
Ah, apa yang aku pikirkan? Apakah mungkin Dewi mau denganku yang hanya seorang buruh pabrik? Aku seorang duda dengan satu anak yang kurang sehat, juga menanggung hidup orang tua. Dan lagi, apakah Dewi mau mempunyai mertua yang seperti ibu? Apalagi dengan keadaan yang sekarang ini, masalah di dalam hidup kami bukanlah hal yang ringan.
Aku mengalihkan tatapanku dari Dewi. Dia biasa saja, kulitnya sawo matang, tidak terlalu tinggi, kurus, tapi wajahnya jika diperhatikan dengan seksama cukup manis juga. Apalagi dengan adanya tahi lalat kecil yang ada di bawah dekat matanya. Senang sekali aku melihat titik hitam itu di sana.
"Eh, iya. Apa kamu masih lama di sini?" tanya Dewi kepada ku.
"Enggak kok, sebentar lagi pulang, kami belum makan. Kalian mau pulang?" tanyaku padanya.
"Sebentar lagi, Cio masih belum mainan, tadi nunjuk itu." Dewi menunjuk ke sebuah tempat di mana ada seorang pria dan beberapa anak yang tengah bermain pancingan ikan plastik maupun ikan kecil tak jauh dari tempat kami berada.
“Kami ke sana dulu, deh,” ucap Dewi seraya berdiri. “Vita mau aku ajak sekalian boleh, gak? Sebentar aja. Atau, kamu mau langsung makan?” tanya Dewi kepadaku.
“Ah, gak juga. Silakan aja kalau mau ajak Vita. Ini uangnya,” ucapku seraya mengeluarkan uang dari saku bajuku.
“Sudah, aku aja yang bayar. Gak seberapa, kok.” Dewi tersenyum, lantas membawa Vita dan keponakannya pergi dari dekatku. Mereka bertiga berjalan ke depan menuju tempat permainan pancingan. Dari tempat ku kini, ku lihat Vita tertawa dengan riangnya, terlihat sangat menggemaskan sekali. Berbeda jika sedang bersama dengan ibu, Vita tidak tertawa selepas ini.
Duh, hatiku sedikit aneh melihat interaksi Vita dengan Dewi. Rasanya tidak karuan, tapi aku tidak tahu ini semacam perasaan apa.
Hampir setengah jam mereka mainan air dan pancingan, aku mendekat untuk membawa Vita makan.
Dewi juga memutuskan untuk selesai dengan permainannya, mengajak keponakannya untuk selesai.
"Pulangnya kalian pakai apa?" tanyaku saat kami berjalan bersama menuju area pintu keluar yang tidak jauh dari sini.
"Kami pake angkot aja, sih."
"Bareng aku aja gimana? Pake motor, kan searah juga."
"Gak enak, Man. Repotin," ucap Dewi.
"Gak apa-apa, kan kita tetanggaan. Masa ketemu di sini ditinggal gitu aja, lagian motor juga muat kok untuk berempat. Ya ... sebenarnya aku mau minta tolong juga sih. Takut nanti Vita ketiduran di motor aku agak susah, hehe," ucapku malu, berbicara yang sesungguhnya. Sedikit susah membawa Vita saat anak itu tertidur karena aku harus menyangga kepalanya dengan satu tangan sedangkan satu tangan yang lain memegang setir motor. Agak bahaya apalagi ini sudah malam meski jalanan sepi.
"I-iya, deh," ucap Dewi, terdengar nada keberatan dari yang aku tangkap, tapi dia tidak menolak juga.
__ADS_1
"Makan dulu, yuk. Aku traktir." Aku tidak menunggu jawaban Dewi, sengaja menarik tangannya untuk menuju tempat makan yang ada di pinggir jalan di depan taman tersebut. Tahu jika hanya menunggu jawabannya dia pasti menolak.
Entah kenapa, senyum terbit di bibirku. Telapak tangannya hangat sekali. Jelas sudah sangat lama aku tidak menyentuh perempuan selain putriku dan ibu semenjak perceraian ku dengan Hana. Duh, dadaku rasanya dag-dig-dug.
Tempat ini lumayan ramai, beruntung masih ada tempat lesehan yang tersedia. Kami duduk di atas karpet yang telah disediakan dengan meja pendek di sini.
"Kamu mau makan apa, Mbak?" tanyaku pada Dewi. Dewi hanya diam belum menjawab sehingga aku memutuskan untuk bertanya kepada Cio.
"Cio mau makan apa?" tanyaku pada anak laki-laki kecil itu.
"Ayam," jawab anak itu malu.
"Kamu, Mbak? Mau pesan apa?" tanyaku kembali pada Dewi.
