
Semalaman Dewi tidak bisa tidur karena rasa gatal yang menderanya. Aku merasa kasihan sekali kepada dia. Sedikit-sedikit menggaruk tangannya sampai lecet seperti itu. Vita malam ini tidur bersama ibu, supaya aku bisa mengurus Dewi dengan baik. Yang aku bisa hanyalah membantu mengobatinya.
"Aku nggak papa mas, kamu tidur aja kan besok kerja," ucapnya. Ini memang sudah jam satu malam.
"Gimana aku bisa tidur kalau kamunya saja kayak gitu."
"Kalau gitu aku tidur di kamar sebelah aja deh, biar kamu bisa tidur di sini."
Dewi hendak bangkit dan mengambil bantal.
"Eh ngapain kamu tidur di kamar sebelah?" tanyaku dengan berang.
"Lo, katanya kamu nggak bisa tidur. Biar aku tidur di kamar sebelah aja biar kamu bisa tidur nyenyak," ucapnya lagi.
Rasanya aku gregetan sekali kepada dia. "Maksudku gak gitu juga, bukan berarti aku nggak bisa tidur gara-gara kamu garuk-garuk. Tapi aku nggak bisa tidur karena aku khawatir!" ucapku dengan kesal.
"Ooh, aku kira kamu nggak bisa tidur karena aku gatal-gatal gini," ujarnya sampai tertawa terkekeh.
"Sini aku bantu usap-usap deh, jangan digaruk terus nanti kalau jadi tambah lecet gimana?" Iba sekali melihatnya seperti ini. Sedari tadi selepas isya aku akan mengajaknya ke klinik, tapi Dewi menolak karena dia mengira gatalnya ini tidak akan lama.
"Kamu sih bandel diajak ke klinik nggak mau!" ucapku dengan kesal. "Apa salahnya sih nurut sama suami, suami itu kan sayang sama kamu. Biar nggak sakit, ini diobatin malah nggak mau!"
Dewi cemberut saat aku mengatakan itu. "Ya udah, jangan marah-marah juga. Aku kan nggak mau karena biasanya emang obat itu udah manjur," ucapnya berkata dengan kesal. Dia semakin cemberut seraya terus mengusap tangannya yang sudah memerah.
"Aku nggak marah, cuma bilangin kamu aja."
"Nggak ada bedanya! Kamu bilangin sama kamu marah itu sama aja nadanya."
"Duh Gusti! Suamimu ini harus bagaimana, Sayang? Aku udah lemah lembut, aku udah perhatian, masih saja kamu tolak. Coba bilang aku itu harus bagaimana biar kamu nggak menyangka aku marah-marah?" tanyaku kepada dia dengan nada suara yang super super lembut sekali seperti seorang guru yang sedang berbicara dengan anak didik yang masih TK.
__ADS_1
Dewi kini menundukkan kepalanya, sepertinya dia masih merasa kesal. Padahal jelas aku tidak pernah marah terhadapnya, hanya mengomel sedikit wajarlah. Itu juga untuk kebaikan dia.
"Apa menurut kamu aku marah? Aku seperti ini karena khawatir. Khawatir kalau kamu tidak bisa istirahat dengan baik. Khawatir kalau kamu kesakitan. Aku nggak bisa nolongin kamu selain bawa kamu ke dokter. Yang kamu rasakan sakit itu aku nggak bisa rasain, makanya aku bilang sama kamu ayo kita ke klinik sedari tadi sore. Kamunya yang tidak mau," ucapku kali ini dengan lemah lembut. Aku menatap dia, tangannya masih bergerak mengusap tangan dengan area yang sudah berwarna merah.
"Iya maaf, aku yang salah. Besok-besok aku akan nurut sama kamu. Kalau besok pagi nggak sembuh juga aku mau pergi ke klinik."
"Sama siapa perginya?" tanyaku pada Dewi.
"Ya suamiku kerja aku berarti berangkat sendiri," ucapnya dengan pelan.
"Nah kan. Kan kalau dari tadi berangkat bisa aku, suamimu yang nganterin. Besok kalau aku kerja siapa yang nganterin orang lain!" ucapku dengan penekanan nada pada kata 'suamimu'.
Dewi menatapku dengan kesal, tapi wajah itu membuatku semakin ingin menciumnya saja. Sedari kemarin hanya merasai bibirnya, belum merasakan yang lain-lain.
