
Aku kembali berbaring di samping Arga, orang itu kini tertidur dengan sangat cepat. Pastilah karena dia terlihat sangat lelah sekali. Aku hanya memperhatikannya sambil memeluknya, merasakan deru nafasnya yang mengalun dengan teratur.
Raut wajahnya sangat lelah, aku merasa berdosa karena sedari kemarin telah memikirkan hal yang buruk. Padahal jika saja aku bisa berpikir dengan jernih tentu saja aku tidak akan marah terhadap dirinya. Aku masih kurang bisa menyerahkan semua yang ada kepada Yang Maha Kuasa.
Karena memperhatikan dirinya yang tidur, aku juga jadi ikut mengantuk dan kemudian tertidur bersama dengannya.
Kami benar-benar bangun pada siang hari, tepatnya setelah Gara pulang dari sekolahnya. Aku merasa bersalah karena tidak mengurusnya dengan baik, aku juga tidak mengurus Mama pagi ini.
Kami makan siang bersama, Arga terlihat tidak terlalu nyaman saat duduk. Dia juga tidak makan dengan benar.
"Kamu kenapa?" tanyaku kepadanya.
"Sepertinya aku masuk angin," jawabnya.
Setelah makan aku mencoba untuk mengobati Arga, dengan cara mengerok punggungnya dengan menggunakan kayu putih dan juga koin. Biasanya itu berhasil kepadaku jika aku mengalami masuk angin.
"Ini pasti akan sakit," tebak Arga saat aku bahkan belum memulai. Dia sudah melepas kaosnya dan memeluk lututnya. Tatapannya tidak dia alihkan dari koin yang ada di tanganku, menatap dengan ngeri benda tersebut.
"Kalau memang masuk angin tidak akan sakit sama sekali. Anggap saja kalau kamu sedang ditato," ucapku kepadanya.
Aku menyuruhnya untuk berbaring memunggungiku.
__ADS_1
"Jangan keras-keras. Aku tidak tahan sakit," ucapnya padaku dengan memohon.
"Mana ada keras, tenaga wanita itu tidak seberapa daripada tenaga laki-laki," ucapku kepadanya. Perlahan Aku membubuhkan kayu putih ke punggungnya dan mulai mengeroknya dengan perlahan. Arga tidak bisa diam saat koin itu mengenai kulit punggungnya. Dia bergerak-gerak tidak nyaman, baru beberapa kali goresan saja kulitnya sudah memerah.
"Aww. Ini sakit!" ucapnya berseru lalu memohon ampun. Dia tidak bisa berhenti bergerak saat aku kembali menyentuh kulitnya dengan koin, padahal aku tidak melakukannya dengan keras-keras. Kulit putihnya kini menjadi belang karena goresan artistik ku.
"Apa kamu mau menyiksa aku?" tanyanya dengan kesal.
"Aku tidak ingin menyiksa kamu hanya saja aku sedang membantu mengobati kamu," jawabku dengan santai.
"Aku mohon sudah hentikan!" teriak Arga. Laki-laki itu terus menggeliat di bawahku. Aku yang duduk di atasnya menekan punggungnya sedikit keras dengan satu tangan yang lain tetap menggerakkan koin itu di atas kulitnya. Rasanya menyenangkan sekali melihat seorang laki-laki yang memukul-mukul kasur berteriak minta ampun. Bukannya segera turun dari atas tubuhnya, aku semakin senang melakukannya di sana.
Mungkin saja Arga sudah tidak tahan sehingga dia memaksakan diri untuk bangkit membuat aku terjengkang ke belakang. Untung saja di atas kasur yang empuk kalau tidak tentu saja kepala ini akan benjol.
"Arga, kamu tega aku sampai jatuh seperti ini!" ucapku berseru dengan kesal sambil bangun.
Wajah harga terlihat merah dia membantuku membereskan rambutku yang berantakan.
"Aku sudah tidak tahan, biarkan saja kalau aku masuk angin yang penting tidak di kerok," ucapnya.
"Haha." Aku tertawa geli melihat wajahnya yang ketakutan seperti itu.
__ADS_1
"Ini tidak sakit, Arga. Bakalan enak kalau semuanya sudah dikerok. Sini itu belum selesai semua!" Aku turun dari atas kasur dan mengejarnya sambil mengangkat koin yang ada di tanganku. Masih belum puas aku masih ingin mengerok punggungnya.
"Tida. Aku tidak mau!" teriak Arga berlari menjauh dariku. Aku tidak ingin melepaskannya, itung-itung ini adalah balas dendam karena ulahnya kemarin yang tidak mengabariku sama sekali. Aku kesal dan marah sampai-sampai tidak bisa tidur semalaman.
Aku terus mengejarnya dengan tidak menyerah sama sekali. Akan tetapi, kemudian pria itu berhenti dan merentangkan tangannya menangkapku ke dalam pelukannya. Dia merebut koin itu dariku dan melemparkannya dengan asal ke lantai, sehingga aku tidak tahu di mana benda itu menggelinding.
"Apa kamu sengaja ingin menyiksaku hah?" tanya Arga kepadaku.
"Tidak. Aku tidak ingin menyiksa kamu. Aku hanya ingin membantu kamu supaya sembuh."
"Aku tidak akan sembuh kalau hanya dikerok saja. Tapi aku akan sembuh dengan yang lainnya," ucapnya kini terdengar menyeramkan.
Arga menarik tubuhku kembali ke atas ranjang dan menghempaskan tubuhku lumayan keras. Tidak menunggu lama dia menindih tubuhku dan menahan kedua tanganku di atas kepala. Aku menggeliat, mencoba untuk melepaskan diri darinya. Akan tetapi, dia sepertinya tidak ingin melepaskanku sama sekali, tatapan matanya sangat tajam dengan senyum menyeringai terlihat pada bibirnya.
Aku menjadi takut sendiri, bukankah aku sedang menggali kuburanku sendiri. Bisa-bisanya laki-laki ini memperlakukan aku seperti ini.
"Arga, apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan menatapnya ngeri.
Dia tersenyum dengan sangat lebar, dan menatapku seperti pada malam-malam sebelumnya.
"Aku hanya ingin mencari obat ku sendiri bukankah dengan olahraga, aku akan menjadi sangat sehat?" tanyanya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya, tapi bukan dengan olahraga yang seperti ini juga," ucapku tidak mau kalah. Aku mencoba untuk melepaskan diri darinya. Menggerakkan seluruh tubuhku dengan kuat. akan tetapi, cengkraman laki-laki itu pada tubuhku sangat kuat sekali. Aku tidak bisa mundur, aku juga tidak bisa melepaskan diri. Apakah aku harus pasrah sekali lagi?