"Sama dengan Cio saja, deh. Aku berdua saja sama Cio, takut gak habis Cio makan. Sayang," ucapnya. Aku tidak setuju dengan itu sehingga aku menolaknya.
"Enggak lah, masa satu berdua. Mana kenyang. Ini titip Vita dulu, aku mau pesan." Vita aku alihkan padanya, kemudian pergi ke penjual untuk memesan makanan.
Empat porsi makanan kini tersedia di depan kami, nasi dan ayam goreng lengkap dengan lalap dan juga sambel. Sedangkan untuk Vita aku memesankan ikan lele supaya mudah saat dikunyah.
Kami melanjutkan makan. Di sini aku jadi berpikir, kami seperti keluarga kecil dengan dua anak, laki-laki dan perempuan. Rasanya hati ini menjadi hangat dan tiba-tiba saja menginginkan hal seperti itu. Ku lirik Dewi yang lebih memprioritaskan Vita daripada dirinya sendiri, lebih banyak menyuapi anak itu dan mengabaikan makanan miliknya.
Ah, dengan keadaan yang seperti ini aku jadi semakin ingin bertanya saja pada Dewi.
"Vita biar aku yang kasih makan, kamu belum makan dari tadi," ucapku seraya mengulurkan tangan meminta putriku. Akan tetapi, kali ini Vita yang tidak mau, dia tetap berada di pangkuan Dewi dan memegang erat tangan wanita itu yang melingkar di perutnya.
"Sudahlah, biarkan saja, Vita gak mau. Sudah ini aku juga makan, kok. Takut kalau tanganku panas, Man."
Aku tersenyum senang akan perhatiannya pada Vita, jika di lihat dia sangat tulus menjaga anak itu.
Selesai makan, kami pulang. Dewi di belakang bersama dengan Vita, sedangkan di depanku ada Cio. Aku tidak pernah menaiki motor dengan wanita lain kecuali dengan Ayu dulu, saat kami masih hidup bersama belum memiliki mobil. Jadi teringat dan juga sedih mengingat kebersamaan kami dulu.
Tidak sampai setengah jam, kami sudah sampai di rumah. Dewi menunggu aku memasukkan motor, kemudian aku kembali untuk mengambil Vita yang sudah tertidur dengan lelap.
__ADS_1
"Terima kasih, ya. Sudah bantu pegangin Vita," ucapku kepadanya.
"Aku juga terima kasih udah diajak makan dan diantar pulang," ucapnya.
"Mainan Vita juga terima kasih."
Dewi menunduk, terlihat seperti malu. "Malah jadi saling ucapin terima kasih, sih. Aku pulang dulu, ya. Sudha malam, Cio juga sudah ngantuk kayaknya," ucapnya sambil tersenyum, tapi terlihat kaku.
"Eh, iya. Aku juga. Selamat malam," ucapku padanya.
"Malam."
Kami tidak saling berbalasan lagi, Dewi dan Cio mulai melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang hanya terhalang satu rumah di samping kiri rumahku.
Ku lihat mereka hingga masuk ke rumahnya. Dewi menganggukkan kepalanya sebelum menutup pintu dan aku membalas dengan anggukkan kepala juga.
Aku pun masuk ke dalam rumah yang selalu sepi. Lampu masih menyala, ibu masih menonton tv.
"Dari mana kalian?" tanya ibu dengan nada yang terdengar ketus.
"Cuma dari taman. Nih Hilman bawakan pecel lele." Aku menyimpan satu bungkus kresek di atas meja.
"Pecel lele, seafood napa?" ucap ibu terdengar mengesalkan.
"Bersyukur segitu juga Hilman ingat beli buat Ibu," ucapku lalu masuk ke dalam rumah, tidak mau mendengar ocehan ibu dengan apa yang aku bawa.
Huh. Dasar ibu! Ayu saja dulu tidak pernah mengeluh dengan apa yang aku bawakan meski hanya sekedar gorengan.
Vita aku tidurkan di atas kasur, jaket tebalnya aku buka dengan perlahan supaya dia tidak terganggu tidurnya. Setelah itu aku membaringkan diri di samping Vita. Lelah tubuh ini, lelah pikiran ini jika sampai di rumah. Rasanya terkadang ingin pergi saja, tapi aku tidak tega juga jika meninggalkan ibu sendiri di sini.
Sampai tengah malam aku tidak bisa tidur, bingung juga aku memikirkan apa. Jika pun aku memikirkan masalah yang tengah kami hadapi sekarang ini harusnya aku kesal, tapi aku malah senyum-senyum tidak karuan dan mengingat Dewi.
Argghhhh! Apa yang aku pikirkan? Apakah hatiku ini sudah mulai terbuka lagi kepada wanita lain?
__ADS_1
Dewi? Benarkah aku menginginkan dia?