Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
325. Manisnya Sebuah Hubungan


__ADS_3

Dewi sudah lebih baik dari sakitnya semalam, pagi ini dia tidak terlalu merasakan gatal-gatal lagi di tubuhnya. Rasanya aku mengantuk sekali karena menemani dia semalaman. Meski dia menyuruhku untuk tidur tapi aku tidak tega juga. Masa aku enak-enakan tidur sedangkan dia sedang sakit seperti itu.


Rasa kantuk tidak bisa aku tahan, beberapa kali menguap saat sarapan. Aku meminta Dewi membuatkan kopi hitam tanpa gula. Rasanya aku butuh sekali hari ini. Kepalaku juga rasanya sedikit pusing.


"Wi! Dewi!" teriak suara seseorang yang aku kenal, ibu mengetuk pintu depan. Gegas istriku yang sedang mencuci piring setengah berlari ke depan. Ibu bersama Vita terlihat mendekatkan arahku.


Tiba-tiba saja Ibu memukul pundakku dengan sedikit keras. Aku menatapnya tidak mengerti, dipukul tanpa sebab.


"Kamu ini kenapa biarin Dewi cuci piring? Kalau kulit kena alergi kayak gitu nggak boleh dulu kena air!" ucap wanita yang telah melahirkanku ini. Semakin bawel aku rasa di saat umurnya yang semakin tahun semakin bertambah.


"Eh, Hilman nggak paham soal begituan," pungkas ku sambil mengelus lengan yang sakit ini.


"Kamu sudah tua masa nggak tahu soal sakit alergi kayak gini. Yang kamu tahu itu apa?" cerca ibu kepadaku. Eh, kenapa malah aku yang kena marah?


"Sudah Dewi kamu duduk saja di sana. Biar ibu yang akan cuci piring, kalau bisa kamu suapin saja Vita," ucap ibu lagi menarik tangan Dewi. 


"Nggak apa-apa kok Bu, lagian juga ini nyuci piring cuma sedikit kok," tolaknya.


"Sedikit juga tetap aja tangan kamu kena air dan sabun. Sudah sana kamu duduk aja suapin Vita, dia dari tadi nggak mau sarapan!" ucap ibu dengan nada yang tinggi, tapi aku tahu jika Ibu tidak marah seperti itu.


Akhirnya dia mengambil Vita yang aku pangku, kuambil piring dan sayur bayam yang kebetulan tadi Dewi masak, aku sodorkan piring itu kepadanya. Dia mulai merayu Vita untuk makan. Caranya membujuk anak itu terlihat sangat halus sekali. Tidak memaksa dan penuh dengan kesabaran. Tidak salah aku menjadikannya sebagai istriku.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Sudah waktunya aku untuk berangkat ke pabrik. Kopi terakhir aku minum hingga menyisakan dedak di dalam gelas.


"Hilman berangkat kerja dulu ya, Bu. Sayang, aku pergi kerja dulu. Vita, ayah pergi dadah." Aku pamit pada semua orang, tidak lupa dengan mencium kening mereka satu persatu. Jangan sampai ada yang terlewat sampai salah satu dari mereka iri, karena di sini aku orang yang paling tampan sendirian. Hehe.

__ADS_1


"Hati-hati berangkatnya, ayah. Jangan melamun di jalan, nanti kalau sudah sampai kasih kabar sama bunda," ucap Dewi seperti itu setiap hari. Selalu memberikan doa dan menjagaku untuk memberinya pesan jika sudah sampai di pabrik.


Sebenarnya badan ini lelah sekali, ingin hanya rebahan di rumah tapi tentu saja tidak mungkin. Ada banyak mulut yang harus aku beri makan. Ada tunggakan yang harus aku bayar.


Dengan penuh semangat aku melajukan motorku ke jalan yang ramai. Seperti biasa saat berangkat bekerja memang seperti ini, seringkali terjadi kemacetan. Aku heran kenapa akhir-akhir ini sangat banyak motor yang berjejalan di jalan raya. Padahal seingatku dulu tidak pernah sampai macet seperti ini.


Hampir satu jam aku sampai di pabrik, mengisi kehadiran dengan alat scan pada kartu karyawan yang aku pakai di leher. Jangan sampai kartu ini hilang karena untuk mengurusnya kembali tidak terlalu mudah. Sebenarnya yang tidak mudah itu karena menghadapi seseorang di kantor, pastinya dia akan bawel dan terus berbicara panjang lebar mengatakan jika tidak hati-hati dan juga sebagainya. Mengancam jika suatu saat kartu itu hilang lagi maka karyawan tidak bisa lagi membuatnya. Padahal itu hanya alasannya saja, aku pikir orang kantoran sana nyatanya malas untuk membuat kartu tersebut.