Ah, memikirkan bibirnya yang manis membuat aku merasa pusing. Pusing kepala atas dan bawah, bagaimana aku bisa menahannya setelah hampir dua tahun menduda dan sekarang mempunyai istri tapi tidak bisa aku sentuh.
"Selesai apa?" Dia balik bertanya, wajahnya terlihat bingung. Oh, bisakah dia tidak perlu berwajah seperti itu? Mengesalkan sekali karena dia terlalu imut.
"Itu … kita ina inu."
"Heh? Ina inu apa?" Dia bertanya dengan tidak mengerti.
Aku tersenyum menyeringai, mencubit lengannya tapi tidak sampai dia kesakitan. "Ah kamu mah kebangetan polosnya, jangan terlalu polos ngapa?" ucapku dengan malu.
"Masa aku harus bilang kalau aku pengen main bola sodok? Nanti kalau kamu kaget gimana aku bilang kayak gitu?" tanyaku dengan tersenyum menjahilinya.
"Ih, Mas. Ngomongnya kok jorok kayak gitu!"
"Jorok dari mana? Aku kan cuma bilang main bola sodok, kalau seperti yang di novel-novel disebutin secara eksplisit tentunya nanti ada bintang-bintang bertebaran, aku nggak mau nyebutin kata jorok kayak gitu nanti kasihan sama membaca kalau sampai novel ini banyak bintangnya, othornya harus revisi kata berbintang nanti," ucapku yang membuat dia melongo tidak mengerti.
__ADS_1
Dewi menggelengkan kepalanya. "Nggak ngerti, kamu itu ngomong apa sih sampai bintang-bintang, author segala? Ngomongin apa sih aku nggak ngerti deh!" ucapnya dengan masih bingung.
"Oh iya kamu kayaknya kurang berpengalaman juga soal itu. Coba deh tanya sama Ayu, kalau eksplisit pasti banyak bintang-bintang dia bakalan susah revisinya," ucapku menyuruhnya. Dewi terlihat semakin tidak mengerti. Lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Tau deh ah kamu ngomong apa, aku nggak ngerti yang kamu mau omongin barusan. Bikin pusing. Kalau kamu pengen olahraga malam aku nggak bisa sekarang, ini masih merah biasanya sekitar tiga hari lagi," ucapnya. Aku menatapnya, mengeluarkan sorot mata anak kucing yang ingin disayang induknya.
"Emangnya nggak bisa lebih cepat lagi ya? Dari kemarin udah nggak tahan nih, apalagi kalau malam sekarang tersentuh sama bagian belakang kamu rasanya pengen 'eughhh!!' aja," ucapku.
Dewi memukul lenganku cukup keras. "Emangnya kamu pikir ini kayak cuci baju, diperas terus kering gitu? Enggak lah. Sabar kenapa sih, aku aja udah pengen tapi nggak bisa!" ucapnya dengan jelas lalu dia menutup mulutnya, mengalihkan tatapannya dariku.
Aku tersenyum jahil, mendekatkan wajahku padanya. "Yeee, sudah nggak tahan juga ini ya. Pengen juga ya?" tanyaku menggoda dia.
"Ya kan namanya juga kita udah nikah pasti pengen lah, siapa juga yang nggak pengen. Cuma nanti kalau kita main pelan-pelan saja ya. Aku takut soalnya, nanti kalau berdarah terus nggak berhenti bagaimana?" tanya dia.
Ya ampun, apakah dia sepolos itu?
"Kamu tahu kayak gitu dari mana? Siapa yang bilang kalau malam pertama berdarah terus nggak berhenti?" tanyaku padanya.
"Ani yang bilang. Dulu pas dia nikah cerita kayak gitu, katanya berdarah banyak. Gimana nanti kalau aku juga berdarah terus nggak berhenti?" tanya dia lagi.
Aku menggelengkan kepala mendengar pernyataan darinya. Sungguh keterlaluan sekali si Ani. Cerita dia sangat hiperbola. Sebanyak-banyaknya darah yang keluar dari hasil malam pertama tidak akan terlalu banyak juga paling hanya sedikit mengotori sprei. Setidaknya itu yang aku tahu setelah dua kali pernikahan.
Eh, betewe, aku baru sadar kalau aku sudah menikah ketiga kalinya dengan perawan semua. Hehe, jebol pintu gerbang lagi, deh. Aseeekkk!!!
...****...
Nah, Man. Enak banget kamu nikah tiga kali dapat perawan semua. 🙄
Ternyata di balik sengsaranya kamu enak kan, bikin jebol gawang anak orang terus.
__ADS_1