali ini aku kunci dengan benar. Arga yang sedang meminkan hp-nya berhenti dan tertawa kecil saat melihat ke arahku.
"Sudah ke kamar mandinya?" tanya Arga masih dengan tawa kecil di bibirnya.
"Sudah," ucapku kesal. Dia masih saja tertawa. Kini menggerakkan tangannya, menepuk tempat di sampingnya.
Aku mendekat, tapi duduk di samping kakinya.
"Kamu kalau aku gak kayak gitu, apa mau pergi ke luar?" Arga tertawa lagi, sedikit lebih keras dari yang tadi. Bisa saja aku memilih tidak keluar tadi dan menahan diri sampai besok pagi.
"Tidur, yuk. Aku ngantuk." Arga menarik tanganku dengan lembut.
Aku masih ragu, takut jika kami akan ....
Akh, antara ingin dan takut!
__ADS_1
Masih sakit!