Aku paham soal kinerja di perusahaan, karena dulu aku pun sama seperti itu.


Sama seperti hari sebelumnya pekerjaanku di pabrik hanya itu-itu saja, tidak ada yang aneh, hanya mengecek dan menghitung barang, barang masuk dan keluar harus dicatat, jika catatan dan barang tidak sama harus mencari barang tersebut ke seluruh divisi, mungkin saja ada satu atau dua yang nyasar. Jika sudah seperti itu keadaannya, aku menjadi pusing sendiri. Kalaupun ada yang mengantarkannya sih enak, kalau tidak ada tentu saja satu per satu tempat harus didatangi.


Jam pulang bekerja sudah berbunyi, sudah dua hari aku tidak mengojek. Terasa sekali jika tanpa ngojek pendapatanku sangat sedikit sekali. Harus serba irit karena hanya mengandalkan gaji dari pabrik saja.


"Iya tapi ambil orderannya jangan yang jauh-jauh, nanti kamu capek," ucapnya dengan nada terdengar khawatir.


"Iya aku pasti akan hati-hati dan cuma ngambil yang dekat-dekat saja, kamu nanti mau aku bawain apa kalau pulang?" tanyaku lagi padanya. Sebagai wujud untuk merayu dia karena sudah mengijinkan aku untuk pergi mengojek.


"Nggak perlu. Kamu pulang dengan selamat saja aku udah senang," ucapnya, begitu baiknya istriku ini. Aku senang karena dia selalu mendoakanku.


Jam sembilan malam aku sudah sampai di rumah. Rasanya sungguh sangat lelah, tapi semua ini harus aku jalani dengan baik dan juga sabar. Allah sudah memberikan rezeki kepadaku yang berlimpah, dengan bekerja di pabrik, ngojek, dan juga memiliki istri yang pengertian.


Dewi masih belum tidur saat aku masuk ke dalam rumah, terlihat dia sedang mengantuk di kursi, duduk di depan TV yang menyala. Makanan berserakan di atas meja. Paling banyak jajanan Vita.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawabnya. Dia bergegas bangkit dan mendekat kepadaku, tangannya terulur meraih dan mencium punggung tanganku.


"Kok tumben malam pulangnya? Biasanya jam delapan sudah pulang." Dia bertanya dengan nada yang sedikit kesal.


"Iya tadi aku ngojek, lumayan dapat tiga orderan. Terus pas pulang ternyata satu arah sama aku, rada lebih sedikit tuh di jalan ujung sana. Jadi ya pulangnya rada telat deh," ucapku kepadanya. "Vita sudah tidur?" tanyanya padaku. Dewi menganggukkan kepala.


"Sebentar aku siapin dulu air mandinya, tadi aku udah siapin tapi kamunya lama nggak pulang jadi kayaknya udah dingin lagi deh." Dewi lalu pergi ke arah dapur. Terdengar suara kompor yang dia nyalakan. Aku memilih pergi ke dalam kamar, menemui putri kecilku yang sedang tertidur lelap.


Vita memang terkadang tidur di sini atau di rumah ibu, jika dia sedang rewel aku akan membawanya ke sini, tapi jika dia sedang baik ibu akan membawanya ke sana. Sebenarnya kasihan juga Ibu di sana sendirian, tapi Ibu juga tidak mau jika tinggal di sini.


"Mas, mau makan dulu?" tanya Dewi yang masuk ke dalam kamar.


"Kamu sudah makan belum?" Aku balik bertanya dengan curiga, takut jika seperti biasanya dia tidak makan jika tidak bersamaku.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Aku nungguin kamu pulang jadi belum makan."


Kutarik tangannya dan membuat dia duduk di pangkuanku. Memeluknya dengan alat dari samping dan merupakan kepalaku pada bahunya.


"Kamu itu kenapa sih, kalau malam itu makan duluan nggak usah nungguin aku pulang. Nanti kalau sakit siapa juga yang rasa?" tanyaku padanya.


Dewi menggeleng pelan. "Dulu aku terbiasa makan sendiri, sekarang aku nggak biasa. Jadi kalau makan sendiri nggak enak," ucapnya sambil tersenyum. Dia melingkarkan tangannya pada bahuku. Mendekat dan mengecup keningku dengan lembut.


"Kalau enak makan itu sama suami, bisa disuapin juga," ucapnya tersenyum manis.


"Dasar manja!" cercaku seraya menjepit hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2